Ketan Keratok, Suatu Pagi

Kompas.com - 24/11/2011, 10:03 WIB

Menghirup udara pagi dan menyantap ketan keratok. Mmm..., sebuah kenikmatan tersendiri di Kota Probolinggo, Jawa Timur. Ketan keratok adalah ketan yang dimasak dengan campuran kacang kara yang dalam bahasa Madura disebut keratok.

Ketan keratok disajikan dengan taburan parutan kelapa dan disiram dengan gula merah. Namun ini soal selera sehingga kadang ada penikmat yang tidak menginginkan siraman gula merah pada ketan. Ada juga yang meminta ketan justru ditaburi garam. Rasa ketan nan legit berpadu dengan keratok yang gurih.

Rasa manis gurih muncul di lidah ketika kita menambahkan siraman gula merah manis. Paduan rasa gurih manis ketan keratok yang melebur di dalam mulut itu meninggalkan pengalaman rasa menyenangkan yang serasa tinggal terus di mulut.

Di Probolinggo, biasanya ketan keratok disantap kala pagi.

Sebab, pada akhir musim kemarau, saat matahari mulai tinggi, hanya rasa gerah menyengat yang akan menemani kita sepanjang hari. Itu mengapa, bagi sebagian warga Probolinggo, pagi merupakan masa-masa emas untuk menikmati kenyamanan kota di pantai utara Jawa Timur itu. Dan, pagi akan bertambah nikmat bersama ketan keratok.

Pelataran bioskop

Salah satu penyedia ketan keratok adalah sebuah warung kecil di Jalan Dr Soetomo, Probolinggo, tepatnya di pelataran bekas Bioskop Garuda. Di sana ada warung kopi dan ketan keratok milik Bu Nunung (39) dan Pak Arbai (43). Warung itu hanyalah warung kecil dari kayu dengan bangku-bangku panjang sebagai tempat duduk. Pengunjung warung kecil itu selalu membeludak. Sebagian penikmat memilih duduk di lapak-lapak di sekitar warung. Ada juga yang duduk di teras bekas Bioskop Garuda tersebut.

Untuk memasak ketan keratok, awalnya Bu Nunung harus merebus keratok yang sudah dikuliti terlebih dahulu hingga mendidih. Setelah mendidih, ketan diangkat sebentar dari tungku, kemudian dididihkan lagi hingga lima kali. Setelah dimasak secara terpisah selama enam kali, keratok akan dikukus bercampur dengan ketan. Memasaknya menggunakan tungku dengan kayu bakar sebagai bahan bakar. Hal ini dipercaya menambah nikmat rasa ketan keratok.

Proses memasak hingga enam kali itu dimaksud untuk menghindari salah masak. ”Memasak keratok tidak bisa sembarangan. Kalau salah masak, bisa-bisa pelanggan jadi pusing semua seperti orang mabok,” tutur Bu Nunung, pemilik warung.

Ketan keratok minimal harus direbus selama enam kali sebelum dikukus dengan dicampur ketan menjadi adonan yang kalis.

Merakyat

Nunung dan suaminya, Arbai, membuka warung ketan keratok sejak tahun 1999. Mereka hanya meneruskan usaha yang dirintis nenek dan ibunya sejak era 1970-an. Setiap hari, warung ketan keratok mulai buka pukul 04.00 hingga 11.00. Namun, khusus ketan keratok biasanya pukul 07.00 sudah habis diserbu pembeli. Pembeli datang dari berbagai kalangan, remaja, pegawai kantoran, pengusaha, hingga pensiunan.

Harganya cukup merakyat. Sepiring ketan keratok dipatok seharga Rp 2.500. Ingin kopi atau teh, tinggal menambah Rp 1.000 per gelas. Dengan sepiring ketan keratok dan segelas kopi, pelanggan bisa mengobrol ngalor ngidul tentang berbagai hal.

”Obrolan politik seperti keluh kesah wong cilik atas perilaku pejabat, informasi perkembangan kota terkini, informasi kesehatan, hingga sekadar omong kosong dan gurauan semuanya ada di sini,” kata Ruswanto, pelanggan warung yang berprofesi sebagai kontraktor. ”Di sini bukan sekadar makan. Kami bisa berbagi informasi dan ngobrol apa saja untuk mengobati stres,” lanjutnya.

”Ketan keratok sudah mulai langka. Selain itu, suasananya juga sangat menyenangkan. Di sini semua seperti saudara,” tutur Wiji Utomo (57), pelanggan lain dari warung tersebut.

Suasana kekeluargaan, kerakyatan, memang terasa di warung ketan keratok Bu Nunung.

Ketan keratok memang makanan rakyat yang berakar dari tradisi agraris.

Probolinggo memang kental dengan pengaruh budaya Madura.

Dalam kebiasaan agraris Madura, keratok sudah menjadi semacam camilan. Dulu, keratok disajikan oleh pemilik sawah bagi petani penggarap sebagai camilan sebelum sarapan.

”Setiap pagi, kami, yang menggarap sawah dengan sapi, selalu dikirim keratok. Nanti jam 10 kami dikirim nasi untuk sarapan. Jadi, keratok sudah menjadi bagian kuliner masyarakat Madura,” ujar Purwoko, warga Probolinggo keturunan Madura, yang juga penikmat keratok.

Selain diperuntukkan bagi petani yang hendak ke sawah, menurut Purwoko, keratok juga menjadi camilan bagi warga yang bergotong royong membangun rumah.

Keguyuban itu makin rekat oleh olesan ketan keratok.... (Dahlia Irawati)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau