Gempa turki

Pemerintah Hentikan Pencarian Korban Selamat

Kompas.com - 31/10/2011, 02:15 WIB

Ercis, Minggu - Pemerintah Turki akhirnya menghentikan proses pencarian korban selamat di dua kota yang paling parah terkena dampak gempa. Proses pemulihan sekarang difokuskan pada usaha membersihkan puing-puing dan menyediakan tempat tinggal dan pemanas ruangan bagi warga yang lolos dari bencana.

Proses pencarian dan penyelamatan korban di kota Van, ibu kota provinsi Van, Turki timur, sudah dihentikan sejak Sabtu (29/10). Sementara tim penyelamat masih mencari korban selamat di dua lokasi di kota Ercis.

Deputi Perdana Menteri Turki Besir Atalay, Sabtu, mengatakan, seluruh proses pencarian korban selamat akan dihentikan pada Minggu (30/10).

Hingga Minggu, jumlah korban tewas akibat gempa bermagnitudo 7,2 sepekan lalu telah mencapai 596 orang dan korban luka-luka menjadi 4.152 orang. Menurut Atalay, tim penyelamat telah berhasil mengeluarkan 231 korban yang terjebak di balik reruntuhan bangunan dalam keadaan hidup.

Korban selamat terakhir yang ditemukan adalah Ferhat Tokay (12) yang terjebak selama lebih dari 108 jam sebelum diselamatkan, Jumat lalu. Kemungkinan menemukan kembali korban selamat pun makin kecil setelah itu.

”Kecuali ada mukjizat, kemungkinannya sangat kecil ada orang lain yang bisa ditemukan masih hidup di bawah reruntuhan bangunan dalam cuaca sedingin ini,” kata seorang dokter.

Butuh tempat tinggal

Dengan penghentian proses pencarian korban selamat ini, otoritas Turki kini berkonsentrasi pada pemulihan pelayanan publik di dua kota itu dan memberikan tempat tinggal yang layak sebelum musim dingin tiba.

Di Ercis, sebagian toko dan ATM mulai beroperasi, Minggu. Listrik pun mulai menyala kembali di sebagian wilayah kota yang mulai dibersihkan menggunakan buldoser.

Namun, pemerintah memperingatkan warga untuk tetap berhati-hati menggunakan air leding karena dikhawatirkan telah tercampur air limbah saat pipa-pipa penyalur air leding pecah pada waktu gempa.

Selain itu, puluhan ribu warga juga mengkhawatirkan kondisi tempat tinggal mereka. Warga belum berani pulang ke rumah masing-masing karena masih takut dengan gempa susulan.

Sejak gempa pertama terjadi pada Minggu sore pekan lalu, telah terjadi tak kurang dari 1.400 gempa susulan. Hari Minggu pagi gempa susulan bermagnitudo 5,3 kembali memicu kepanikan warga.

”Rumah kami masih utuh, tetapi kami tinggal di tenda karena ketakutan. Kami akan pulang setelah gempa susulan tak ada lagi dan pemerintah menyatakan rumah kami aman,” tutur Fadli Kocak, seorang pengusaha roti di Ercis.

Akibatnya, kebutuhan tenda pun melonjak pesat. Pemerintah mengaku sudah menyebar sedikitnya 43.000 tenda di kota Van, tetapi tetap terjadi antrean panjang warga yang meminta tenda.

Padahal, dengan hujan dan hujan salju yang mulai turun dan suhu udara mendekati titik beku pada malam hari, tenda bukanlah tempat tinggal yang layak. Beberapa warga mulai sakit akibat berhari-hari tidur di tenda.

(Reuters/AP/AFP/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau