Myanmar Dipertimbangkan

Kompas.com - 08/11/2011, 03:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Kalangan masyarakat sipil Myanmar cenderung melihat kesempatan mengetuai ASEAN pada tahun 2014 bakal lebih membuka sekaligus mendorong pemerintahan negeri itu untuk lebih serius dan bersungguh-sungguh menuntaskan proses demokratisasi dan reformasi di sana.

Penilaian itu disampaikan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa kepada Kompas di ruang kerjanya, Senin (7/11), saat diminta menyimpulkan hasil kunjungannya selama tiga hari ke Myanmar akhir pekan lalu.

Dalam lawatannya itu, Marty menemui perwakilan pemerintah, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang baru, dan kalangan masyarakat sipil, termasuk tokoh pejuang demokrasi, Aung San Suu Kyi.

Beberapa waktu lalu, Myanmar menyampaikan keinginan mereka mengetuai ASEAN tahun 2014 menggantikan Laos. Pada tahun 2005 negara-negara ASEAN sepakat menunda keketuaan Myanmar sambil menunggu perbaikan situasi politik dan demokrasi di sana.

”Dengan Suu Kyi, saya bertemu empat mata selama satu setengah jam. Menanggapi keinginan Myanmar itu, dia bilang dua hal. Bisa memahaminya dan berharap hal itu bisa diselesaikan dengan cara yang membawa kebahagiaan bagi rakyat Myanmar dan juga ASEAN,” ujar Marty.

Penyikapan lebih kurang serupa, menurut Marty, juga ditunjukkan sejumlah perwakilan masyarakat sipil di sana, yang secara khusus dipilih dan diminta bertemu.

”Paling tidak, baik Suu Kyi maupun perwakilan masyarakat sipil (yang ditemui) tidak ada yang bilang tidak atau terang-terangan menolak (Myanmar mengetuai ASEAN tahun 2014). Mereka umumnya melihat (keketuaan) bisa jadi pendorong perbaikan di Myanmar,” kata Marty.

Lebih lanjut, Marty juga meminta negara-negara Barat, yang terbilang relatif kaku dalam mendekati Myanmar selama ini, agar mengubah cara pendekatan mereka serta segera mencabut sejumlah kebijakan sanksi yang sebelumnya mereka jatuhkan.

”Ini waktunya bagi semua pihak mengubah pendekatan mereka. Tidak bisa cuma salah satu pihak yang berubah. Saya berharap ke AS dan negara Barat, jangan saling menganulir. Tidak perlu lagi mempertanyakan ada motif apa di balik (perubahan Myanmar) itu. Mari upayakan perkembangan terus berlanjut,” ujar Marty.

Namun, Marty mengaku belum berani memastikan apakah dalam momen KTT Ke-19 ASEAN di Nusa Dua, Bali, besok para kepala negara akan mengeluarkan keputusan final soal keketuaan Myanmar di ASEAN tahun 2014.

Akan tetapi, penyikapan berbeda disampaikan sejumlah LSM dalam rapat dengar pendapat umum bertema ”Pelanggaran HAM di Myanmar”, yang digelar sejumlah LSM asal Myanmar dan Indonesia di Jakarta.

Mereka meminta ASEAN menunda keketuaan Myanmar tahun 2014. Menurut Khin Ohmar dari Burma Partnership, pasca- pemilu November tahun lalu keadaan tidak jadi lebih baik.

Kejahatan terhadap kemanusiaan justru makin meningkat setahun terakhir. Perubahan hanya terjadi di pusat kota, seperti Naypyidaw dan Rangoon, tetapi tidak demikian di daerah-daerah konflik dan terpencil.

Sejumlah LSM yang hadir di Jakarta, antara lain, South East Asia People’s Center, SAPA Task Force on ASEAN Burma, dan Kontras. (DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau