Promosi

Menang Kalah Komodo Mesti "Menang"

Kompas.com - 31/10/2011, 19:32 WIB
KOMPAS.com - Kemenangan memang belum di depan mata bagi komodo. Bahkan, dengan gencarnya dukungan melalui
layanan pesan singkat (SMS) ke 9818 berbanderol Rp1 per kiriman hingga batas akhir 11 November 2011 demi terpilihnya hewan langka bernama Latin varanus komodoensis menjadi satu dari 7 keajaiban baru dunia.

Tulisan yang di-posting di laman news.n7w.com pada 30 Oktober 2011 juga membubuhkan semangat gerakan rakyat (people power) untuk meraih sukses bagi komodo. Terkesan, segala daya upaya dikerahkan untuk memenangi pertarungan demi menyisihkan 27 nama pesaing komodo seperti Danau Laut Mati, Great Barrier Reef, Puerto Princesa, Pulau Jeju, Table Mountain, dan lain sebagainya.

Hal sama terlihat pula pada pekan lalu saat diskusi dan peluncuran iklan layanan masyarakat sokongan Sido Muncul bertajuk komodo itu pada Sabtu pekan lalu. Menurut direktur utama perusahaan jamu tersebut, Irwan Hidayat, iklan berbujet Rp 2,5 miliar itu bakal mendorong semangat segenap lapisan masyarakat untuk urun suara bagi kemenangan komodo. Menurut Irwan yang ikut menjadi bintang iklan tersebut bersama selebritas Ade Rai, Rieke Diah Pitaloka, Olga Lydia, Dony Kesuma, dan Bambang Pamungkas, iklan tersebut mulai tayang sejak Selasa (25/10/2011) sampai dengan Jumat (11/10/2011).

Dalam kesempatan senada, pegiat dari Pendukung Pemenangan (P2) Komodo Emmy Hafild mengatakan masyarakat di Tanah Air mestinya juga mencontoh aktivitas para tenaga kerja Indonesia (TKI) di Korea selatan. Menurutnya, mereka juga giat sekali mengirimkan suara baik melalui internet maupun SMS untuk mendukung komodo.

Masih menurut Emmy, sudah banyak kalangan yang berpartisipasi untuk memenangi komodo. Ia menyebutkan, selain mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dukungan juga datang dari artis-artis seperti Slank, RAN, Fadli dan sebagainya. "Pak JK (panggilan akrab untuk Jusuf Kalla-red) meminta semua membantu," kata Emmy.

Kendati demikian, dalam diskusi muncul juga catatan yang menjadi benang merah. Tentunya semua pihak akan senang dan bangga andai komodo menjadi satu dari tujuh keajaiban baru dunia.

Namun, andaikan yang terjadi sebaliknya, seluruh pihak seyogianya tetap membuat komodo "menang". Artinya, komodo dan habitatnya tetap lestari. "Komodo juga menjadi sarana untuk menyejahterakan masyarakat sekitar di Pulau Komodo maupun di Labuan Bajo," tutur Irwan Hidayat.

Catatan yang dikumpulkan Kompas.com menunjukkan pada 2008, data jumlah kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo atau Manggarai Barat sebanyak 25.000 wisatawan asing dan domestik. Kemudian, selama 2010, kunjungan mencapai angka 47.000 lebih dengan waktu lama tinggal antara 6-8 hari. 

Sementara, target pihak Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sampai dengan 2012 mencapai 8 juta orang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau