Fauna dilindungi

Si "Pongo" Merindukan Damai

Kompas.com - 07/11/2011, 04:08 WIB

Ichwan Susanto

Hampir dua pekan lalu, tulang belulang orangutan kalimantan ditemukan di areal kebun kelapa sawit di Desa Puan Cepak, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Paparan penelitian tahun 2007 menyebutkan, setidaknya 691 orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) terbunuh dalam tahun itu. Sampai kapan?

Data kematian orangutan itu merupakan hasil penelitian The Nature Conservancy (TNC) bersama Perhimpunan Pemerhati dan Peneliti Primata Indonesia (Perhappi). Hasil wawancara dari 40 persen desa-desa (687 desa) di dekat hutan habitat orangutan ini, jika dielaborasi dan diolah, hasilnya mencengangkan.

Yang pasti, dari setidaknya 691 pembunuhan itu, 90 persennya dilakukan responden. Di antaranya, membunuh atas bayaran seseorang/perusahaan, selain ada yang sengaja berburu.

TNC, Perhappi, dan 18 LSM yang tergabung dalam penelitian ini memprediksi 750-1.800 orangutan dibunuh dalam setahun itu. Survei dengan metode wawancara pada rentang tahun April 2008-September 2009 itu diprediksi masih relevan dengan kondisi terkini, yang tanpa keberpihakan pada orangutan.

Berdasarkan data Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2004, jumlah orangutan di Pulau Kalimantan sekitar 57.000 ekor. Erik Meijaard dari People and Nature Consulting International menjelaskan, apabila populasi orangutan betina tersisa 1 atau 3 persen saja, kepunahan spesies dilindungi itu hanya soal waktu.

Itu terkait jarak kelahiran orangutan yang 6-9 tahun. Interval sembilan tahun ini yang terpanjang pada seluruh mamalia dan primata di dunia, seperti gorila (4 tahun) dan simpanse (6 tahun). Pada penelitian itu, jenis kelamin orangutan yang dibunuh tak ditanyakan.

Dari sisi perilaku, orangutan betina bersifat menetap dan pasrah. Adapun pejantan memiliki daya jelajah hingga radius 5.000-10.000 hektar. Betina, apalagi apabila masih menyusui, tak akan melawan meskipun diusir atau terjadi kebakaran.

Uji statistik studi TNC dan Perhappi menunjukkan, tingkat pembunuhan orangutan berhubungan dengan jarak terhadap kebun kelapa sawit, konsesi hak pengelolaan hutan (HPH), atau hutan lindung. Semakin dekat jarak dari sawit, pembunuhan orangutan meningkat.

Pembunuhan bukan tanpa kesadaran tentang status dilindungi orangutan. Hasil survei, sebagian besar responden mengetahui konsekuensi hukumnya.

Selain dilindungi Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan ekosistemnya, fauna ini diklasifikasikan sebagai spesies terancam punah (Lembaga Konservasi Internasional/IUCN 2010) dan terdaftar dalam Apendix I Konvensi Perdagangan Internasional Flora dan Fauna (CITES) yang melarang setiap perdagangan, baik nasional maupun internasional pada individu liar, tangkapan, ataupun bagian tubuhnya.

Belum adanya supremasi hukum, menurut Neil Makinuddin, Manajer Program Kehutanan TNC Indonesia, seolah menciptakan pembunuhan atas orangutan merupakan hal lumrah. Pada sejumlah kasus, pembukaan perkebunan atau usaha lain terkait hutan, pembunuhan orangutan sering kali menjadi pilihan mudah.

Untuk merehabilitasi orangutan butuh biaya lebih dari Rp 1,5 juta per ekor tiap bulannya. Sebuah biaya tambahan yang membebani operasional.

Jenis-jenis orangutan

Rondang SE Siregar, peneliti Wildlife Research Group-University of Cambridge, Inggris, menjelaskan, orangutan khas Indonesia dibagi dua jenis, orangutan sumatera (Pongo abelii) dan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus). Orangutan sumatera berwarna coklat kemerahan dan lebih terang daripada orangutan kalimantan yang lebih gelap dengan tubuh lebih gemuk dan gempal.

Selain itu, kantong pipi pejantan orangutan sumatera lebih kecil dibanding pejantan orangutan kalimantan yang mempunyai kantong tenggorokan terjumbai besar membentuk angka 8 pada wajah.

Di Kalimantan, spesies orangutan dibagi tiga, yakni Pongo pygmaeus pygmaeus (menghuni Sarawak-Malaysia dan Kalimantan bagian utara-barat), Pongo pygmaeus wurmbii (Kalimantan bagian tengah), dan Pongo pygmaeus morio (Sabah-Malaysia dan Kalimantan sebelah utara-timur).

Pada seminar di Jakarta, beberapa waktu lalu, Cheryl Knott PhD, pakar orangutan dari Universitas Boston, Amerika Serikat, yang juga Direktur Orangutan Project di Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat, menjelaskan, orangutan merupakan spesies besar satu-satunya yang hidup di pohon. Di Kalimantan, mereka mengalami musim kelimpahan buah dan paceklik. Itu ditambah sapuan El-Nino setiap 2-7 tahun, yang berdampak kekeringan.

Pada musim buah-buahan, biasanya Desember, orangutan 100 persen mengonsumsi buah. Saat paceklik, sekitar Februari, konsumsinya bervariasi, dari daun, dahan, kulit kayu, hingga serangga.

Penelitiannya menunjukkan, pada musim buah, orangutan mendapat 328 kilokalori per gram makanan. Dan, hanya 157 kilokalori per gram saat paceklik. Kelimpahan kalori disimpan di tubuh menjadi lemak dan dipakai saat paceklik.

Pola makan itu ikut andil pada kemampuan reproduksi orangutan liar. Selain faktor itu, orangutan yang menyusui anaknya hingga usia 4 tahun menjadikan fungsi ovariumnya tertunda. Masa menyusui merupakan saat terberat bagi betina.

Pejantan yang belum kawin akan cenderung agresif dan sangat tertarik pada betina yang sedang dalam masa ovulasi/subur. Berat pejantan pada fase yang disebut sebagai masa terbaik/puncak itu mencapai 86,4 kilogram. Setelah kawin, sifat pejantan itu menjadi berbalik 180 derajat. Orangutan jantan menjadi tidak agresif dan menjauhi betina yang sedang subur.

Pada masa puncak, pejantan riskan terluka akibat berkelahi dengan pejantan lain. Hasil otopsi pada beberapa tulang-belulang orangutan ditemukan bekas infeksi akibat gigitan dan keretakan pada tulang, yang diduga kuat akibat perkelahian antarpejantan.

Menjaga ekosistem

Keberadaan orangutan sering kali tak terlalu dipahami publik. Orangutan, dalam sejarah konflik dengan manusia, sering kali hanya dilihat sebagai hewan.

Lebih dari itu. Orangutan merupakan penyebar biji yang efektif. Tutupan hutan Kalimantan dan Sumatera, yang adalah penyeimbang iklim lokal dan global, di antaranya andil langsung orangutan.

Orangutan alias ”pongo” lebih bersahabat dengan keberlanjutan Bumi. Manusia? Baru meributkan pemanasan global dua dekade terakhir. Hanya dengan rasa kemanusiaan, orangutan dan hutan akan tetap lestari.

Selama kerakusan manusia diumbar, hanya kedukaan yang akan terus datang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau