Angka 1-6, Rasa Malu, dan Hari Buruk di MU

Kompas.com - 24/10/2011, 06:04 WIB

MANCHESTER, KOMPAS.com — Langit di atas Stadion Old Trafford terasa gelap. Betapa tidak, Manchester United (MU) sebagai tuan rumah dihajar tetangganya sendiri dengan skor 1-6, Minggu (23/10/2011). Kekalahan yang tak hanya menghentikan perolehan poin MU, tetapi juga menyebabkan rasa malu dan sakit yang cukup dalam.

Derbi Manchester sudah sedemikian panas. Ini bukan sekadar pertandingan sepak bola, melainkan juga gengsi dan rasa hormat.

Angka 1-6 jelas pukulan amat telak. Dan, ini memasuki angka 16 buat Manchester City bisa mengalahkan rival sekotanya di Old Trafford.

Sepanjang sejarah, MU memang lebih superior. Dari 131 pertemuan, MU menang 51 kali dan City hanya kebagian 36 kemenangan. Jumlah gol yang dicetak juga unggul MU. "Setan Merah" berhasil menyarangkan 186 gol, sedangkan City hanya mampu menyarangkan 179 gol, termasuk 6 gol ke gawang David de Gea, Minggu itu.

Wajar jika Manajer MU Sir Alex Ferguson terpukul bukan kepalang. Ia mengungkapkan, ruang ganti timnya dipenuhi rasa malu seusai pertandingan. Wajah-wajah muram para pemain menambah suasana makin menyedihkan.

"Ada banyak rasa malu dalam ruang ganti hari ini. Mereka semua kecewa," ujar Ferguson.

"Ini merupakan hari paling buruk selama karier saya. Bahkan, ketika masih menjadi pemain, saya tak pernah berpikir kalah 1-6. Ini jadi tantangan untuk saya. Saya tak percaya dengan hasil ini," sesal Ferguson.

Hasil ini memang tamparan berat. MU sebelumnya merasa yakin bisa menundukkan tetangganya di Old Trafford. Apalagi, mereka berambisi kembali ke puncak klasemen, merebut posisi City.

Yang terjadi justru sebaliknya. Kekalahan itu membuat City makin melambung di puncak klasemen, jauh meninggalkan MU yang berada di tempat kedua, sejarak 5 poin.

Kepercayaan diri itu tampak dari pernyataan Ferguson sendiri. Sebelumnya, ia menyebut City adalah tetangga yang berisik. Ini untuk menanggapi euforia City yang ia anggap kelewat dan keburu senang dengan performa di awal musim ini.

Kini, City jauh lebih berisik. Bukan berisik tanpa alasan, melainkan karena meraih sukses besar menundukkan MU di kandangnya dengan skor telak. Mereka pesta dan menemukan kepercayaan diri.

"Bagi saya, kemenangan jauh lebih penting daripada skor. Ini akan meningkatkan kepercayaan tim kami," kata Manajer Manchester City Roberto Mancini.

Sementara defender City, Micah Richard, mengatakan, Ferguson kini menyesal karena telah menyebut timnya sebagai tetangga yang berisik.

Bukan hanya menyesal, Ferguson mengakui ini hari buruk buat dia juga MU. Bahkan, ia mengakui pula, kekalahan tersebut membuat mereka malu dan merasa memiliki hari buruk.

Angka 1 dan 6 memang sangat menyakitkan buat MU. Kekalahan 1-6 yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Sebaliknya, ini angka penuh makna buat City. Mereka untuk ke-16 kalinya mengalahkan MU dengan angka 1 dan 6 alias 1-6.

Namun, MU tetaplah tim bermental juara. Mereka tak pernah menyerah dan segera mendongakkan kepala lagi dan terus berjuang dalam persaingan. Mentalitas itu yang dipuji Mancini.

"Saya menaruh rasa hormat kepada MU. Bahkan, saat bermain 10 orang saja, mereka masih terus berjuang dan bisa mencetak gol. Itu mentalitas yang luar biasa," puji Mancini.

Ya, City memang tak boleh terlalu berbesar diri. Sebab, kompetisi masih panjang. Mancini sadar, segalanya masih bisa terjadi. Demikian juga bagi MU, jalan menuju juara masih terbuka. Mentalitas itu yang dihormati, sekaligus ditakutkan lawan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau