”Perlu sistem pengawasan standar mutu perawatan armada bus transjakarta. Jika ditemukan pelanggaran, berikan sanksi tegas,” kata Azas Tigor.
Azas Tigor prihatin dengan begitu banyaknya kasus kebakaran armada bus transjakarta yang diduga karena korsleting peralatan listrik di dalamnya, juga terjadinya ledakan tabung gas bus di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) Pinang Ranti, Jakarta Timur, pekan lalu. Belum lagi sederet kasus kecelakaan yang melibatkan bus transjakarta.
Azas Tigor mengaku kecewa terhadap penyelidikan ledakan tabung gas bus transjakarta yang hingga kini belum selesai. Padahal, hasil penyelidikan polisi bisa menjadi dasar akurat untuk menentukan langkah perbaikan signifikan terhadap armada bus transjakarta dan sistem operasional secara menyeluruh.
Selasa (1/11), Kepala Subbagian Humas Polres Metro Jakarta Timur Komisaris Didik Hariyadi menyatakan, penyelidik masih menunggu hasil pemeriksaan tim Pusat Laboratorium Forensik Polri terkait ledakan di SPBG Pinang Ranti.
Kepala Laboratorium Transportasi Universitas Indonesia yang juga aktif sebagai pengurus Masyarakat Transportasi Indonesia, Ellen SW Tangkudung, menambahkan, adanya korsleting peralatan di dalam armada yang sedikitnya telah terjadi tiga kali dalam sebulan terakhir, juga kasus ledakan tabung gas bus transjakarta, menunjukkan adanya indikasi perawatan yang tidak tepat. ”Harus ada penelitian mendalam atau audit tentang busway dan penggunaan bahan bakar gas. Jangan tunggu ada korban,” katanya.
Terkait kemungkinan perawatan armada bus transjakarta yang tidak sesuai standar, secara kasatmata bisa dilihat di beberapa bus, khususnya yang melayani Koridor I Blok M-Kota.
Pekan lalu, saat berada di bus JET 053, misalnya, lapisan kulit pada bagian atas pintu keluar masuk penumpang sudah mengelupas. Di bus JET 038, dalam perjalanan dari Ratu Plaza menuju Kota, terlihat lantai bus yang mengelupas, robek, membentuk semacam lubang besar. Kerusakan lantai bus ini terjadi di beberapa tempat di sepanjang koridor dalam bus tersebut. Pintu bus pun tidak secara otomatis bisa menutup atau membuka.
Pendingin ruangan di dalam bus pun banyak yang tidak berfungsi maksimal. ”Sudah mirip naik metromini,” kata Putri, penumpang bus transjakarta.
Putri juga pernah melihat pintu salah satu bus transjakarta di Koridor VIII Lebak Bulus-Harmoni tak bisa ditutup. ”Kaget juga melihat busway pintunya terbuka, padahal sedang jalan,” katanya.
Kecelakaan yang melibatkan bus transjakarta kembali terjadi di Jakarta Timur. Rabu siang, bus transjakarta tujuan Kampung Melayu menabrak Jopie, penyeberang jalan, di ruas Jalan Jatinegara Timur, Jatinegara. Jopie mengalami patah kaki dan dirawat di Rumah Sakit Premier Jatinegara. Kecelakaan itu terjadi ketika Jopie hendak menyeberang jalur khusus bus transjakarta di depan kawasan pasar kaki lima Jembatan Item, Jatinegara, dan saat bersamaan, bus transjakarta melintas.
”Korban turun dari angkot di jalur cepat, kemudian menyeberang jalur busway,” kata Kepala Satuan Wilayah Lalu Lintas Jakarta Timur Ajun Komisaris Besar Sudarsono. Pihaknya memperkirakan, kecelakaan itu terjadi akibat kelalaian penyeberang.
Sehari sebelumnya, bus transjakarta menabrak penyeberang jalan di jalur khusus bus ruas Jalan Otto Iskandardinata, Bidaracina, Jatinegara. Korban, Ryan (16), selamat meskipun pelajar itu mengalami memar di dada dan lecet di punggungnya. Namun, warga yang diduga emosi melihat kecelakaan itu merusak kaca depan bus transjakarta.
Terkait insiden itu, Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur Mirza Ariyadi menyatakan akan meminta penambahan sarana penyeberangan, berupa jalur penyeberangan dan rambu-rambu peringatan keselamatan menyeberang di lokasi ramai penyeberangan jalur khusus bus, kepada pengelola bus transjakarta, atau BLU Transjakarta, dan Dinas Perhubungan.