Perombakan kabinet

Angkat Wamen, Presiden Takut Partai Pendukung

Kompas.com - 17/10/2011, 23:09 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Keputusan pengangkatan 19 wakil menteri, diduga merupakan bentuk ketakutan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap partai politik pendukungnya.

Wakil menteri diangkat, karena Presiden tidak berani mengganti menteri dari parpol, meski kinerjanya kurang baik.

Pendapat itu disampaikan anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Dewan Perwakilan Rakyat, Ganjar Pranowo, di Jakarta, Senin (17/10/2011).

"Dugaan saya, Presiden ketakukan dengan partai-partai pendukung. Enggak berani motong orang partai, maka diciptakanlah wakil menteri," katanya.

Wakil menteri itulah yang diharapkan dapat bekerja melaksanakan program pemerintah dengan baik. Posisi wakil menteri itu ditetapkan, karena menteri dianggap kurang mampu bekerja sesuai dengan harapan Presiden.

Meski kinerjanya kurang baik, lanjut Ganjar, Presiden tidak mau mengganti menteri, karena takut menyinggung partai politik pendukung.

"Saya berspekulasi di situ, kalau menterinya dicopot, nanti partai marah-marah," ujar Ganjar yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi II DPR tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau