Indonesia mengajar

Wapres: Kalau Birokrat Ikut, Kacau

Kompas.com - 01/11/2011, 15:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Presiden Boediono mengatakan, Gerakan Indonesia Mengajar sebaiknya tidak diintervensi birokrat. Jika birokrat sampai ikut campur, program Indonesia Mengajar malah akan berjalan kacau.   

"Penggagas ide ini tidak mau birokrat ikut campur tangan. Kalau birokrat ikut, malah kacau nanti," kata Boediono, Selasa (1/11) di Kantor Wakil Presiden.

Hal tersebut disampaikan Boediono saat memberikan sambutan dalam acara pelepasan 47 pengajar muda angkatan ketiga Gerakan Indonesia Mengajar. Penggagas ide Indonesia Mengajar dan Ketua Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar Anies Baswedan, Direktur Utama Indika Energy Arsjad Rasjid, serta Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim hadir dalam kesempatan tersebut.

Karena itu, menurut Boediono, pemerintah hanya memeberikan dukungan. Entah itu dukungan untuk kelancaran program dan sebagainya, bukan intervensi langsung. "Kantor Wapres selalu siap membantu suatu program yang sangat mulia," katanya.

Sebanyak 47 pengajar muda yang belum lama lulus dari perguruan tinggi akan pergi ke berbagai daerah terpencil pada Kamis (3/11/2011) untuk mengajar di sekolah dasar yang kekurangan guru. Mereka bertugas selama satu tahun.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau