BEIJING, Senin
Pertumbuhan permintaan domestik ini sedikit mengurangi kekhawatiran mengenai penyerapan produk China yang biasanya diekspor. Negara tujuan ekspor China, seperti AS dan Eropa, sedang krisis sehingga permintaan menurun.
Purchasing Manager Index (PMI) bentukan HSBC juga memperlihatkan tekanan harga sudah mereda di China. Data harga konsumen memperlihatkan laju inflasi sedikit menurun dari puncak tertingginya selama tiga tahun.
PMI dirancang untuk memberi gambaran mengenai aktivitas pabrik bulanan. PMI naik menjadi 51,1 pada Oktober dari skor 49,9 pada September lalu. Kenaikan itu berarti sudah ada order baru dan order ekspor mulai berkembang.
Jika angka PMI melewati level 50, itu berarti ada ekspansi. Kontraksi manufaktur China terjadi pertama kali sejak Juni lalu ketika PMI turun dari 51,6.
”Terima kasih untuk kenaikan order dan produksi. Angka PMI mulai membaik kembali ke wilayah positif pada Oktober ini, menandai langkah awal untuk penguatan aktivitas manufaktur pada kuartal keempat,” ujar Qu Hongbin, ekonom China di HSBC.
”Sementara itu, komponen inflasi dalam PMI mengonfirmasikan bahwa harga produksi stabil dan tingkat inflasi melemah. Semua data itu mengonfirmasikan pandangan kita bahwa tidak ada risiko hard landing di China,” ujarnya.
Qu berharap pertumbuhan produksi di sektor industri akan naik hingga 13 persen pada Oktober dan bank sentral terus menjaga kebijakan moneter agar tetap stabil pada bulan-bulan ke depan.
Baik order baru maupun order untuk ekspor naik di atas 50 poin pada Oktober. Sebaliknya, indeks di bawah 50 menunjukkan kontraksi. Melihat prospek ekonomi global yang suram, tampaknya terlalu dini untuk menyatakan jika penguatan ekspor ini dapat berkesinambungan.
Walau demikian, data positif ini memberikan dukungan terhadap pasar finansial yang sudah mendapatkan angin segar dari zona euro. Para pemimpin di zona euro semakin dekat pada kesepakatan untuk menyelesaikan krisis utang di kawasan tersebut. Indeks Hang Seng Hongkong ditutup naik 4 persen.
China sangat bergantung pada permintaan ekspor dari AS dan Eropa. Kedua kawasan itu merupakan pasar ekspor China terbesar. Surplus perdagangan China menipis pada September lalu selama dua bulan berturut-turut. Pertumbuhan ekspor tahunan ke Uni Eropa juga berkurang pada September dibandingkan dengan Agustus lalu.
Akan tetapi, maraknya permintaan domestik, yaitu konsumsi dan investasi serta pertumbuhan ekspor yang solid ke negara berkembang, masih melindungi kinerja ekspor China.
”Hal terburuk bagi perekonomian China juga perekonomian global adalah jika Eropa gagal membendung krisis,” ujar George Worthington, Ekonom Kepala Asia Pacific pada IFR Markets. ”Namun, kondisi permintaan domestik tampaknya cukup solid untuk menjaga agar pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 9 persen, dilihat dari kenaikan PMI terendah dari 49,3 Juli lalu,” katanya.
Pertumbuhan tahunan perekonomian China melambat menjadi 9,1 persen pada kuartal ketiga dari 9,5 persen pada kuartal kedua dan 9,7 persen pada kuartal pertama.
Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan akan terus melemah. Diperkirakan, pada tahun 2012 pertumbuhan hanya akan mencapai 8,6 persen dari 9,3 persen tahun ini.
Namun, sebagian besar analis yakin data ekonomi yang ada menunjukkan bahwa China akan mengalami soft landing, bukan hard landing. Banyak ahli yang mendefinisikan hard landing sebagai penurunan tiba-tiba produk domestik bruto (PDB) kuartalan di bawah 8 persen. Penurunan tiba-tiba ini dapat membuat angka pengangguran melonjak.
Pemerintah China telah mengumumkan beberapa langkah kebijakan untuk mendukung perekonomian.