Atletik

Sekarang Eranya Sprinter Muda

Kompas.com - 13/11/2011, 01:45 WIB

Stadion Atletik, Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, menjadi saksi pembuktian para sprinter muda Indonesia di kancah olahraga Asia Tenggara. Sabtu (12/11) malam, dua sprinter muda yang sama- sama berasal dari Papua, Franklin Ramses Burumi (20) dan Serafi Anelis Unani (22), menyandingkan medali emas nomor lari 100 meter putra dan putri. Mereka bersaudara sepupu. Ibunda Serafi adalah kakak dari ibunda Franklin.

Di cabang atletik, nomor lari 100 meter adalah nomor bergengsi. Mencari serta mencetak sprinter berpotensi sangat tidak mudah. Perolehan dua medali emas di nomor 100 meter putra dan putri itu di luar dugaan, bahkan PB PASI pun tidak berani menargetkan emas di nomor tersebut. Alasannya, sprinter senior Suryo Agung Wibowo mundur dari tim SEA Games. Padahal, di SEA Games Laos 2009, Suryo meraup dua emas dari nomor lari 100 meter dan 200 meter putra.

Meskipun skuad atletik Indonesia melemah, PB PASI tidak terlalu khawatir karena mereka memiliki cukup amunisi, yaitu para sprinter muda, seperti Franklin dan Fadlin di putra, serta Serafi di putri.

”PB PASI bekerja keras menyiapkan sprinter muda pengganti Suryo. Sprinter muda kita punya potensi,” kata manajer tim atletik SEA Games, Paulus Lay, beberapa bulan lalu.

Bagi Franklin, keberhasilannya juga sebagai pembuktian prestasi sekaligus memulihkan reputasinya. Sebelumnya, Franklin terdegradasi dari pelatnas SEA Games gara-gara hasil jeblok di Kejuaraan Dunia Atletik 2011 di Daegu, Korea Selatan. Alasan lain Franklin terdegradasi dari pelatnas karena dia tidak disiplin. Franklin membantah hal itu. Menurut dia, hasil jeblok di Daegu karena kakinya cedera.

”Saya kecewa,” kata Franklin ketika terdegradasi dari tim pelatnas di Senayan.

Padahal, pencapaian Franklin di Kejuaraan Atletik Jatim Open, akhir Maret 2011 di Surabaya, dengan catatan waktu 10,33 detik adalah yang tercepat di kawasan Asia Tenggara sepanjang tahun ini. Ketika itu, Franklin meraih emas, mengungguli Fadlin yang di final SEA Games kali ini finis di urutan keempat dengan pencapaian 10,51 detik.

Setelah terdegradasi, Franklin tidak lagi berlatih di Stadion Madya Senayan, Jakarta. Dia berlatih di Surabaya, Jawa Timur, bersama Pelatih Henny Maspaitella. Rupanya Franklin berubah sejak berlatih di Surabaya. Dia kembali tekun berlatih untuk menghadapi SEA Games.

Bersyukur

PB PASI memberikan kesempatan kepada Franklin. Jika prestasinya membaik, Franklin dapat bergabung dengan tim SEA Games kembali. Jadilah sprinter berambut gimbal itu memperkuat tim Merah Putih.

”Puji Tuhan! Saya senang sekali Tuhan masih memberikan kesempatan meskipun PB PASI sempat tidak percaya kepada saya,” kata Franklin gembira.

Ucapan itu meluncur lugas seolah ingin menunjukkan bahwa dia bisa berprestasi meskipun sebelumnya terpuruk. Dia berharap, kelak PB PASI jangan buru-buru mengambil keputusan mendegradasi atlet tanpa menilik lebih dalam kondisinya.

Mengenai absennya Suryo, Franklin mengatakan, ”Saya menyesal Bang Suryo tidak bisa membantu perkuat tim estafet SEA Games,” katanya singkat.

Franklin membuktikan kemampuannya di nomor lari 100 meter putra. Dia berharap masih dapat meraih emas di nomor lari 200 meter putra.

”Dia sprinter dengan bakat alami,” kata Henny yang melatihnya sejak enam bulan lalu.

Menurut Henny, Franklin kadang kurang serius latihan dan senang bermain-main. Dia pun sering kali mengabaikan instruksi pelatih.

Pendapat senada mengemuka dari Paulus Lay. Menurut dia, menghadapi Franklin harus dengan taktik khusus.

Kepada Kompas beberapa waktu lalu, Franklin mengakui paling malas berlatih ketahanan fisik. Dia kerap mangkir jika harus berlatih stamina.

Namun, Henny dengan tegas mengatakan, jika Franklin ingin menjadi sprinter sukses, dia harus membuang semua kebiasaan buruknya.

”Sprinter favorit saya Justin Gatlin (AS), bukan Usain Bolt (Jamaika). Teknik berlarinya sangat bagus,” kata Franklin.

Serafi yang adalah kakak sepupu Franklin pun tidak kalah terkejutnya menjadi yang tercepat di final lari 100 meter putri.

”Unbelievable (sulit dipercaya)! Tuhan luar biasa. Setelah dua tahun, akhirnya saya bisa menjadi juara,” kata Serafi.

Serafi mengatakan, kunci suksesnya adalah latihan dan latihan. Dia menargetkan menjuarai SEA Games tahun ini. Menurut Serafi, kemenangannya di nomor 100 meter putri bermakna lebih dalam, tidak sekadar meraih emas. Kemenangan itu adalah pembuktian sprinter putri Indonesia mampu berprestasi.

”Saya turun pula di nomor estafet 4 x 100 meter dan 4 x 400 meter. Semoga saya dan anggota tim estafet bisa berhasil,” ujarnya.

”Terima kasih kepada orangtua, teman-teman, pelatih, dan Pak Bob (Muhammad ”Bob” Hasan, Ketua Umum PB PASI),” ujar Serafi.

Semoga prestasi mereka terus berlanjut. Bravo sprinter muda!

(Wisnu Aji Dewabrata)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau