Kegamangan investor disebabkan kabar para pemimpin Eropa tak melanjutkan rencana mengubah dana penyelamatan Eropa menjadi asuransi obligasi. Menurut Dow Jones, kegamangan juga dipicu memudarnya harapan pertemuan puncak pemimpin Eropa hari Minggu lusa akan menghasilkan keputusan komprehensif dalam penyelesaian krisis Eropa.
Penyelamatan Eropa bergantung pada dua negara dengan ekonomi terkuat: Jerman dan Perancis. Namun, Selasa lalu, Pemerintah Perancis mengakui pertumbuhan ekonominya tahun depan mungkin tak mencapai target. Selain itu, lembaga pemeringkat Moody’s Investors Service, Senin pekan ini, mengatakan akan memantau peringkat AAA obligasi Pemerintah Perancis.
Menurut Moody’s, seperti disebut The Wall Street Journal, peringkat AAA itu merefleksikan kekuatan ekonomi, kekuatan lembaga-lembaga keuangan negara itu, dan kekuatan keuangan Pemerintah Perancis. Situasi keuangan global mengurangi kekuatan keuangan pemerintah dan Perancis mungkin harus menopang negara-negara Eropa lain keluar dari krisis keuangan selain sistem perbankannya sendiri.
Jerman dan Perancis adalah penyumbang terbesar European Financial Stability Facility (EFSF), dana talangan Eropa bagi negara-negara yang kesulitan. EFSF menghimpun dana 440 miliar euro.
Banyak orang khawatir krisis keuangan ini akan seperti tahun 2008. Bank-bank di Eropa kini enggan meminjamkan dana di antara mereka dan jumlah uang yang disimpan di Bank Sentral Eropa mencapai jumlah tertinggi dalam 15 bulan terakhir.
Namun, situasi kini tidak sama seperti 2008. Pelajaran dari tiga tahun lalu membuat pengambil kebijakan tak akan membiarkan bank-bank besar kesulitan dana. Pusat krisis kali ini, utang negara, lebih mudah divaluasi daripada kredit perumahan di AS yang dijual di pasar saham.
Krisis keuangan Eropa yang berlarut-larut hingga 18 bulan tidak segera diselesaikan karena bukan hanya menyangkut soal keuangan. Seperti dilaporkan The Economist (1-7 Oktober 2011), bahkan tentang akar masalah krisis pun mereka belum bersepakat. Jerman menganggap penyebabnya pemborosan belanja fiskal sejumlah negara sehingga enggan meningkatkan dana talangan Eropa. Padahal, EFSF butuh dana besar agar langkahnya dipercaya pasar. Mereka juga belum sepakat Pemerintah Yunani sebagai pemicu krisis harus dinyatakan bangkrut karena memang tak sanggup bayar utang. Situasi ini berbeda dari Italia dan Spanyol yang pemerintahnya memiliki dana, tetapi butuh bantuan membayar utangnya.
Para pengambil keputusan adalah politisi yang sangat memperhatikan popularitas di mata pemilih. Mereka tak berani sembarangan memberi dana talangan karena berasal dari pajak rakyat negara masing-masing.
Di Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi tetap lambat karena politisi kedua partai belum sepakat tentang banyak hal, terutama rencana Presiden Barack Obama untuk stimulus penciptaan lapangan kerja dan pengurangan defisit anggaran. Mereka lebih sibuk bersiap menghadapi pemilu presiden 2012 meski kepastian anggaran harus selesai awal November.
Krisis keuangan 2008 dapat teredam berkat pertumbuhan ekonomi Asia, terutama China, yang di atas 10 persen. Kini ekonomi China diperkirakan tumbuh 9,1 persen.
China juga tengah memerangi spekulator dalam bidang properti setelah tahun 2009 China mengalirkan kredit perumahan yang berujung pada gelembung perumahan. Perlambatan ekonomi dunia, demikian The Guardian, mungkin menggandakan kredit macet di perbankan China yang akan menyebabkan bank-bank kekurangan dana. Inflasi di dalam negeri juga meningkat karena kenaikan harga pangan.
China akan selamat dari krisis, tetapi tidak punya cukup ruang untuk membantu krisis global. Pemerintah China telah mengalihkan pertumbuhan ekonominya dari berbasis ekspor menjadi penguatan permintaan dalam negeri.
Pemerintah China telah menyiapkan hal ini dengan baik. Direktur Eksekutif Econit Hendri Saparini mengatakan, dalam dua kali pelita hingga 2004, China berkonsentrasi membangun pertanian dan desa. Pemerintah juga membantu ekspor barang pertanian dan industri China, termasuk memberikan kredit khusus bagi para importir di sejumlah negara agar terus mengimpor produk China.
Pengalaman Kompas menyusuri desa-desa di Provinsi Shandong memperlihatkan infrastruktur jalan dan listrik yang sangat bagus. Pengolahan hasil pertanian di desa menggunakan mesin buatan China. Produk sayuran dan buah dibersihkan dan dikemas di fasilitas pengolahan di desa, lalu langsung diangkut dengan truk ke pelabuhan ekspor. Bahkan, ruang pendingin untuk produk pertanian pun tersedia di desa.
Visi dan konsistensi itulah yang harus dimiliki pemimpin Indonesia agar negeri ini tahan terhadap berbagai gejolak global.(Ninuk M Pambudy)