Banjir thailand

Toyota Resmi Minta Indonesia

Kompas.com - 31/10/2011, 01:43 WIB

Jakarta, Kompas - Banjir yang melanda Thailand sejak Juli telah menggenangi wilayah seluas 1,6 juta hektar atau sekitar 24 kali luas DKI Jakarta. Sejumlah kegiatan industri, seperti otomotif dan suku cadang otomotif serta peralatan elektronik, di Thailand kini berhenti berproduksi.

Banjir yang menelan korban 381 orang tewas ini juga praktis melumpuhkan kegiatan perekonomian di Thailand. Sedikitnya tujuh kawasan industri yang menjadi pusat produksi otomotif dan suku cadang otomotif serta cip komputer dan peralatan elektronik tergenang dan berhenti berproduksi.

Indonesia berpeluang menjadi pilihan realokasi sejumlah basis produksi, seperti otomotif dan suku cadang otomotif. Apalagi, banjir di Thailand masih akan berlangsung beberapa bulan. Namun, sejumlah pelaku industri menekankan perlunya persiapan infrastruktur di negeri ini.

Presiden Direktur Toyota-Astra Motor Johnny Darmawan, di Jakarta, menegaskan, pihak Toyota sudah meminta secara resmi kepada pihak Toyota di Indonesia untuk menggantikan Thailand. ”Sekarang tergantung dari kesiapan kita. Kalau enggak siap, ya kesempatan itu lewat begitu saja,” katanya.

Menurut Johnny, saat ini hampir semua merek mobil bergantung ke Thailand. ”Negeri Gajah Putih” tersebut ditunjuk sebagai pemasok komponen dan completely built-up (CBU), khususnya jenis sedan. ”Jadi, begitu banjir meluluhlantakkan industri otomotif, dampaknya sangat terasa,” ujarnya.

Banjir di Thailand membuat pasokan komponen untuk industri mobil dalam negeri terhambat. Bukan hanya itu, pasokan CBU juga berkurang karena sebagian pabrik juga berhenti berproduksi. Ada 5-10 persen komponen Toyota yang diambil dari Thailand. Sampai hari ini, pihaknya masih memanfaatkan stok yang ada. ”Akhir Oktober ini, pasokan komponen mulai tersendat. Dampak seriusnya baru terasa bulan depan,” ujarnya.

Direktur Pemasaran PT Toyota-Astra Motor Joko Trisanyoto mengatakan, selain komponen, pihaknya juga bergantung pada pasokan CBU, khususnya untuk mobil sedan. Hampir semua jenis sedan Toyota diproduksi di Thailand. Setiap bulan rata-rata pengiriman ke Indonesia mencapai 4.000 unit.

”Untuk CBU Toyota, pabrik di Thailand berhenti beroperasi hingga 20 November nanti. Minggu ini adalah pengiriman terakhir ke Indonesia sebanyak 1.000 unit. Artinya, minggu depan kami tidak lagi mendapatkan kiriman. Kami hanya bisa jual stok sampai habis,” tuturnya.

Jonfis Fandy, Direktur Pemasaran dan Layanan Purnajual Honda Prospect Motor, mengatakan bahwa banjir di Thailand seharusnya memberikan pembelajaran bagi kalangan industri untuk segera melokalisasi produksi komponen ke Indonesia. Hal tersebut tentunya butuh dukungan pemerintah berupa sarana infrastruktur yang memadai.

Akhir pekan lalu, Jonfis menegaskan, ”Belum ada informasi jelas mengenai dampak lebih lanjut dari banjir di Thailand. Akses ke pabrik masih tertutup. Yang pasti mengirimkan kira-kira 800 unit mobil Honda City, Civic, dan Accord tertunda sampai waktu yang tidak dapat diperkirakan.”

Pihak Honda Motor Co, seperti dikutip Reuters, Minggu menegaskan, telah menutup pabrik mereka di Thailand untuk sedikitnya enam bulan ke depan. Kondisi ini akan memukul sekitar 3 persen dari total penjualan Honda di seluruh dunia.

Sementara itu, Kepala Corporate Secretary Office PT Krama Yudha Tiga Berlian Intan Vidiasari mengatakan, Mitsubishi Motors pun telah mengumumkan penangguhan produksi di pabrik Thailand pada 18-29 Oktober 2011. Pihaknya masih tetap memonitor situasi di Thailand untuk segera memulai kembali produksi.

Sementara itu, Presiden Samsung Electronics dari Korea, Jun Dong-soo, menegaskan, banjir telah melumpuhkan produksi cip komputer laptop. ”Produksi laptop bakal terpukul sampai kuartal pertama tahun depan,” ujar Jun Dong-soo, seperti dikutip Reuters, Minggu (30/10). Thailand merupakan produsen cip komputer nomor dua dunia.

Kondisi Bangkok

Sampai hari Minggu, banjir yang melanda Bangkok, ibu kota Thailand, yang berpenduduk 12 juta jiwa itu, sedikit susut tertolong pasang surut di Teluk Thailand, tempat bermuara Sungai Chao Phraya, sekitar 20 kilometer selatan Bangkok. Sebelumnya, wilayah kota Bangkok yang berada di tepian aliran Sungai Chao Phraya digenangi air sampai ketinggian 2,5 meter.

”Semuanya bergantung pada laut pasang dan juga bagaimana karung pasir membendung luapan banjir,” ujar Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra di Bangkok, kemarin. Sejauh ini sebagian wilayah Bangkok terhindar dari banjir terburuk dalam beberapa dekade ini.

”Keadaan akan segera pulih sekalipun ancaman belum sepenuhnya berlalu,” ujar Yingluck, yang baru dua bulan menjadi perdana menteri. Laut pasang diperkirakan akan cukup tinggi pada hari Senin ini, dibandingkan pada hari Sabtu dan Minggu.

Banjir yang terburuk dalam setengah abad terakhir ini memaksa dua juta penduduk Thailand mengungsi. Provinsi Pathum Thani dan Provinsi Ayutthaya sedikit di utara Bangkok yang merupakan lokasi sejumlah pusat industri dilaporkan lumpuh total.

(OSA/LKT/MAS/ENY/REUTERS/PPG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau