Wanda Hamidah: Pemerintah Jangan Lepas Tangan

Kompas.com - 18/11/2011, 14:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota DPRD DKI Wanda Hamidah meminta pemerintah Provinsi DKI tidak lepas tangan dari masalah banjir yang melanda permukiman warga Kampung Pulo, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Pasalnya, normalisasi aliran Kali Krukut belum juga ditangani secara serius.

"Yang terpenting adalah normalisasi kali. Pemerintah tidak boleh lepas tangan karena ini tugasnya," kata Wanda Hamidah kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (18/11/2011).

Tugas pemerintah disentil Wanda lantaran tahap awal normalisasi kali berupa pembongkaran gorong-gorong diserahkan sepenuhnya kepada pihak Marinir sebagai pembangun. Padahal, pembangunan gorong-gorong tersebut menyalahi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

"Tugas pemerintah adalah memberikan teguran karena melanggar Amdal. Karena itu seharusnya pembongkaran gorong-gorong jadi kewajiban Dinas PU (Pekerjaan Umum) sebagai bagian dari penertiban, bukan diserahkan lagi kepada Marinir," kata anggota Komisi E dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN).

Atas dasar itu, Wanda menilai pemerintah tidak selayaknya membiarkan situasi yang sedang berlangsung di Kampung Pulo berlarut-larut. Pasalnya, warga seakan dibuat berhadap-hadapan dengan pihak marinir. Pembiaran yang dilakukan Pemprov DKI dianggapnya memperkeruh masalah penanganan banjir.

"Seharusnya ini jelas-jelas tugas pemerintah, termasuk dalam hal permukiman di pinggiran sungai. Pemerintah jangan lari dari tanggung jawab," kata Wanda.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, penertiban terhadap rumah-rumah di RT 11 RW 03 Kampung Pulo sudah dilakukan dua pekan lalu. Sebanyak tujuh rumah yang berada di daerah aliran sungai telah dibongkar. Namun, warga masih tetap kebingungan dengan kewenangan melakukan penertiban.

Ketua RT 11 Sugiyono, misalnya, mengaku tidak pernah mendapat pemberitahuan resmi mengenai pembongkaran. "Saya tidak pernah diberitahukan dari pihak kelurahan maupun kecamatan," kata Sugiyono beberapa waktu lalu.

Pihak-pihak terkait yang telah dimintai keterangannya oleh warga juga enggan menjawab secara jelas tentang penertiban tersebut. Ketidakpastian ini mendatangkan keresahan lantaran warga masih bertanya-tanya tentang kelangsungan hidup mereka di Kampung Pulo. "Kalau sekarang, (kami) hanya bersihin lumpur dan sampah. Soalnya nasib kami belum jelas," kata Ibu Wagiyo, warga RT 11.

Wanda sendiri mengaku siap membantu masyarakat dalam menyuarakan kepentingan mereka. Selain itu, dia juga menjanjikan bantuan bagi para korban banjir.

Wanda Hamidah menyatakan sudah terlibat sejak awal dalam advokasi maupun penyaluran bantuan kepada korban banjir. Wanita berusia 34 tahun yang disebut-sebut akan dicalonkan partainya sebagai calon gubernur dalam Pemilukada DKI 2012 datang bersama timnya Jakarta Bergerak dalam acara nonton bareng pertandingan sepakbola Indonesia vs Malaysia di lokasi banjir pada Kamis (17/11/2011) malam.

"Hari Minggu nanti saya undang enam puluh anak-anak Kampung Pulo untuk menonton film di Citos," kata Wanda.

Setiap anak dipersilakan ditemani satu pendamping sehingga jumlah warga yang akan mendapat hiburan khusus dari Tim Wanda sebanyak 120 orang. Pengumuman itu langsung disambut gembira warga yang umumnya anak-anak.

Uci, salah seorang staf Jakarta Bergerak juga menyatakan, pihaknya akan membuka posko pengobatan gratis selama tiga hari di Jalan Damai Musyawarah, RT 11 RW 03 Kampung Pulo. "Kalau memungkinkan kami akan buka untuk seterusnya," kata Uci.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau