Agenda Antikorupsi SBY-Boediono Dinilai Gagal

Kompas.com - 20/10/2011, 21:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Memasuki tahun kedua pemerintahannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono dinilai gagal menjalankan agenda pemberantasan tindak pidana korupsi. Sejumlah kasus korupsi yang muncul belakangan ini justru menyeret beberapa nama kader Partai Demokrat, partai yang mengusung Yudhoyono.

"Korupsi terjadi setiap hari. Dengan adanya kasus Nazaruddin yang menjerat sejumlah nama di Partai Demokrat, itu artinya agenda pemberantasan korupsi SBY gagal karena tidak didukung orang sekitarnya," ujar Sekjen Tranparancy International Indonesia (TII) Teten Masduki, Kamis (20/10/2011).

Teten menilai pemerintah belum berhasil membenahi institusi kepolisian dan kejaksaan. Menurut Teten, kedua lembaga penegakan hukum itu termasuk sentral pemberantasan korupsi. Karena kinerja kepolisian dan kejaksaan yang tidak maksimal itu, banyak kasus korupsi daerah yang penanganannya dibebankan kepada KPK.

"Sebanyak 55.000 kasus korupsi yang ditangani KPK, 90 persen lebih merupakan kasus korupsi daerah yang mandek di kejaksaan dan kepolisian," katanya.

Senada dengan Teten, Ketua Tim Analisis dan Advokasi KPK Endriartono Sutarto menilai pemberantasan tindak pidana korupsi tidak akan optimal kalau hanya mengandalkan KPK. "Kewajiban Presiden menggerakkan polisi dan kejaksaan," katanya.

Teten mengatakan, pemerintah belum memperkuat peraturan perundang-undangan terkait pemberantasan tindak pidana korupsi. Belum ada undang-undang yang mengatur penindakan terhadap korupsi di sektor swasta. Tindak pidana korupsi seperti suap-menyuap antarpihak swasta maupun penggelapan pajak belum diatur dalam undang-undang.

Jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, Teten meragukan keberhasilan pemerintah dalam memenuhi target mencapai indeks persepsi korupsi di angka 5 pada 2014. "Sekarang ini kan indeks persepsi korupsi 2,8. Kalau tidak ada perubahan besar di instansi hukum dan penghapusan suap di sektor pajak dan bea cukai, maka target tersebut tidak akan berhasil," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau