"Borok" di Komite Eksekutif PSSI

Kompas.com - 02/11/2011, 16:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Kompetisi sepak bola tertinggi di Indonesia masih bermasalah. Ini diklaim sebagai cerminan buruknya koordinasi dan kondisi internal PSSI sendiri, bahkan di dalam tubuh Komite Eksekutif (Exco) yang memiliki kekuasaan tertinggi di PSSI secara kolektif.

FIFA dan AFC sendiri enggan ikut campur. Begitu pula Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng. Mereka menyerahkan penyelesaian kisruh internal kepada pengurus PSSI sendiri.

Kemarin, salah satu anggota Komite Eksekutif PSSI, Toni Apriliani, mengancam akan mundur jika kisruh di PSSI tak kunjung diselesaikan. Sejumlah rekannya di Komite Eksekutif juga mendukungnya, termasuk Erwin Dwi Budiawan.

Dalam percakapan singkat dengan Kompas.com, Rabu (2/11/2011), Erwin mengungkapkan borok yang terjadi di internal Komite Eksekutif PSSI sendiri. Dia berharap persoalan inilah yang bisa segera diselesaikan untuk mengembalikan prestasi sepak bola Indonesia.

Apa yang membuat Toni kecewa dengan PSSI?
Sebenarnya di Exco tidak hanya Pak Toni yang kecewa. Pak La Nyalla (Matallitti), Pak Berto (Roberto Rouw) dan saya kecewa karena kebijakan yang dikeluarkan PSSI beberapa melanggar statuta, dan ada yang tidak dibicarakan di rapat Exco.

Contoh yang tak pernah dibahas dalam rapat Exco?
Contohnya pembentukan PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) dan komposisi sahamnya, penunjukan deputi sekjen, termasuk pengampunan Saleh Mukadar, Persibo, Persema, dan PSM.

Apa benar ada dua kubu dalam tubuh Komite Eksekutif PSSI?
Sebenarnya terbelah jadi tiga. Ada yang mengusung 24 tim dan PT LPIS. Ada yang mendukung kompetisi diisi 18 tim dan PT Liga Indonesia, dan ada yang masih netral.

Apakah antara kubu ini terjalin komunikasi yang baik?
Jangankan kami yang bertiga. Pak Toni yang Wakil Ketua Komite Kompetisi saja dari awal sudah ditinggal terus sama mereka yang membuat kompetisi menjadi 24 tim.

Berarti sama saja Anda dan teman-teman tidak dianggap?
Walaupun begitu, kami akan tetap coba meluruskan dan mengingatkan PSSI untuk patuh dengan statutanya sendiri.

Kabarnya Komite Etik PSSI akan menindaklanjuti sikap anggota Exco yang mbalelo. Menurut Anda?
Ya silakan, asal sesuai dengan aturan dan sesuai surat jawaban FIFA bahwa PSSI harus mengikuti aturan yang ada di dalam statutanya.

Soal surat FIFA, tanggapan Anda?
Surat FIFA itu kan jelas mengatakan bahwa FIFA dan AFC belum akan mengintervensi masalah internal PSSI. Artinya, mereka menghormati kedaulatan PSSI selama PSSI bisa menyelesaikannya di badan arbitrase (belum dibentuk) atau melalui kongres yang merupakan badan supremasi tertinggi di PSSI. Sekali lagi, badan tertinggi di PSSI, yang artinya bahwa keputusan kongres adalah keputusan tertinggi di organisasi PSSI dan hanya bisa diubah di kongres juga, bukan oleh Exco. Di paragraf tiga, FIFA juga mengatakan bahwa semua keputusan Exco harus mematuhi Statuta PSSI.

Kongres bisa jadi solusi masalah PSSI?
FIFA dan AFC mengatakan seperti itu dalam suratnya karena badan arbitrase belum dibentuk oleh PSSI.

Anda sepakat jika akhirnya terjadi kongres?
Secara pribadi saya kurang setuju kalau sampai ke kongres. Untuk menuju kongres butuh waktu dan biaya yang besar. Namun jika memang jalan kongres yang harus ditempuh, ya monggo (silakan). Sekarang ini kan tidak hanya kami di Exco yang mulai protes. Para anggota PSSI pun sekarang protes keras dengan keputusan yang dikeluarkan PSSI.

Apa langkah yang bisa diambil untuk mengembalikan PSSI ke jalurnya?
Bingung juga saya jawab itu. Beberapa Exco sudah mengingatkan, anggota PSSI juga sudah protes, FIFA dan AFC sudah mengirimkan surat, supaya PSSI mematuhi statuta. Kami ajak kongres juga tidak mau.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau