Masalah papua

Presiden Akui Otonomi Khusus Kurang Efektif

Kompas.com - 10/11/2011, 02:55 WIB

Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakui pelaksanaan otonomi khusus bagi Papua dan Papua Barat selama ini berjalan kurang efektif. Oleh sebab itu, tugas pokok Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat sekarang adalah mendorong pelaksanaan otonomi khusus menjadi lebih efektif dan terutama memastikan dana pembangunan di Papua dan Papua Barat sungguh-sungguh tepat sasaran.

”Pastikan program dan anggaran yang ditetapkan dalam APBN dan APBD benar-benar dilaksanakan. Tidak kalah penting, wajib memberikan bantuan kepada pemerintah daerah Papua dan Papua Barat,” ujar Presiden saat membuka rapat kabinet terbatas yang membahas Papua di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (9/11).

Rapat ini juga diikuti Kepala Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) Bambang Dharmono.

Otonomi khusus bagi wilayah Papua berlaku sejak 10 tahun lalu setelah Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua dikeluarkan. Namun, ekspresi ketidakpuasan dan gangguan keamanan terus muncul sampai sekarang. Dana otonomi khusus begitu besar dan pemanfaatannya dikeluhkan oleh berbagai kalangan tidak menyentuh hingga lapisan masyarakat Papua paling bawah.

Menurut Yudhoyono, ada tiga pilar yang menjadi dasar mengatasi persoalan di Papua. Pertama adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedua, otonomi khusus. Ketiga, percepatan pembangunan di Papua dan Papua Barat.

Ketiga pilar kebijakan tersebut telah dijabarkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Namun, dari hasil evaluasi, pelaksanaannya dinilai kurang efektif. Atas dasar alasan ini, dibentuk UP4B yang memiliki tugas utama meningkatkan koordinasi atau sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.

Dalam pengantar rapat, Presiden juga memerintahkan kementerian-kementerian di bidang ekonomi memberikan prioritas pembangunan bagi Papua dan Papua Barat. Adapun untuk kementerian di bidang kesejahteraan rakyat, Presiden meminta mereka aktif menyelesaikan sengketa perburuhan yang terjadi di PT Freeport Indonesia. Khusus untuk kementerian di bidang politik, hukum, dan keamanan, Presiden menginstruksikan mereka menegakkan hukum dan keamanan sebaik mungkin.

Datang ke Papua

Kemarin, Presiden juga mengatakan, jika perlu, aparat pemerintah pusat datang ke Papua untuk melihat situasi. ”Lihat situasinya, pahami, dan cari solusi. Beda apabila Saudara menerima laporan dan membahasnya di Jakarta dengan datang ke sana dan berdiskusi dengan pemerintah daerah serta tokoh masyarakat dan agama untuk mencari solusi yang baik,” kata Presiden.

Dalam jumpa pers seusai rapat kabinet, Bambang Dharmono menegaskan, pekerjaan yang akan segera dilakukan adalah melakukan komunikasi konstruksi berupa dialog.

”Kami akan mendengarkan dengan sungguh-sungguh apa yang mereka butuhkan,” ujarnya.

Duduk bersama

Dihubungi kemarin di Jayapura, Ketua Sinode Gereja Kingmi Pendeta Benny Giyai mengatakan, pemerintah dan orang asli Papua harus duduk bersama untuk membicarakan bersama apa yang diperlukan guna menjawab persoalan Papua. Benny menyesalkan, UP4B dibentuk tanpa melibatkan rakyat Papua.

Dihubungi secara terpisah, Sekretaris Jenderal Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua Se-Indonesia Markus Haluk menengarai, UP4B hanya bagian dari politik pencitraan pemerintah terkait persoalan Papua.

Koordinator Umum Komite Nasional Papua Barat Victor Kogoya mengatakan, UP4B tidak akan mampu menjawab apa pun.

Di Freeport

Dalam perkembangan di Timika, Kabupaten Mimika, Papua, dikabarkan, Kepala Bagian Operasi Kepolisian Resor Mimika Komisaris Syamsu Ridwan menemui ratusan karyawan PT Freeport Indonesia yang berkumpul di Checkpoint 1, areal Freeport di Timika.

Salah seorang koordinator karyawan, Hengky Binur, mengatakan, karyawan akan tetap menutup akses ke areal Freeport sampai tuntutan kenaikan upah dikabulkan oleh manajemen PT Freeport.

”Polisi juga harus memahami dasar kami tidak mengikuti tata tertib yang ada,” ujarnya.  (JOS/APA/ATO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau