Jakarta, Kompas -
”Saya ingin meluruskan pemberitaan yang tidak akurat. Tidak ada pangkalan militer AS, dan tidak ada rencana untuk mendirikan pangkalan militer AS di Australia. Itu adalah pangkalan militer Australia, dan pasukan AS dikirim untuk latihan militer, seperti yang kami lakukan di negara lain,” ujar Marciel dalam konferensi pers dengan sejumlah media nasional, Selasa (22/11).
Kepada media, Marciel dan Duta Besar AS untuk ASEAN, David L Carden, menyampaikan hasil yang diperoleh dalam KTT Asia Timur dan pertemuan bilateral AS-ASEAN dan AS-Indonesia.
”Kami pernah mengadakan latihan militer di Australia dan mengirim hingga 10.000 tentara. Tak ada tujuan atau target terhadap negara lain,” ujar Marciel.
Marciel juga menepis kehadiran marinir AS di Australia untuk menjaga kepentingan AS di Papua terkait pemogokan karyawan PT Freeport yang terjadi beberapa waktu terakhir.
”Ini tak ada hubungannya dengan Papua. Posisi kami adalah mendukung integritas dan teritori Indonesia di Papua. Tak ada motivasi untuk melakukan hal lain,” ujarnya.
Carden menambahkan, AS dan Australia telah bersekutu erat selama 60 tahun. Program latihan militer kedua negara berlangsung sejak lama, dan pasukan terakhir dikirim dengan tujuan jelas untuk latihan tanggap darurat dan penanggulangan bencana alam. ”Kita ingat betapa menyakitkan (tsunami) yang terjadi di Aceh dan saat itu militer AS terlibat memberi bantuan. Untuk itulah latihan diadakan,” kata Carden.
Terkait ketegangan di Laut China Selatan, Carden menegaskan, hal itu tak ada hubungannya dengan kehadiran marinir AS di Australia. ”Presiden Yudhoyono tak percaya ada koneksi antarisu itu, saya juga tak percaya hal itu menjadi alasan meningkatnya ketegangan. Pembicaraan soal Laut China Selatan antara ASEAN dan China sudah mulai membicarakan kode tata perilaku (CoC), dan kami mendukung proses itu berlanjut,” ujarnya.
Marciel mengatakan, sejak Indonesia dan AS menjalin kemitraan komprehensif, hubungan kedua negara semakin baik. Di bidang ekonomi, volume perdagangan kedua negara meningkat pesat. Ekspor Indonesia ke AS meningkat 20 persen setahun terakhir. Dalam sembilan bulan pertama tahun 2011, ekspor Indonesia ke AS mencapai nilai 13 miliar dollar AS, sedangkan ekspor AS ke Indonesia mencapai 5 miliar dollar AS.
Dalam pertemuan Presiden Obama dengan Presiden Yudhoyono di Bali, tercapai sejumlah kesepakatan antara lain penandatanganan hibah millennium challenge corporation compact senilai 600 juta dollar AS selama lima tahun.
Selain itu, hibah 24 pesawat tempur F-16 dalam program regenerasi barang militer berlebih (EDA). Indonesia mengeluarkan dana untuk meningkatkan kemampuan pesawat tersebut sesuai dengan kebutuhan.
Kesepakatan lain adalah bantuan AS untuk mengembangkan korps perdamaian di Indonesia, serta bantuan untuk ketahanan pangan. AS akan membantu Pusat Riset Ilmu Pertanian yang didirikan Indonesia dengan fokus pada peningkatan produktivitas pertanian dan perikanan.
Marciel menambahkan, AS juga memberi bantuan 8 juta dollar AS untuk membangun markas pasukan penjaga perdamaian Indonesia.
”Selain itu, ada juga peningkatan kerja sama di bidang pendidikan tinggi serta bantuan senilai 450 juta dollar AS untuk mencapai target reduksi gas rumah kaca. Kemitraan komprehensif bukan hanya judul, tetapi diwujudkan dalam kerja sama praktis,” ujar Marciel.