Cipinang Melayu Masih Rawan

Kompas.com - 14/11/2011, 05:23 WIB

Jakarta, Kompas - Sejumlah kawasan di Jakarta Timur masih rawan banjir meski Kanal Banjir Timur baru sudah bebas dari sumbatan sampah dan eceng gondok. Salah satu kawasan rawan banjir tersebut adalah Cipinang Melayu di Kecamatan Makasar.

Hampir tiap tahun kawasan ini di dera luapan Kali Sunter yang belum pernah dinormalisasi.

Kepala Satuan Kerja Nonvertikal Tertentu Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Balai Besar Sungai Ciliwung Cisadane Parno, Minggu (13/11), mengatakan, tahun 2010 pun tiga RT di Cipinang Melayu terendam banjir. Itu pun terjadi di tengah kemarau basah bulan Agustus dan September, dengan curah hujan tak terlampau tinggi.

Selain disebabkan oleh badan Kali Sunter yang menyempit, kawasan Cipinang Melayu juga berada di cekungan.

”Tetapi, 24 Oktober 2011 sudah ditandatangani kerja sama antara kementerian dan DKI untuk menormalisasi Kali Sunter. Namun, sepertinya DKI mengalami hambatan untuk membebaskan lahan di sepanjang kali itu karena keterbatasan dana,” ujarnya.

Empat sungai rawan

Banjir juga masih bisa terjadi di beberapa kawasan di Jakarta Timur yang berada di sekitar Kali Cipinang, Kali Buaran, Kali Jati Kramat, dan Kali Cakung. Meskipun dipotong saluran KBT (Kanal Banjir Timur), keempat sungai itu rawan meluap karena belum pernah dinormalisasi.

Jika dilihat dari segi rawan banjir, menurut Parno, Kali Cipinang dan Kali Buaran menempati urutan kedua dan ketiga setelah Kali Sunter.

”Kedua sungai itu sudah dilaksanakan normalisasi secara bertahap sejak 2009. Namun, memang sepertinya belum memberikan dampak yang signifikan sehingga perlu terus dilaksanakan normalisasi,” katanya.

Rawan genangan

Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Jakarta Timur Suhartono mengingatkan, sejumlah kawasan rawan genangan.

Akibat limpasan Kali Ciliwung, kawasan Kelurahan Cililitan, Cipinang, Bidaracina, Kampung Melayu, dan Kelurahan Manggis bakal tergenang. Sementara luapan Kali Baru bakal menggenangi Kelurahan Cipinang Cempedak, Rawa Bunga, dan Kelurahan Palmeriam.

Limpasan Kali Cipinang bakal menggenangi Kelurahan Pekayon (RW 7, seberang Pasar Cibubur), Ciracas, Kampung Rambutan (RW 1, 2, 3, dan 4), Halim (RW 6), Kebon Pala, Cipinang Besar Selatan, dan Kelurahan Cipinang Besar Utara.

Limpasan air Kali Sunter bakal menggenangi Kelurahan Cipinang Melayu (RW 3-RW 7), Pondok Bambu (RW 4 Cipinang Indah), Cipinang Bali, Kayu Putih, Pulogadung, dan Kelurahan Rawa Teratai.

Sampah

Kendati demikian, pemerintah juga terus mengupayakan penanganan banjir. Pengamatan Kompas, Minggu sore kemarin, arus air KBT di ruas jembatan Ujung Menteng, Jalan Bekasi Raya, dekat perbatasan Bekasi dan Jakarta Timur, yang sebelumnya tersumbat endapan lumpur, eceng gondok, dan sampah sudah mengalir kembali.

Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Jakarta Utara Rifig Abdullah mengeluhkan aliran sampah di KBT. Limpasan sampah itu sebagian besar datang dari kawasan hulu KBT di Jakarta Timur.

Muara KBT di Marunda, Jakarta Utara, kemarin, sudah lebih bersih dari genangan sampah. Kegiatan pengerukan lumpur di muara masih berlangsung. Menurut seorang pekerja, pengerukan untuk memperdalam muara sampai 2,5 meter dari permukaan laut.

Di Jakarta Selatan, Kampung Pulo, Pondok Labu, masih tergenang air Kali Krukut sejak delapan bulan lalu. Genangan lumpur dan sampah ini terjadi karena menyempitnya aliran kali akibat dibangunnya tanggul dan gorong-gorong. (MDN/WIN)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau