Kriminalitas

Anak SMA Itu Sudah Terbiasa dengan Kekerasan

Kompas.com - 04/11/2011, 10:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Dendam lama antarsekolah membawa ZF (16) meringkuk di tahanan Kepolisian Resor Jakarta Pusat, Kamis (3/11/2011). Siswa kelas 1 SMA negeri di Jakarta Pusat ini menjadi tersangka pembacokan yang menyebabkan Intan Pratiwi (16) meninggal dunia.

Saat kejadian, Rabu, ZF tengah berjalan kaki bersama sepuluh kawan sekolahnya di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat. Sementara Intan Pratiwi melewati lokasi kejadian dengan dibonceng oleh M Rahman (16).

”Sebenarnya saya kesal dengan pria yang membonceng korban. Sambil lewat, dia mengejek sekolah saya,” ujar ZF yang mengaku tidak mengenal Rahman ataupun Intan Pratiwi.

Lantaran ejekan itu, ZF dan teman-temannya mengejar kedua pelajar SMA tersebut. ZF mengeluarkan celurit yang ada di tasnya. Sekali tebas, benda tajam itu mengenai Rahman dan Intan Pratiwi. Keduanya jatuh tersungkur. Sabetan celurit itu mengenai paha Intan Pratiwi. Nyawa Intan Pratiwi lantas tidak tertolong lagi.

Sementara ZF kabur setelah kejadian itu. Massa di sekitar lokasi lantas mengejar pelaku. Beberapa kawan ZF yang seperjalanan juga menjadi sasaran amuk massa. ZF yang bersembunyi akhirnya tertangkap dan digiring ke Polsek Kemayoran. Tawuran pelajar

ZF mengaku beberapa kali terlibat tawuran antarpelajar. Tawuran antar-SMA biasa terjadi di kawasan pintu air, Jalan Gunung Sahari. Karena itu, dia dan teman-temannya sangat sensitif ketika ada yang mengeluarkan kata-kata seakan menghina SMA-nya.

Tawuran antarpelajar biasa terjadi ketika dia menumpang bus. ”Sering kali bus saya ditimpuki dan kami diminta turun. Kalau sudah begitu, tawuran deh,” kata pria yang bertubuh kurus itu.

Eratnya ikatan antarsiswa sekolah juga membuat ejek- mengejek di dunia maya bisa berlanjut hingga ke benturan fisik di antara siswa dari dua sekolah yang berbeda. Tak heran, ketika ada yang mengejek anak- anak yang tengah berjalan kaki, emosi mereka lantas tersulut.

Dendam semakin dalam ketika ada pelajar yang mengalami luka akibat tawuran. ZF bercerita, ada kawannya yang juga pernah kena bacok atau tersiram air keras.

Kebiasaan yang terbentuk tersebut membuat ZF dan anak-anak yang terbiasa tawuran selalu bersiap dengan senjata. Senjata tajam, seperti celurit, menurut ZF, dibawa bergiliran untuk mengantisipasi bila terjadi tawuran.

ZF mengaku tidak pernah dilarang tawuran. Apalagi, sehari-hari dia tinggal bersama kakek dan neneknya. Untuk kebutuhan hidup sehari-hari, kakek-nenek ZF sering menelepon kerabat untuk meminta bantuan uang. ”Kakek-nenek saya sudah tidak kerja lagi,” ujar ZF.

Sementara ibunya hanya ditemui sesekali di Pasar Senen bila dia membutuhkan uang untuk sekolah. ”Ibu saya kerja jadi pemetik cabai di pasar itu,” kata ZF yang mengaku tidak mengenal ayahnya.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Jakarta Pusat Ajun Komisaris Santike mengakui latar belakang ZF ikut membentuk anak ini menjadi sosok yang mudah melakukan kekerasan, seperti tawuran atau pembacokan.

”Anak ini juga kurang kasih sayang dari orangtua karena dia ikut dengan kakek-neneknya. Dia tidak suka ditanya ibu-bapaknya. Tetapi, kalau ditanya tentang kakek-neneknya, dia bisa menangis,” ujar Santike.

Dia mengatakan, polisi tetap memproses kasus itu sebagai penganiayaan berat. (ART)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau