Menuju Rinjani Menjadi "Geopark" Dunia

Kompas.com - 12/11/2011, 13:23 WIB

MATARAM, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat beserta empat pemerintah kabupaten di Pulau Lombok Tengah merampungkan berbagai persyaratan pengajuan usulan Taman Nasional Gunung Rinjani untuk ditetapkan menjadi taman bumi atau geopark dunia.

"Diupayakan rampung akhir tahun ini agar dapat diteruskan ke Komite Nasional Pengajuan Usulan Geopark, awal 2012 untuk ditindaklanjuti sesuai prosedur dan mekanisme pengusulan," kata Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Rosiady Sayuti, di Mataram, Sabtu.

Ia mengatakan, sebelumnya usulan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) untuk ditetapkan menjadi salah satu geopark dunia, diajukan ke Sekretariat Global Geoparks Network (GGN) UNESCO oleh Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar).

Namun, usulan yang disampaikan awal 2010 tersebut terancam terpental dari calon geopark dunia karena dokumen teknis sebagai berkas pendukungnya belum lengkap.

UNESCO juga meminta dalam pengajuan usulan itu disertakan dua lokasi lainnya yang juga memungkinkan jadi geopark dunia, sebagai pendamping TNGR.

Para ahli geologi Indonesia kemudian terlibat membantu yang diawali dengan seminar geologi yang digelar di Bandung, Jawa Barat, 23 Juli 2010.

Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi pun membentuk Tim Rinjani untuk menghadiri seminar geologi itu sekaligus berupaya melengkapi persyaratan menjadi geopark dunia.

Rosyadi merupakan bagian dari Tim Rinjani itu, selain Kepala Distamben NTB Eko Bambang Sutedjo, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) NTB Lalu Gita Aryadi, Kepala Dinas Kehutanan NTB Hartina dan ahli geologi NTB Heryadi Rahmat yang kini mengabdi di Kementerian ESDM.

Salah satu rekomendasi seminar geologi di Bandung itu adalah perlu dibentuk Komite Nasional Pengajuan Usulan Geopark yang melibatkan berbagai unsur terkait dan komite nasional itu akan memperjuangkan penetapan geopark dunia dan penetapan geopark nasional Indonesia.

Sejauh ini, ada tiga objek kawasan yang akan diperjuangkan menjadi geopark, yakni Gua Kapur di Pacitan, Jawa Timur, dan Gunung Batur di Kintamani, Bali, serta TNGR di Lombok.

"Khusus TNGR akan diperjuangkan menjadi geopark dunia, sementara Gua Kapur dan Gunung Batur dijadikan pendampingnya atau alternatif usulan," ujarnya.

Karena itu, kata Rosiady, NTB dituntut untuk melengkapi berkas pendukung pengajuan usulan TNGR untuk ditetapkan sebagai geopark dunia sehingga dialokasikan anggaran sebesar Rp 250 juta dalam APBD 2011.

"Kini, berbagai berkas pendukung telah terhimpun dan akan segera diajukan ke Komite Nasional Pengajuan Usulan Geopark. Mudah-mudahan berjalan lancar agar paling lambat akhir 2012 berkas-berkas itu sudah sampai di UNESCO," ujarnya.

Mekanisme pengusulan TNGR menjadi geopark dunia, terlebih dahulu disampaikan kepada Komite Nasional Pengajuan Usulan Geopark itu kemudian diteruskan ke UNESCO.

Rinjani berpeluang menambah jumlah geopark dunia yang saat ini berjumlah 53 buah dan tersebar di 17 negara di bawah jaringan UNESCO.

TNGR diusulkan menjadi calon geopark dunia ke UNESCO karena memiliki sedikitnya lima hal pokok untuk menjadi geopark global.

Kelima hal pokok itu adalah pertama, Gunung Rinjani memiliki nilai-nilai warisan geologi penting dari aspek kegunungapian, situs warisan alam berupa kaldera, kerucut-kerucut gunung api muda, lapangan solfatara, mata air panas, dan bentangan lainnya yang mempunyai nilai estetika tinggi seperti air terjun.

Kedua, situs-situs geologi gunung api mempunyai makna bagi pengembangan ilmu pengetahuan kebumian dan pendidikan.

Ketiga, Gunung Rinjani telah mempunyai badan pengelola, yakni Rinjani Tracking Manajemen Board (RTMB), yang melibatkan warga lokal setempat secara aktif.

Keempat, penyelenggara pariwisata berbasis geologi yang telah banyak memberi manfaat berupa pertumbuhan ekonomi lokal melalui jasa pemandu, penginapan, rumah makan, transportasi, dan penjualan cendera mata.

Kelima, sebagai bentuk keberhasilan pengembangan pariwisata karena Gunung Rinjani telah memperoleh tiga penghargaan internasional yakni "World Legacy Award" untuk kategori "Destination Stewardship" dari "Conservation International and National Geographic Traveler" 2004, finalis "Tourism for Tomorrow Award" masing-masing tahun 2005 dan 2008.

Kawasan TNGR mencakup sebagian wilayah Kabupaten Lombok Barat seluas 12.360 hektar meliputi dua kecamatan dengan 15 desa, Lombok Tengah seluas 6.824 hektar yang mencakup dua kecamatan tersebar pada lima desa dan Kabupaten Lombok Timur pada tujuh kecamatan yang tersebar pada 17 desa dengan luas kawasan 22.146 hektar.

Salah satu pesona unggulan TNGR adalah Danau Segara Anak yang berada pada ketinggian 2.010 meter dari permukaan laut. Danau Segara Anak berada di sebagian Gunung Rinjani yang tingginya mencapai 3.726 meter dari permukaan laut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau