Dalam lima tahun terakhir, industri rotan alam Indonesia sejak dari hulu hingga hilir seperti rontok perlahan. Di wilayah hilir, ribuan pekerja rotan kehilangan pekerjaan, sementara ratusan perajin rumahan gulung tikar. Di sisi lain, pemungut rotan alam di wilayah penghasil rotan pun menjerit karena kebijakan pemerintah yang setengah hati.
Lesunya industri rotan di hilir itu begitu terasa di kawasan Plered, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Kawasan yang dulunya dikenal sebagai sentra penghasil mebel rotan kelas ekspor ini mulai kehilangan pamornya. Sebanyak 320 pabrik dari 511 pabrik rotan di sana gulung tikar.
Data dari Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Komisariat Daerah Cirebon menyebutkan, 1.600 usaha kecil rotan rumahan kembang kempis karena persaingan yang ketat di pasar dunia. Sementara itu, pasar lokal belum mampu sepenuhnya menyerap produk mebel dan kerajinan dari rotan.
Para perajin rotan pun merasakan minimnya pesanan baik dari lokal maupun luar negeri. ”Dulu, dalam seminggu bisa ada 100 unit pesanan, tetapi sekarang maksimal 50 pesanan seminggu. Itu pun tidak rutin. Sering kali pesanan 20 unit per minggu, bahkan tak ada pesanan sama sekali” ungkap Mahmud (30), perajin anyaman rotan dari Desa Cangkring, Plered, Jumat (7/10).
Mahmud biasanya mendapatkan pesanan untuk menganyam kursi dan meja. Untuk satu unit mebel, ia memperoleh upah Rp 20.000. Jika dalam seminggu ia bisa menyelesaikan 20 kursi, maka ada Rp 400.000 di tangan yang bisa digunakannya untuk menghidupi keluarga. Beruntung, Mahmud belum memiliki anak, sehingga beban hidupnya tak terlampau berat. Ia masih bisa menabung dibantu istrinya yang juga bekerja di pabrik rotan.
Makmur (31), warga Plumbon, yang bekerja sebagai penganyam di Teguh Mandiri Rattan, mesti lebih keras memutar otak untuk menghidupi keluarganya dengan penghasilan pas-pasan. Sebagai pekerja borongan, upah Sahroni amat ditentukan kecepatan bekerja dan banyaknya pesanan. Di tengah sepinya pesanan mebel rotan, rata-rata ia memperoleh Rp 150.000 per minggu.
”Kalau rotan habis, ya habislah kami,” kata Makmur yang sudah bekerja sejak 15 tahun
Ketua Asmindo Komdar Cirebon Sumartja mengatakan, rontoknya industri mebel rotan dipicu oleh persaingan ketat di pasar dunia, antara lain dengan China dan Vietnam. Salah satu hal yang menurut dia berkontribusi pada persaingan keras itu ialah diperbolehkannya ekspor bahan baku rotan sejak tahun 2005. ”Kompetitor kini bisa membuat mebel rotan sebaik kita, sebab mereka mendapatkan suplai bahan baku dari Indonesia,” katanya.
Namun, anggapan itu tak sepenuhnya benar. Pengusaha rotan lainnya, Arismunandar, menyebutkan, rotan kian sepi karena maraknya serbuan rotan sintetis. Tren dunia saat ini memang sedang membuat rotan dari plastik itu di atas angin. ”Saya sudah tidak bisa ekspor rotan ke Amerika Serikat. Di sana, pasar menginginkan rotan sintetis,” katanya.
Persoalan lain yang berkembang kemudian ialah makin langkanya jenis bahan baku tertentu, yakni hati dan kulit rotan. Kedua bahan itu biasanya dipakai untuk ikatan rotan. Di sisi lain, rotan batangan justru menumpuk di gudang-gudang agen lantaran sepi pembeli.
Sementara itu, Kementerian Perindustrian berencana memperketat ekspor bahan baku rotan melalui revisi Peraturan Kementerian Perdagangan Nomor 36 Tahun 2009 tentang Ketentuan Ekspor Rotan.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Rotan Indonesia (APRI) Julius Hoesan menyebut kebijakan itu parsial dan tidak memperhatikan kepentingan industri rotan di hulu maupun hilir. ”Pengetatan Permendag 36/2009 sama saja dengan menutup ekspor. Itu hanya permainan kata-kata yang merugikan kami di daerah. Dengan aturan sekarang, kami susah mengekspor, apalagi jika diketati,” ungkapnya.
Ekspor bahan baku rotan menjadi hal yang tak terhindarkan manakala industri dalam negeri menyerap hanya kurang dari 10 persen produksi rotan. Pada 2009, Indonesia memproduksi 696.000 ton rotan mentah. Dari jumlah itu, hanya 67.000 ton yang diserap industri dalam negeri. Artinya, ada potensi rotan yang hilang jika ekspor ditutup. Ada 1,4 miliar dollar AS tersia-siakan.
Sejak ekspor rotan dibatasi, pengolah rotan di daerah penghasil juga banyak gulung tikar. Seperti halnya perajin rotan di Cirebon, lebih dari 70 persen pengusaha rotan setengah jadi di luar Jawa tutup. ”Di Sulawesi Tengah, dari 43 pabrik pengolah rotan, kini tinggal 6 yang beroperasi. Di Gorontalo, dari 11 perusahaan, kini tinggal 1 yang beroperasi,” kata Julius.
Permendag itu juga memicu kelangkaan bahan baku. Sebab, salah satu isinya melarang ekspor kulit dan hati rotan dari Jawa. Karena dilarang ekspor, maka industri olahan di Jawa banyak tutup lantaran minimnya pembeli dari dalam negeri. Akibatnya, produksi kulit dan hati rotan terbatas.
Sekretaris Jenderal APRI Lisman Sumardjani mengatakan, Permendag 36/2009 tidak menguntungkan bagi industri hulu maupun hilir. ”Permendag ini memang harus dievaluasi total dengan melibatkan semua pihak terkait. Sayangnya, hingga sekarang belum juga ada undangan untuk membicarakan persoalan rotan secara komprehensif. Jika terus dibiarkan maka industri rotan akan menemui ajal,” ujarnya.
Penyelesaian soal rotan tidak bisa dilakukan hanya dengan menutup atau membuka keran ekspor. Banyak hal yang mesti dikaji, termasuk kenapa mebel rotan Indonesia kalah di pasaran dunia. Ironisnya, kini mebel rotan sintetis juga berkembang dan diproduksi di Tanah Air.