Perombakan kabinet

Dicopot dari Wamendiknas, Fasli Kembali Jadi Dosen

Kompas.com - 19/10/2011, 12:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas)  Fasli Jalal turut menjadi bagian dari perombakan Kabinet Indonesia Bersatu II yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Fasli mengaku sudah mengetahui bahwa ia akan dicopot sebagai Wamendiknas sebelum Presiden menyampaikan pidato kenegaraannya, Selasa (18/10/2011) malam.

Setelah meninggalkan jabatannya, Fasli akan kembali menjadi seorang profesional dan kembali mengajar. Saat ini, ia hanya ingin kembali menjadi seorang profesional dan kembali terjun ke institusi pendidikan sebagai dosen di Universitas Andalas Padang, serta membantu PAUD di Universitas Negeri Jakarta dan membantu membimbing mahasiswa S-3 Institut Pertanian Bogor di bidang Gizi Masyarakat.

"Saya kembali seperti yang selama ini sudah saya lakukan," kata Fasli kepada Kompas.com, Rabu.

Ia mengatakan, sebagai seorang birokrat, harus selalu siap ketika diminta untuk menjabat suatu posisi, menunggu, ataupun ketika harus dinonaktifkan dari jabatan tertentu.

"Semua ada masanya. Sebagai profesional, saya akan kembali menjadi dosen," ujarnya. Fasli mengatakan, yang terpenting adalah pembangunan pendidikan harus terus berjalan. Ia menambahkan, hal utama yang harus dikerjakan oleh tim baru di Kemdiknas (saat ini menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) adalah terus merealisasikan amanat Undang-Undang Dasar 1945 tentang pendidikan dasar sembilan tahun yang bermutu dan bebas biaya.

"Daerah itu bervariasi sehingga akses terhadap pendidikan itu yang harus terus diupayakan," ujarnya.

Pemerintah, kata Fasli, juga harus berupaya merealisasikan pendidikan dasar sembilan tahun yang bebas biaya. Setidaknya, kata dia, pemerintah harus menyediakan tempat belajar yang aman dan nyaman sehingga jam sekolah memungkinkan anak-anak untuk mengeksplorasi serta mengekspresikan semua minat, bakat, dan keunikannya.

"Instrumen seperti bantuan operasional sekolah (BOS) dan peningkatan mutu tenaga pendidik saya pikir juga perlu terus ditingkatkan," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau