Surplus Perdagangan Susut

Kompas.com - 02/11/2011, 02:44 WIB

Jakarta, Kompas - Angka surplus perdagangan Indonesia pada September 2011 merosot dibanding angka surplus bulan Agustus 2011. Penurunan terutama karena ekspor yang menurun, baik volume maupun nilai jual produk yang diekspor. Volume yang turun diduga berkaitan dengan krisis global.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diumumkan di Jakarta, Selasa (1/11), menyebutkan, nilai ekspor bulan September 2011 sebesar 17,82 miliar dollar AS, naik 46,28 persen dibandingkan September 2010. Nilai ekspor itu mencakup migas (4,17 miliar dollar AS) dan nonmigas (13,65 miliar dollar AS).

Hanya saja, nilai ekspor September 2011 ini turun 4,45 persen dibanding ekspor Agustus 2011 sebesar 18,647 miliar dollar AS. Krisis ekonomi di Amerika dan Eropa diduga menjadi pemicu penurunan nilai ekspor ini.

Penurunan nilai ekspor September 2011 ini membuat surplus perdagangan menyusut. Surplus perdagangan September 2011 mencapai 2,7172 miliar dollar AS, turun dibanding surplus 3,5724 miliar dollar AS pada Agustus 2011.

Deputi bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa, BPS, Djamal, mengemukakan, penurunan nilai ekspor ini disebabkan oleh merosotnya pasar ekspor ke Eropa, yang dipicu oleh krisis, serta harga komoditas internasional yang turun.

Meski demikian, ujar Djamal, India kini menjadi pasar baru yang potensial. Neraca perdagangan India bulan September 2011 memberikan surplus besar, yakni 900 juta dollar AS.

Namun, secara kumulatif, ekspor bulan Januari-September 2011 sebesar 152,5 miliar dollar AS, atau naik 37,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-September 2011 mengalami surplus 22,53 miliar dollar AS. Impor kumulatif selama Januari-September 2011 sebesar 129,97 miliar dollar AS.

Ekspor kumulatif Januari-September 2011 ini juga masih lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 110,916 miliar dollar AS. Impor kumulatif Januari-September 2010 sebesar 97,32 miliar dollar AS. Surplus perdagangan periode itu hanya 13,59 miliar dollar AS.

Pelemahan ekonomi

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance, Fadhil Hasan, di Jakarta, Selasa, meminta pemerintah mewaspadai pelemahan ekonomi pada tahun 2012. Ini berkaitan dengan semakin menurunnya impor barang modal yang dibutuhkan industri.

Nilai impor barang modal Januari-September 2011 sebesar 23,04 miliar dollar AS atau naik 18,41 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Secara komposisi, impor barang modal Januari-September 2011 sebesar 17,73 persen. Angka ini turun jika komposisi impor barang modal Januari-September 2010 sebesar 19,98 persen.

”Kalau impor barang modal yang penting untuk industrialisasi terus menurun, sedangkan upaya pemerintah untuk memberdayakan industri masih rendah, maka ada kemungkinan terjadi pelemahan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012,” ujar Fadhil.

Hanya saja, data BPS menunjukkan, impor bahan baku penolong yang juga diperlukan untuk industri tercatat ada kenaikan. Nilai impor bahan baku/penolong periode Januari-September 2011 mencapai 96,98 miliar dollar AS atau naik 37,08 persen dibandingkan Januari-September 2010.

Secara komposisi, impor barang bahan baku/penolong pada Januari-September 2011 sebesar 74,63 persen, naik dibanding 72,65 persen pada periode Januari-Agustus 2010. (lkt/ppg)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau