jakarta, kompas
Saat menaiki beberapa bus berjalur khusus tersebut, Minggu (23/10), terlihat ada sopir yang tak berseragam. Saat hendak menjemput penumpang, jarak antara bus dan halte juga bisa lebih dari 50 sentimeter sehingga menyusahkan calon penumpang. Fasilitas penunjuk halte tujuan juga sering tidak berfungsi.
Belum lagi kasus meledaknya tabung bahan bakar gas pada bus transjakarta, Kamis lalu, makin mengurangi rasa nyaman.
”Saat ini pengguna bus transjakarta sudah sangat banyak. Jika ada gangguan pada armadanya, tentu sangat terasa,” kata David Tjahjana, pengguna bus transjakarta yang tergabung dalam Suara Transjakarta.
David mengakui, akhir-akhir ini pelayanan bus transjakarta mengalami penurunan. Hal ini karena banyak armada yang mengalami gangguan dari terbakar hingga meledak.
David mengatakan, dengan adanya bus-bus yang rusak, jumlah bus cadangan menjadi berkurang. Bus-bus yang paling buruk kualitasnya berada di Koridor I karena bus-bus di koridor ini yang paling tua karena sudah beroperasi sejak akhir 2004. Seharusnya bus-bus ini sudah diganti tahun lalu, tetapi sampai sekarang masih dipakai.
Berdasarkan catatan di Dinas Perhubungan DKI Jakarta, saat ini jumlah armada bus transjakarta mencapai 525 unit. Dari jumlah ini, 10 persen ditetapkan sebagai cadangan atau masuk ke perawatan. Adapun jumlah penumpang rata-rata 350.000 per hari atau 89 juta per tahun.
Dahna, salah seorang pengguna bus transjakarta di Terminal Kampung Melayu, mengkhawatirkan bus-bus yang tahun operasionalnya sama dengan bus yang Kamis lalu meledak.
”Bus itu, kan, bus baru. Baru 10 bulan dipakai, ternyata meledak. Harusnya bus-bus sejenis dilarang digunakan dulu untuk diperiksa kelaikannya,” katanya.
Berdasarkan penelusuran Litbang Kompas, dalam APBD DKI Jakarta 2008-2010, Pemprov DKI Jakarta selama empat tahun mengucurkan dana untuk enam komponen besar, yaitu kajian dan sosialisasi busway, pembebasan tanah, pembangunan busway (biaya lelang pengadaan), peningkatan pengelolaan busway, pengawasan dan pengendalian koridor busway (pembentukan satgas sterilisasi busway), dan penataan jalur hijau di koridor busway.
Tahun 2008 tersedot dana Rp 787 miliar, 2009 sebesar Rp 977 miliar, dan tahun 2010 sebanyak Rp 906 miliar.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengakui, selama ini subsidi yang diterima Badan Layanan Umum Transjakarta Rp 300 miliar digunakan untuk operasional. ”Seharusnya tiket bus transjakarta itu Rp 7.000 (kini Rp 3.500). Karena Gubernur ingin menyejahterakan rakyatnya, tiket bus transjakarta disubsidi. Dengan tiket murah, mobilitas masyarakat semakin tinggi dan berdampak pada peningkatan ekonomi,” ujarnya.