Menjadi pemain sepak bola nasional adalah mimpi pemain tim Tunas Garuda. Namun, jalan menuju mimpi itu bak bayi lima bulan yang ingin merangkak dan berdiri. Terjal dan berliku.
Setidaknya satu proses telah dilalui. Sebanyak 18 anak rekrutan National Camp Tunas Garuda (NCTG) yang berasal dari beberapa kota di Indonesia mulai dari Bireuen, Aceh, hingga Wamena, Papua, bisa berlatih di Arsenal Soccer Camp di London, Inggris.
Sebelum di Tunas Garuda, mereka sudah cinta sepak bola sejak kecil, berlatih dengan sungguh-sungguh di sekolah sepak bola, dan berketerampilan lebih dari kawan-kawannya. Bisa dibilang, NCTG yang diprakarsai DPP Partai Demokrat ini ”tinggal” menyatukan dan memoles bibit-bibit potensial itu.
”Kalau tidak ada Tunas Garuda, mana mungkin saya sampai di sini dan bertanding melawan Arsenal, apalagi bisa menang,” kata Frengky Pare Kogoya, gelandang asal Wamena, yang masih 14 tahun.
Demi seleksi Tunas Garuda, ia harus naik pesawat dari Puncak Jaya, Wamena, ke Jayapura. Singkatnya, tiada juri yang meragukannya, dan ia lolos seleksi bersama tiga anak Papua lain, Mariano Orthis Podakan Urpon, Yunus Nobiandy Modouw, dan Terens O Priska Puhuri.
Sebanyak 36 anak hasil penjaringan di sembilan kota di Indonesia lantas dikumpulkan di Jakarta untuk diseleksi kembali menjadi 18 anak yang akan berangkat ke Arsenal. Empat anak dari Papua lolos semua.
Selama sepekan, 23-29 Oktober, tim Tunas Garuda berada di London, Inggris. Ini puncak dari serangkaian acara dalam program NCTG, sejak penjaringan pemain di sembilan kota se-Nusantara yang menjaring 18 pemain ini hingga berlatih sebulan bersama pelatih SSB Indonesia asal Kamerun, Jules Denis Onana.
Di London, 18 anak berusia 14-16 tahun ini berkesempatan mengunjungi Stadion Emirates, London, kandang Arsenal, dan menonton laga Arsenal melawan Stoke City. Melalui kerja sama NCTG-SSI, tim Tunas Garuda juga mendapat akses berlatih di Arsenal Soccer Camp di Homsey, London.
Sejumlah pelatih dari Arsenal Soccer School memberi program latihan teknik yang sama dengan yang diajarkan di ASS, mulai dari mengumpan, dribel, hingga akurasi. Latihan dilakukan dengan metode gim dan permainan yang fun agar anak-anak tidak jenuh.
Tim Tunas Garuda sempat berlaga dua kali melawan tim Arsenal U-17 dan Arsenal U-15. Tunas Garuda kalah 1-2 dari Arsenal U-17 pada laga Senin (24/10), dan unggul 3-1 atas Arsenal U-15 pada Rabu (26/10).
Mewujudkan mimpi
Mewujudkan mimpi menjadi kebanggaan kami, begitu kata Koordinator Sekolah Olahraga Arsenal Andrew Kuprewicz saat ditemui di Stadion Emirates.
”Kami tahu, bagi anak-anak itu, berada di sini mungkin mimpi mereka. Kami sangat memperhatikan itu, khususnya tim dari Indonesia, Vietnam, dan Singapura,” kata Kuprewicz.
Bagi Nazarul Fahmi, striker Tunas Garuda asal Bireuen, bermain di Inggris, di mana pun itu, memang impian masa kecilnya. ”Tidak harus Arsenal, di mana pun asal di negara Liga Primer ini, apalagi bisa ke Spanyol,” kata Fahmi.
Siswa kelas II SMA Negeri 2 Peusangan Bireuen ini pernah menjadi pencetak gol terbanyak pada Kejuaraan APSSO se-Asia Tenggara 2009 di Senayan, Jakarta, dengan 12 gol. Berbekal itu, Fahmi yakin bisa menjadi pemain andal dan ulet.
Saat libur sekolah, Fahmi yang suka pelajaran matematika dan komputer ini membaca soal seleksi Tunas Garuda yang berlangsung di Medan. Ia pun mengajak orangtua dan kakaknya menuju Medan. ”Waktu seleksi, jurinya Rully Nere. Katanya saya punya kecepatan. Saya makin yakin. Saya mau seperti Lionel Messi,” kata Fahmi, peserta tunggal dari Medan.
Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum saat menonton laga Tunas Garuda melawan Arsenal U-15 menyatakan rasa bangganya. ”Saya tak menyangka anak-anak main sebagus ini. Kami masih memikirkan bagaimana setelah ini,” katanya.
Anak-anak Tunas Garuda berharap, mimpi mereka tak cuma sampai di sini. Setelah di Arsenal, lalu apa lagi? Sungguh sayang jika mimpi mereka tamat terlalu cepat.