JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana pengerukan yang akan membenahi 10 sungai di Jakarta, satu kanal, dan empat waduk, dengan pendanaan dari Bank Dunia tidak kunjung terlaksana. Program yang diberi nama Jakarta Emergency Dradging Initiative (JEDI) ini terhambat akibat Peraturan Pemerintah (PP).
Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengungkapkan bahwa banjir besar yang beberapa tahun sekali menimpa Jakarta diakibatkan sebagian besar kali dan saluran di Jakarta hampir 30 tahun tidak dikeruk. Ia sangat menyayangkan kejadian ini.
"Hampir 30 tahun tidak dikeruk kali dan saluran itu. Padahal sudah berulang kali saya sampaikan pada warga," jelas Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo, di Jakarta, Kamis (17/11/2011).
Ia mengatakan bahwa isu air ini menyangkut kepentingan hajat hidup orang banyak. Karena itu, permasalahan ini harus menjadi prioritas utama.
Bank Dunia sudah bersedia menggelontorkan pinjaman sebesar Rp 1,5 triliun untuk menggusur ribuan rumah di pemukiman ilegal di sungai-sungai tersebut. "Tapi pengerjaannya belum bisa dilakukan akibat adanya kendala dari pemerintah pusat," tuturnya.
Menurutnya, perlu dilakukan pendekatan lintas sektoral dan wilayah. Seperti kali Ciliwung dulunya ada di Bogor, Jawa Barat, tapi penanganannya merupakan kewajiban bersama dari Kabupaten Bogor dan daerah-daerah sekitar.
Ia pun mengungkapkan bahwa sebenarnya sudah ada kesepakatan dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengeruk sungai. Hanya yang sangat disayangkan sampai saat ini tidak ada tanda-tanda hal tersebut akan dikerjakan.
Ia berharap bahwa semua pihak terkait tergerak untuk peduli terhadap penanganan masalah banjir. Ditambah lagi banyak pakar memperkirakan Jakarta akan didera banjir besar pada Januari-Februari mendatang, maka pengerukan sungai harus segera dilaksanakan untuk mengantisipasi banjir besar Jakarta.
"Saya harap mulai sekarang semua stakeholder terkait lebih terpanggilah untuk berpihak kepada rakyat dengan adanya keputusan ini. Ya kalau di koran semua mendukung," tandasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang