Jangan Hanya Bicara, Tangkap Perampoknya

Kompas.com - 20/10/2011, 15:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinilai mengulangi kebiasaannya yang berwacana terkait dengan pernyataan bahwa ada perampokan uang negara oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Presiden seharusnya tidak hanya melontarkan pernyataan yang enak didengar publik, tetapi juga merealisasikan pernyataannya itu.

"Sebagai Presiden, sudah waktunya Pak SBY tidak hanya mengatakan uang negara dirampok, tapi tangkaplah rampok itu," kata Wakil Ketua DPR Pramono Anung di Kompleks DPR, Jakarta, Kamis (20/10/2011).

Pramono mengatakan, Presiden seharusnya memerintahkan Kepala Polri, Jaksa Agung, dan pimpinan KPK untuk menangkap mereka-mereka yang menggerogoti keuangan negara. Jangan ada diskriminasi dalam pemberantasan korupsi.

Pramono menilai, pemerintahan Yudhoyono-Boediono disibukkan oleh kasus-kasus korupsi di berbagai sektor selama dua tahun ini. Akibatnya, kata dia, kondisi sektor ekonomi yang tengah baik kurang dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

"Jadi, tiga tahun ke depan fokus utama pemerintah dalam penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. KPK melalui kepemimpinan yang baru nanti harus bisa menjawab pertanyaan utama publik," kata politisi PDI-P itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau