Direktur Strategi dan Keuangan Bank Mandiri Pahala N Mansury mengungkapkan hal itu di Kuta, Bali, akhir pekan lalu. ”Likuiditas valas kita aman, hampir 1,5 miliar dollar AS,” kata Pahala dalam wawancara dengan Kompas.
Dengan likuiditas sejumlah itu, Bank Mandiri yakin sumber dana valas masih aman menghadapi gejolak ekonomi dan pasar keuangan.
Setidaknya, untuk menyalurkan kredit valas hingga tiga bulan mendatang. Saat ini, rasio pinjaman dibandingkan simpanan valas (LDR) Bank Mandiri sekitar 90 persen. Adapun dana pihak ketiga (DPK) valas 5 miliar dollar AS per September 2011.
Pinjaman valas, ujar Pahala, dilakukan untuk memperbaiki likuiditas. Alasannya, saat ini sebagian besar dana valas Bank Mandiri berupa dana jangka pendek, dengan porsi giro yang cukup besar.
Untuk mengamankan likuiditas valas, tidak bisa hanya melihat eksesnya saat ini. Namun, juga harus melihat profil tenor atau jangka waktu yang dipengaruhi likuiditas.
”Makanya, ada pinjaman bilateral jangka panjang untuk memperbaiki likuiditas yang kita miliki,” tambah Pahala.
Bank asing dipilih sebagai pemberi pinjaman karena bank asing memiliki likuiditas dollar AS yang cukup kuat.
Berdasarkan data Bank Indonesia per Agustus 2011, kredit bank umum mencapai Rp 2.031 triliun, yang terdiri dari kredit rupiah Rp 1.704 triliun dan kredit valas Rp 326,703 triliun. Dana pihak ketiga bank umum sebesar Rp 2.459 triliun yang berupa DPK rupiah Rp 2.113 dan DPK valas senilai Rp 346,649 triliun.
Adapun pinjaman yang diterima bank umum Rp 36,955 triliun. Pinjaman itu berupa rupiah sejumlah Rp 24,375 triliun dan valas senilai Rp 12,58 triliun.
Menghadapi gejolak ekonomi Eropa dan Amerika Serikat, perbankan di Indonesia meninjau ulang protokol krisis. Tinjauan ulang dilakukan karena kondisi eksternal dan internal dalam krisis kali ini berbeda dengan krisis tahun 2008.
Cadangan devisa, misalnya, lebih baik pada saat ini dibandingkan dengan tahun 2008. Oleh karena itu, protokol krisis yang dijalankan berbeda di setiap kondisi dan waktu.
Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Gatot Suwondo pernah menyampaikan, BNI meninjau ulang protokol krisis yang dimiliki. Bahkan, BNI akan menyesuaikan faktor-faktornya dengan kondisi saat ini.
Begitu juga Bank Mandiri, yang protokol krisisnya terdiri dari tiga bagian, yakni praperingatan dini, peringatan
Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Ardhayadi dalam acara Forum Harmonisasi BI dan Kementerian Keuangan di Bali, Sabtu (22/10) malam, menyampaikan, tantangan yang dihadapi berkaitan dengan dampak gejolak ekonomi global adalah melalui pelambatan ekonomi di China.
”Diperlukan kerja sama dan koordinasi antara pengambil keputusan bidang moneter dan fiskal,” demikian Ardhayadi menjelaskan.