37 Nelayan Tradisional Sumut Masih Ditahan di Malaysia

Kompas.com - 15/11/2011, 09:13 WIB

MEDAN, KOMPAS.com -  Sekretaris HNSI Sumut Uhya Ulumuddin mengatakan sebanyak 37 nelayan tradisional di Sumut saat ini masih ditahan di Malaysia dengan tuduhan melanggar perbatasan. Mereka berasal dari Langkat, Deli Serdang, dan Batubara. Padahal perjanjian perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia belum ada. Di laut, tak ada rambu-rambu di mana batas itu berada.

Nelayan kecil ini hanya berpegang pada bintang. Tidak punya alat navigasi, kata Uhya. Pendidikan mereka pun rendah, banyak yang tak tamat SD bahkan banyak yang tidak bisa membaca. Mereka biasanya berlayar dengan perahu dengan awak tiga-empat orang.

"Prinsip mereka sederhana berlayar empat jam sampai ke tengah laut. Dulu berlayar hingga 10 jam pun tidak ditangkap, sekarang empat jam sudah dihadang kapal patroli Malaysia," kata Uhya.

Penangkapan semakin marak terjadi tiga-empat tahun terakhir saat konflik dengan perbatasan Malaysia menguat. Sudah ada lebih dari 300 nelayan yang ditangkap, tutur Uhya. Namun sejauh ini belum ada langkah pemerintah untuk mengatasi masalah ini. Biasanya hanya menunggu tiga bulan, nelayan akan dibebaskan. Padahal bisa meminta pengampunan, tutur Uhya. 

Senin kemarin, jenazah Eli Zailani bin Ramli (33) nelayan warga Desa Paluh Sibaji, Kecamatan Pantai Labu, Deli Serdang Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara akhirnya tiba di Bandara Polonia, Medan,  menggunakan pesawat Malaysia Airlines. Korban meninggal saat ditahan di penjara Pulau Pinang sejak Selasa pekan lalu.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kecamatan Pantai Labu Sanusi saat dihubungi mengatakan korban ditangkap oleh keamanan laut Pulau Pinang, Malaysia pada Agustus lalu dan ditahan di penjara Pulau Pinang. Korban dituduh telah memasuki perairan Malaysia.

"Bagaimana mungkin nelayan dituduh melanggar perbatasan, sementara nelayan tidak tahu rambu-rambu," tutur Sanusi. Korban meninggal dunia diduga karena sakit paru-paru. Eli selama ini adalah tulang punggung keluarga dengan lima anak. Anak terkecil bahkan baru berusia delapan bulan.    

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau