Sinetron Pengaruhi Orang Korupsi?

Kompas.com - 21/10/2011, 19:56 WIB

Oleh Riski Maruto

Seorang pria berumur 40-an tahun keluar dari mobil sedan mewah buatan Jerman. Lelaki yang mengenakan setelan jas itu kemudian menuju rumah makan masakan Italia yang di dalamnya telah menunggu dua perempuan rekan bisnisnya.

Di dalam ruang restoran itu mereka terlihat serius membahas sesuatu dengan fasilitas perangkat elektronik canggih. Akhirnya, suara canda tawa keluar dari mulut ketiganya diselingi suara gelas berisi champagne beradu untuk bersulang. Sebuah kontrak baru telah disetujui.

Usai menyelesaikan urusannya dengan ditutup "cipika-cipiki", pria itu kemudian bergegas ke pulang rumah yang terletak di kawasan elit di sebuah kota besar di Indonesia. Untuk memasuki perumahan itu, ia harus melewati penjagaan ketat tiga orang Satpam.

Sesampainya di rumah yang juga terdapat seorang penjaga, pria tadi disambut sang istri. Sementara seorang anaknya sedang asik bermain ’game online’ dari sebuah komputer tablet keluaran terbaru.

Adegan tersebut adalah cuplikan tayangan dari sebuah sinema elektronik (sinetron) yang kerap disuguhkan stasiun televisi Indonesia, dari pagi hingga menjelang pagi esok harinya.

Banyak adegan sinetron menggambarkan hidup foya-foya, bermewah-mewahan, dan konsumtif. Gemerlap kehidupan duniawi yang seolah mudah direngkuh dalam waktu yang tidak begitu lama.

Pengamat hukum Universitas Tadulako Palu, Sulawesi Tengah, Benny Diktus Yusman, di Palu, baru-baru ini, menilai tayangan sinetron di televisi bisa mempengaruhi orang melakukan korupsi dengan pola hidup konsumtif yang banyak dipertontonkan.

Menurut dia, gaya-gaya hidup itu bisa saja ditiru masyarakat biasa yang gajinya hanya standar PNS golongan III.  "Mereka akhirnya mencari jalan pintas untuk berlagak menjadi orang kaya dengan korupsi," kata Benny Diktus Yusman di Palu, Sulawesi Tengah, baru-baru ini.

Dia menuturkan, banyak gaya hidup mewah dan hedonis di sinetron yang ditiru penonton meski kemampuan finansial mereka tidak mampu melakukan hal itu.

Semua itu, katanya, dilakukan hanya untuk mendapatkan status sosial di masyarakat.

Dia mencontohkan, di Makassar, Sulawesi Selatan, seseorang bisa mendapatkan mobil seharga Rp140 juta dengan Rp15 juta sebagai uang muka.

"Begitu mudahnya mendapatkan mobil, meskipun belakangan pusing karena harus membayar cicilan dan biaya operasionalnya," kata pria yang menamatkan program doktornya di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.

Menurut dia, hal itu harus dibenahi sejak sekarang untuk menjaga generasi bangsa supaya tidak tergiur pola hidup yang menyesatkan.

Benny mengatakan, saat ini memang belum ditemukan secara nyata dampak sinetron itu terhadap maraknya kasus korupsi di Indonesia.

"Tapi kita harus waspada dengan menjaga diri agar tidak terpengaruh sinetron, yang sebagian ceritanya hanya menjual mimpi," kata pria lulusan Universitas Hasanuddin Makassar ini.

Olehnya, Benny mengimbau kepada masyarakat untuk cermat melihat dan memilih tayangan televisi.

Menurutnya, peran orangtua sangat penting untuk memilih tontonan yang bermanfaat bagi keluarga. "Jangan sampai anak-anak meniru perbuatan yang ada di sinetron. Kasihan orangtua," katanya.

Matikan TV saat maghrib

Sebelumnya, Kepala Kantor Kementerian Agama Sulawesi Tengah Mochsen Alidrus mengajak masyarakat untuk mematikan televisi saat maghrib hingga setelah isya (18.00-19.30) untuk menggalakkan kegiatan mengaji atau belajar.

Menurut dia, mematikan televisi pada saat itu adalah paling efektif untuk mengurangi dampak buruk dari tayangan yang kurang bermutu.

Dia mengatakan, waktu antara maghrib dan isya adalah momen yang tepat untuk kumpul keluarga sehingga bisa meningkatkan keharmonisan rumah tangga.

Dikutip dari situs wikipedia, sinetron di Indonesia makin merebak pada 1990-an seiring lahirnya sejumlah televisi swasta.

Pelopor sinetron pertama yang hadir di layar kaca adalah Losmen yang disiarkan oleh TVRI pada tahun 80-an. Losmen bercerita tentang kehidupan sehari-hari keluarga Pak Broto yang mengelola losmen. Drama ini dibintangi oleh aktor dan aktris senior seperti Dewi Yull, Mieke Wijaya dan Mathias Muchus.

Saat itu cerita Losmen tergolong sederhana, tidak banyak menjual mimpi seperti sinetron sekarang yang kisahnya baru tamat setelah ratusan episode. Kalau cerita habis maka diupayakan harus ada lagi, hingga salah satu pemerannya meninggal dunia, seperti Si Doel Anak Sekolahan atau Cinta Fitri.

Jauh sebelum merebak di Indonesia, sinetron yang dalam istilah bahasa Inggris disebut "soap opera" alias opera sabun sudah ’booming’ di Amerika pada 1950-an.

Cikal bakal opera sabun adalah siaran drama berseri di radio-radio Amerika pada 1930-an. Para pendengar radio yang kebanyakan kaum ibu rumah tangga, biasa mendengarkan drama berseri itu sembari membersihkan rumah atau melakukan kegiatan rumahan lainnya.

Peluang itu ditangkap oleh para pemasang iklan untuk mempromosikan produk berupa deterjen atau produk-produk pembersih saat jeda drama berseri itu. Akhirnya nama opera sabun melekat untuk penyebutan acara itu.

Selanjutnya, ketika era radio berganti menjadi televisi pada tahun 1950-an, siaran serial drama radio berpindah ke televisi. Istilah opera sabun pun tetap terpakai.

Olehnya, seperti yang telah diuraikan di atas, Benny Diktus Yusman mengimbau kepada masyarakat untuk tidak terpeleset licinnya opera sabun sehingga terjerumus berbuat korupsi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau