Kampung pulo

Tolonglah, Kampung Kami Masih Terendam

Kompas.com - 15/11/2011, 04:53 WIB

Sugiyono bersama sekitar 10 warga Kampung Pulo, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan, mendatangi Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Gedung DPR, Senayan, Senin (14/11). Mereka mengadukan nasib kampung tempat tinggalnya yang terus terendam banjir sejak Maret 2011 hingga kini.

”Ada perubahan besar di kampung kami sejak Maret, yaitu ketika pihak Marinir membangun gorong-gorong di badan kali sepanjang 1,2 kilometer dan menutupi bagian atasnya dengan tanah. Memang, sekarang bagian atasnya sudah dibongkar, tetapi gorong-gorong di dalam sungai masih ada. Itu mengganjal aliran air Kali Krukut,” kata Sugiyono.

Sebelum Maret, lebar Kali Krukut yang melintasi Kampung Pulo 6-12 meter, sekarang lebarnya rata-rata 1-4 meter.

”Kami hanya ingin dikembalikan dulu kali di kampung kami seperti sebelum Maret. Kalau setelah itu ada program penataan bantaran dan warga harus ada yang direlokasi, akan kami terima,” kata Sugiyono.

Dalam rombongan warga, ikut Sardi (60) yang menetap di Kampung Pulo sejak tahun 1983.

”Saya membeli tanah seluas 60 meter persegi seharga Rp 50.000 per meter perseginya. Tidak ada sertifikat, hanya kuitansi jual beli saja,” kata Sardi.

Menurut Sardi, yang juga diamini Sugiyono sebagai Ketua RT 11 RW 3 Kampung Pulo, tanah yang ditempati warga memang berstatus milik perorangan dan mereka dulu diizinkan tinggal dengan status menempati tanah garapan.

”Bukan di Kampung Pulo saja, tetapi sampai sebelum jalan Bango Raya itu juga tanah garapan,” kata Sugiyono.

”Dulu, paling lama banjir hanya berlangsung dua malam. Itu pun hanya terjadi bila ada air kiriman dari Bogor. Kalau hanya karena hujan di Jakarta, tidak akan banjir di sini. Air banjir pun dulu tak membawa lumpur dan sampah, tak seperti tahun ini,” kata Tigor Tambunan yang mengaku telah 21 tahun tinggal di Kampung Pulo.

Semua warga di Kampung Pulo membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Mereka penduduk resmi Jakarta karena beralamat jelas, termasuk RT dan RW-nya, memiliki kartu keluarga dan KTP. Kini mereka ingin pemerintah menelurkan solusi mengatasi banjir di rumah mereka.

”Pak Nurdin dan Pak Adang dari FPDI-P menyarankan kami mengadu ke Komisi I. Mereka yang akan membantu mempertemukan. Semoga upaya ini berbuah perhatian pemerintah kepada kami,” kata Sugiyono.

Hari Senin kemarin, selain ke DPR, warga Kampung Pulo juga mengadu ke Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia.

Aksi protes

Sebelumnya, hari Minggu (13/11), warga mencoba menarik perhatian masyarakat lain dan juga pemerintah setempat dengan mengadakan kerja bakti mengambil sampah dan lumpur di tengah banjir. Sebuah aksi sia-sia karena, meskipun relatif cerah pada hari itu, air dan lumpur tetap menggenangi Kampung Pulo, khususnya di RT 11.

Warga menggunakan alat seadanya, seperti garu besi, tongkat pel, dan batang bambu. serta tangan telanjang untuk mengambil sampah dan lumpur dari air banjir berwarna coklat. Genangan hari Minggu itu mencapai lutut orang dewasa, atau antara 50 cm dan 70 cm.

Sampah dan lumpur yang terambil dari air dikumpulkan di kantong dan bak bekas yang dapat diseret-seret di tengah banjir. Setelah terkumpul, ironinya, warga terpaksa menghanyutkannya kembali ke Kali Krukut. Namun, ada juga yang sebagian dibuang di lapangan yang tak tergenang banjir.

Ia mengatakan, aksi itu sebagai pernyataan bahwa warga Kampung Pulo masih ada di tempat tersebut. Warga berharap pemerintah dan masyarakat tetap tahu bahwa banjir masih belum surut.

Sejauh ini, tujuh dari delapan rumah di RT 11 yang berada persis di sisi Kali Krukut dibongkar. Sebagai ganti rugi, bangunan rumah yang dibongkar dihargai Rp 1 juta per meter persegi. Selain itu, warga juga diberi uang kontrak rumah Rp 1,5 juta untuk tiga bulan.

Di atas lahan rumah yang dibongkar itu, pihak Marinir membangun tanggul untuk mencegah air sungai masuk ke rumah warga Kampung Pulo. Namun, hal ini belum efektif karena bukan dari titik itu air Kali Krukut masuk ke kampung.

(NEL/LKS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau