Para pemberontak membuat impian rakyat Libya menjadi sebuah kenyataan,” kata Mokhtar Ahmed, memandangi museum perang dadakan yang telah muncul di Jalan Tripoli di kota Misrata yang rusak oleh bom.
Barang yang dipamerkan di ”museum perang” itu diambil dari medan tempur di mana milisi yang setia kepada pemimpin Libya, Moammar Khadafy, yang ditangkap dan dibunuh pekan lalu, dikalahkan.
Sebuah papan tanda yang dipasang di sebuah tank yang ditembak sebuah pesawat tempur NATO bertuliskan ”Galeri Abu Shafshufa”, sebuah julukan bagi Khadafy, mengejek rambutnya yang keriting awut-awutan.
Tank rusak itu terletak bersebelahan dengan peluncur misil Grad, mortir, dan sebuah elang logam dengan rentang sayap 4 meter, penuh peluru, mencengkeram boneka Khadafy sebesar manusia di cakarnya.
Elang logam itu diambil dari atap rumah Khadafy di Tripoli. Bonekanya ditambahkan kemudian.
Barang lain yang dipamerkan antara lain sebuah kepalan
Sementara pemerintah transisi negara itu bergulat untuk menyusun masa depan yang damai dan demokratis menyusul tewasnya Khadafy di tangan pemberontak di kota asalnya,
”Ada banyak senjata. Itu harus diambil kembali,” kata Hassan Mustafa Sadawi. Dia merujuk ke gudang senjata yang masih di tangan pasukan oposisi di sebuah negara yang penuh perpecahan suku.
”Tidak mungkin mempunyai stabilitas (di Libya). Kami akan balas dendam satu sama lain dari waktu ke waktu, mungkin,” katanya menambahkan.
Bagi Muftah Lamlum, yang baru-baru ini kembali dari 38 tahun pengasingan politik di London, apa yang dia lihat adalah kesia-siaan.
”Ini mengingatkan kepada saya bahwa saya telah kehilangan tahun-tahun terbaik dari hidup saya... (dan) reruntuhan negeri yang seharusnya bisa menjadi yang paling makmur di Timur Tengah,” sesalnya.
”Saya ingin melihat sebuah demokrasi model Barat,” kata Lamlum. ”Akan tetapi, kekhawatiran saya yang paling besar adalah kebodohan... 42 tahun di bawah Khadafy adalah waktu yang sangat lama.”
Di Sirte di mana Khadafy bersembunyi sampai tertangkap dan tewas, Omar Befaila menyapu reruntuhan dari apa yang dulunya rumah dan tokonya.
Kota yang terentang dari pantai-pantai Laut Tengah sampai gurun pasir itu telah menjadi kota reruntuhan dengan bau kematian dan di mana mayat-mayat berserakan di jalanan.
Di luar pusat kota, para petugas kemanusiaan bersiap untuk menguburkan lebih dari 175 jenazah yang ditutupi lembaran plastik—para serdadu Khadafy terakhir yang tewas dalam sebuah serangan udara NATO saat mereka melarikan diri dalam sebuah konvoi.
RS Al-Mahari yang dekat pusat kota penuh lubang peluru dan granat. Bau anyir tercium dari rumah sakit di mana lebih dari 60 jenazah membusuk di halaman.
Khadafy mempunyai rencana besar untuk Sirte, kota dekat tempat dia dilahirkan itu. Dia bahkan pernah merencanakan menjadikan kota itu ibu kota Libya dengan membangun balai sidang mewah.
Yang tersisa adalah kehancuran, terutama di pusat kota. Tak ada bangunan yang utuh, dan warga kota yang 120.000 tak tampak.
”Sirte sudah habis. Tak ada yang tersisa untuk saya di sini,” kata Ahmad Ali, seorang lelaki tua yang bersiap meninggalkan kota dengan sisa miliknya.
Namun, Omar Befaila berniat tinggal. ”Ini rumah saya. Ini toko saya. Semua runtuh,” katanya menyapu puing-puing dibantu kerabatnya.