Pesatnya Properti Dikhawatirkan Menggeser Arsitektur Bali

Kompas.com - 01/11/2011, 16:15 WIB

BALI, KOMPAS.com - Pulau Bali masih terus diincar para pengembang dan pebisnis untuk memperluas usahanya. Sayangnya, pertumbuhan properti baru di pulau ini dikhawatirkan menggeser semangat lokalitas dan jati diri arsitektur lokal.

"Arsitek dari luar Bali datang memberi sentuhan, kemudian lahirlah vila, cottage, butik hotel dan banyak lainnya. Kami tidak mengenal itu. Arsitektur Bali kini semakin jauh dari jati diri dan semangat lokalitas," kata Ketut Rana, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Bali dalam sebuah kesempatan di Bali, Kamis (27/10/2011).

Ketut menuturkan, di Bali memiliki peraturan daerah yang seharusnya dimengerti para arsitek dan pengembang yang ingin membangun di Bali.

"Kami berharap, ada pengkayaan khasanah arsitektur oleh arsitektur dari luar Bali atau luar Indonesia. Kami harap semuanya bertanggung jawab terhadap arsitektur Bali. Kalau kaidah itu hilang, maka tak ada yang mewarisinya," jelasnya.

Menanggapi keprihatinan ini, pada kesempatan yang sama, Ketua IAI Jakarta, Her Pramtama menghimbau agar para arsitek luar Bali yang memiliki proyek di pulau tersebut mau melakukan komunikasi dengan para arsitek setempat.

"Kemungkinan, para arsitek di luar Bali tidak mengerti kaidah dan aturan nonformal di sini. Misalnya, di samping pura tidak boleh ada bangunan dua lantai, karena aturan adat lebih berlaku ketimbang aturan formalnya," ujarnya.

Pramtama menyayangkan, jika kaidah-kaidah seperti ini tidak dipahami para arsitek di luar Bali.

"Ini tanggung jawab dan pekerjaan rumah bersama, yaitu bagaimana semua dapat menjaga semangat lokalitas dan spirit tradisional Bali sehingga tetap terjaga identitas karakternya," kata Her.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau