Dewan Militer Mesir Dikritik

Kompas.com - 24/11/2011, 02:24 WIB

Washington, Rabu - AS mengkritik Dewan Militer Mesir terkait tindakan terhadap para demonstran yang berlangsung sejak Sabtu (19/11). Sudah lebih dari 30 orang tewas akibat tindakan militer terhadap para demonstran.

Para petinggi militer Mesir didesak menepati janji awal, yakni menyerahkan pemerintahan kepada pihak sipil.

Aksi protes diwarnai tindak kekerasan aparat yang menambah beban pada pemerintahan ad interim Mesir yang dikuasai militer. Kondisi itu menjebloskan negara ke krisis lebih luas.

Sikap AS terhadap gejolak Mesir kali ini berbeda. Dulu AS lamban mendukung aksi massa yang menghendaki kejatuhan Hosni Mubarak. Kini AS menaikkan dukungan terhadap massa yang menginginkan pengalihan pemerintahan dari militer kepada sipil.

AS mendesak Dewan Militer Mesir melaksanakan pemilu tepat waktu. Militer diingatkan agar menepati janji. Namun, AS melihat Dewan Militer pimpinan Panglima Tertinggi Hussein Tantawi sebagai harapan terbaik yang dapat memimpin transisi Mesir ke demokrasi.

Transisi yang ideal akan mulai dengan pemilihan parlemen yang bebas dan adil pada 28 November. Lalu, hal ini dilanjutkan dengan pemilu tahapan, diakhiri pemilihan presiden sipil pada akhir Juni 2012, seperti yang dijanjikan Tantawi. Namun, pelaksanaan pemilu itu bergantung pada tegaknya kembali tertib sipil.

”Kekerasan harus dihentikan,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Jay Carney, Selasa. ”Rakyat Mesir harus bisa memutuskan masa depan mereka dan menentukannya secara damai,” katanya di dalam pesawat Air Force One.

Diminta tahu diri

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Victoria Nuland, mengatakan, kekerasan yang menyebabkan jatuhnya korban tewas di Mesir ”sangat disesalkan”. ”Kami mengutuk kekerasan berlebihan yang dilakukan aparat.”

Tantawi, Selasa, mengatakan akan memenuhi beberapa tuntutan aksi massa, termasuk penyerahan kekuasaan harus ke sipil. Meski demikian, kekerasan terus terjadi hingga lebih dari 30 orang tewas.

Mantan pemimpin Uni Soviet, yang sudah bubar, Mikhail Gorbachev, prihatin dengan keadaan di Mesir. Dia menilai aksi protes itu wajar, ”beralasan dan sangat penting”. ”Saya membela demonstran,” katanya.

Dia mengatakan agar para pemimpin Arab yang telah berkuasa terlalu lama tahu diri dan paham terhadap tuntutan aksi massa prodemokrasi.

Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel Matan Vilnai juga prihatin dengan keadaan di Mesir.

(AP/AFP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau