Tata surya

Rongga Aneh di Permukaan Merkurius

Kompas.com - 26/10/2011, 15:57 WIB

KOMPAS.com — Wahana antariksa Messenger menemukan rongga aneh di permukaan Merkurius, planet terdekat dengan Matahari. Jumlah rongga yang ditemukan wahana antariksa itu cukup banyak, mulai dari yang berdiameter 18 meter hingga hampir 1,6 km, dan kedalaman 18-32 meter.

"Rongga-rongga ini kejutan besar. Kami selama ini berpikir bahwa Merkurius adalah lingkungan konstan, tidak banyak berubah, kecuali akibat tumbukan (komet). Namun, rongga ini tampak lebih muda dari kawah-kawah tempat mereka ditemukan. Jadi, itu menunjukkan bahwa permukaan Merkurius masih mengalami evolusi," kata David Blewett, anggota tim peneliti dari Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory.

Rongga seperti yang ditemukan di Merkurius sebenarnya juga terdapat di Mars. Perbedaannya, rongga di Mars memiliki warna kekuningan seperti keju, sementara rongga di Merkurius memiliki penampakan yang terang dan menyerupai halo (fenomena pembelokan sinar Matahari oleh partikel uap air di atmosfer). "Kami belum pernah menjumpai hal seperti ini di permukaan batuan," kata Blewett.

Blewett mengatakan, pembentukan rongga itu kini masih teka-teki. Namun, ia mengungkapkan bahwa pembentukannya tidak mungkin diakibatkan oleh angin dan hujan. "Tidak ada atmosfer di Merkurius. Karena itu, angin tidak bertiup dan hujan tidak turun. Jadi, rongga tidak mungkin diakibatkan oleh angin dan air. Pasti ada kekuatan lain yang bekerja," ungkap Blewett.

Karena Merkurius merupakan planet yang terdekat dengan Matahari, Blewett menduga bahwa pembentukan rongga dipengaruhi faktor panas dan cuaca ekstrem. Kuncinya, menurut Blewett, banyak rongga yang memiliki kedekatan dengan gundukan di kawah Merkurius. Gundukan itu diduga terbentuk akibat tumbukan benda langit seperti asteroid yang membentuk kawah. Material yang seolah tergali akibat tumbukan menjadi tidak stabil.

Blewett mencontohkan, "Mineral tertentu, misalnya yang mengandung belerang dan bahan lain yang mudah menguap, akan menguap bila terkena panas, angin Matahari, dan mikrometeroid."

Menurut Blewett, mungkin yang terjadi adalah penguapan sulfur. Ketika sulfur menguap, batuan menjadi lunak dan berpori sehingga mudah tererosi. Peristiwa itulah yang menyebabkan pembentukan rongga.

Penemuan rongga ini membuat ilmuwan berpikir kenbali tentang pembentukan Merkurius. Ada dua kemungkinan, pertama adalah adanya tumbukan di permukaan Merkurius saat planet itu masih berupa embrio, dan kedua adalah penguapan material mudah menguap seperti potasium dan belerang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau