Orangutan Dilindungi, tetapi Tetap Dibunuh

Kompas.com - 01/11/2011, 16:08 WIB

KOMPAS.com — Studi 18 lembaga swadaya masyarakat yang dikoordinasi The Nature Conservacy mengungkapkan, pembunuhan orangutan masih terus berlangsung meski orangutan termasuk dalam kategori satwa yang terancam punah. Pembunuhnya pun sadar bahwa satwa tersebut sudah dilindungi negara.

Untuk mendapatkan hasil tersebut, peneliti yang terlibat melakukan wawancara pada 6.972 responden yang tersebar di 698 desa wilayah kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Studi  dilakukan selama 15 bulan mulai April 2008 hingga September 2009.

Fakta menarik dari penelitian tersebut adalah konflik antara manusia dan orangutan serta dampaknya. Konflik diartikan sebagai gangguan yang diterima manusia ketika orangutan masuk ke ladang, mengambil makan dan menjadi "hama".

Niel Mirkanuddin, TNC Project Manager Kalimantan, menguraikan, di antara semua responden yang diwawancarai, sebanyak 42 persen pernah berjumpa dengan orangutan. Waktu perjumpaan dengan orangutan lebih dari setahun lampau dan lokasinya di sekitar hutan.

Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 15 persen responden yang pernah menjumpai mengatakan bahwa konflik dengan orangutan pernah terjadi. Sebanyak 47 persen di antaranya melaporkan, konflik jarang terjadi, sementara 33 persen menyatakan konflik sering terjadi.

Wilayah yang paling sering terjadi konflik adalah Kalimantan Timur. Wilayah konflik umumnya berdekatan dengan perkebunan kelapa sawit, sawah, dan hutan tanaman industri. Dari terjadinya konflik, hanya 5 persen responden yang mengatakan berusaha membunuh orangutan.

Dari hasil survei, sebanyak 42 persen  responden yang bisa dipercaya mengatakan, pembunuhan orangutan terjadi di desanya. Istilah pembunuhan merujuk pada kematian orangutan akibat aktivitas manusia. Peristiwa pembunuhan terjadi dalam kurun waktu lima tahun lalu.

Provinsi Kalimantan Tengah merupakan wilayah dengan pembunuhan orangutan tertinggi. Secara keseluruhan, sebanyak 4,9 persen responden mengaku pernah membunuh orangutan. Dari 687 desa yang disurvei, sebanyak 145 di antaranya paling tidak memiliki satu warga yang pernah membunuh.

"Lokasi kematian umumnya terjadi di dataran rendah, tempat kepentingan manusia dan orangutan bertemu. Kecenderungan kematian terkait dengan jarak dari kebun kelapa sawit," kata Niel dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/11/2011).

Berdasarkan laporan pembunuhan oleh responden, sebanyak 691 orangutan telah dibunuh. Pembunuhan orangutan sendiri dilatarbelakangi oleh konsumsi (54 persen) dan sisanya untuk kepentingan pengobatan tradisional, pengambilan anak untuk piaraan, dan perdagangan.

Yang memprihatinkan, sebagian besar yakni 67 persen responden pelaku pembunuhan mengetahui bahwa orangutan merupakan satwa yang dilindungi undang-undang negara. Sementara 23 persen responden mengetahui bahwa orangutan dilindungi hukum adat.

Motivasi pembunuhan terutama untuk konsumsi, kadang disebabkan tidak memiliki pilihan lain dalam berburu. Orangutan dikatakan bukan target utama.

Niel mengatakan, "Penegakan hukum yang serius diperlukan sehingga bisa membuat efek jera. Kita lihat, sudah ada korban tetapi pelakunya belum tersentuh."

Sementara itu, Dr Noviar Andayani dari Wildlife Conservation Society mengatakan, data hasil penelitian memang masih perlu dicermati. Namun, lebih dari soal angka hasil penelitian, ia mengatakan, "Sekarang saatnya mencari solusi sehingga orangutan bisa dilestarikan."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau