Kans Emas di 10.000 Meter

Kompas.com - 12/11/2011, 02:48 WIB

Palembang, Kompas - Indonesia berpeluang meraih emas pertama cabang atletik dari nomor lari 10.000 meter putri pada perlombaan Sabtu (12/11) di Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan. Harapan meraih emas itu ada pada pelari spesialis nomor jarak jauh asal Salatiga, Jawa Tengah, Triyaningsih.

Peserta nomor lari 10.000 meter putri hanya empat atlet, yaitu Triyaningsih dengan catatan waktu terbaik 34 menit 4,92 detik, Ni Lar San (Myanmar/36:14,30), Thi Binh Pam (Vietnam/37:05,18), dan Thi Hien Pham (Vietnam/37:17,90).

Jumlah peserta minim dan prestasi Triyaningsih yang lebih unggul daripada pelari lainnya memperbesar peluang Triyaningsih untuk mendapat emas.

Sekretaris Umum PB PASI Tigor M Tanjung seusai technical meeting atletik di Stadion Atletik Jakabaring, Palembang, Jumat (11/11), mengatakan, Sabtu ini perlombaan atletik memperebutkan 10 emas. Medali itu dari nomor lompat jauh putri, lempar cakram putra, lempar lembing putra, lempar martil putri, 10.000 meter putri, 100 meter putra dan putri, 3.000 meter halang rintang putra dan putri, dan tolak peluru putra.

Peluang Indonesia meraih emas ada di nomor 10.000 meter putri dan 100 meter putra. Namun, peluang mendapatkan emas di 100 meter putra berat karena sprinter Suryo Agung Wibowo, peraih dua emas nomor 100 meter dan 200 meter di SEA Games Laos 2009, absen di SEA Games 2011.

”Triyaningsih yang terkuat di antara pelari lainnya di nomor 10.000 meter. Seharusnya dia dapat mengalahkan pelari lainnya, tetapi mereka tetap harus diwaspadai,” kata Tigor.

Indonesia di SEA Games Laos 2009 mendapat tujuh emas dari atletik. SEA Games kali ini, Tigor memperkirakan perolehan emas atletik akan berkurang dua keping dengan absennya Suryo Agung Wibowo.

”Kami berusaha keras melatih sprinter muda seperti Franklin R Burumi dan Fadlin untuk menggantikan Suryo,” ujarnya.

Sprinter senior Thailand, Wachara Sondee, di atas kertas mendominasi nomor lari 100 meter putra. Catatan waktu terbaiknya 10,30 detik yang tercipta di SEA Games Laos 2009.

Pencapaian terbaik sprinter asal Nusa Tenggara Barat, Fadlin, adalah 10,42 detik pada babak penyisihan Kejuaraan Nasional Atletik 2011. Catatan waktu terbaik sprinter asal Papua, Franklin R Burumi, 10,33 detik kala meraih emas di Kejuaraan Atletik Jatim Open 2011.

Perubahan jadwal

Ketua panitia pelaksana cabang atletik, Sri Hastuti Merdiko, mengatakan, kekurangan arena pertandingan tinggal pemasangan lampu stadion yang masih mengalami gangguan.

”Malam ini harus kerja keras agar Sabtu lampu bisa menyala karena pertandingan berlangsung sampai malam,” kata Tuti.

Pada technical meeting tidak ada keluhan dari kontingen. Mereka sepakat waktu perlombaan lari maraton dan jalan cepat lebih awal 30 menit dari jadwal semula. Lari maraton yang dimulai pukul 06.00 dimajukan pukul 05.30. Nomor jalan cepat yang semula mulai pukul 06.30 dimajukan pukul 06.00. Perubahan itu karena sinar matahari begitu terik di Palembang.

Tuti menjelaskan, delegasi tek- nis mengeluhkan fasilitas hotel di Palembang sehingga PB PASI memindahkan mereka ke hotel yang lebih baik dengan biaya PB PASI, Kamis. Panitia pertandingan yang menginap di kapal juga pindah ke wisma. (WAD)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau