Bank Mandiri Dapat Pinjaman

Kompas.com - 24/10/2011, 04:24 WIB

Kuta, Kompas - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk baru saja memperoleh pinjaman valuta asing sebesar 500 juta dollar Amerika Serikat. Pinjaman bilateral dari bank asing yang berkantor cabang di Indonesia itu berjangka waktu 3-5 tahun. Dengan dana yang ada, Bank Mandiri yakin akan tahan guncangan.

Direktur Strategi dan Keuangan Bank Mandiri Pahala N Mansury mengungkapkan hal itu di Kuta, Bali, akhir pekan lalu. ”Likuiditas valas kita aman, hampir 1,5 miliar dollar AS,” kata Pahala dalam wawancara dengan Kompas.

Dengan likuiditas sejumlah itu, Bank Mandiri yakin sumber dana valas masih aman menghadapi gejolak ekonomi dan pasar keuangan.

Setidaknya, untuk menyalurkan kredit valas hingga tiga bulan mendatang. Saat ini, rasio pinjaman dibandingkan simpanan valas (LDR) Bank Mandiri sekitar 90 persen. Adapun dana pihak ketiga (DPK) valas 5 miliar dollar AS per September 2011.

Pinjaman valas, ujar Pahala, dilakukan untuk memperbaiki likuiditas. Alasannya, saat ini sebagian besar dana valas Bank Mandiri berupa dana jangka pendek, dengan porsi giro yang cukup besar.

Untuk mengamankan likuiditas valas, tidak bisa hanya melihat eksesnya saat ini. Namun, juga harus melihat profil tenor atau jangka waktu yang dipengaruhi likuiditas.

”Makanya, ada pinjaman bilateral jangka panjang untuk memperbaiki likuiditas yang kita miliki,” tambah Pahala.

Bank asing dipilih sebagai pemberi pinjaman karena bank asing memiliki likuiditas dollar AS yang cukup kuat.

Berdasarkan data Bank Indonesia per Agustus 2011, kredit bank umum mencapai Rp 2.031 triliun, yang terdiri dari kredit rupiah Rp 1.704 triliun dan kredit valas Rp 326,703 triliun. Dana pihak ketiga bank umum sebesar Rp 2.459 triliun yang berupa DPK rupiah Rp 2.113 dan DPK valas senilai Rp 346,649 triliun.

Adapun pinjaman yang diterima bank umum Rp 36,955 triliun. Pinjaman itu berupa rupiah sejumlah Rp 24,375 triliun dan valas senilai Rp 12,58 triliun.

Protokol krisis

Menghadapi gejolak ekonomi Eropa dan Amerika Serikat, perbankan di Indonesia meninjau ulang protokol krisis. Tinjauan ulang dilakukan karena kondisi eksternal dan internal dalam krisis kali ini berbeda dengan krisis tahun 2008.

Cadangan devisa, misalnya, lebih baik pada saat ini dibandingkan dengan tahun 2008. Oleh karena itu, protokol krisis yang dijalankan berbeda di setiap kondisi dan waktu.

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Gatot Suwondo pernah menyampaikan, BNI meninjau ulang protokol krisis yang dimiliki. Bahkan, BNI akan menyesuaikan faktor-faktornya dengan kondisi saat ini.

Begitu juga Bank Mandiri, yang protokol krisisnya terdiri dari tiga bagian, yakni praperingatan dini, peringatan dini, dan siaga. Setiap tahun, protokol krisis tersebut ditinjau ulang.

Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Ardhayadi dalam acara Forum Harmonisasi BI dan Kementerian Keuangan di Bali, Sabtu (22/10) malam, menyampaikan, tantangan yang dihadapi berkaitan dengan dampak gejolak ekonomi global adalah melalui pelambatan ekonomi di China.

”Diperlukan kerja sama dan koordinasi antara pengambil keputusan bidang moneter dan fiskal,” demikian Ardhayadi menjelaskan. (IDR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau