Rasa syukur, bangga, dan bahagia serasa meluap menjadi satu ketika Taman Nasional Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, bertepatan pada tanggal unik, 11-11-2011, ditetapkan sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Alam Dunia.
Selain TN Komodo, enam Keajaiban Alam Dunia yang terpilih adalah hutan Amazon (Brasil), Pantai Halong Bay (Vietnam), air terjun Iguazu Falls, Jeju Island (Korea Selatan), sungai bawah tanah Puerto Princesa, dan Table Mountain (Afrika Utara).
Meski hasil dari kontes komersial yang digelar New 7 Wonders Foundation (N7WF), yayasan dari Swiss, itu masih bersifat sementara (karena pengumuman resminya direncanakan awal 2012), hasil itu sudah menyiratkan begitu kuatnya pesona komodo di level internasional.
TN Komodo telah menjadi salah satu destinasi pariwisata dunia. Manggarai Barat yang terletak di ujung barat Flores itu pun kini memiliki posisi penting. Setidaknya Labuan Bajo, ibu kota kabupaten ini, berperan sebagai etalase pariwisata di pulau bunga ini.
Tak dimungkiri pula, keikutsertaan TN Komodo dalam kontes internasional yang dimulai tahun 2007 itu juga mampu mendongkrak arus kunjungan wisatawan ke daerah ini.
Kunjungan 36.000 wisatawan pada tahun 2009 meningkat menjadi 45.000 wisatawan pada 2010. Sekitar 95 persen di antaranya wisatawan asing. Diperkirakan, hingga akhir tahun ini, pengunjung mencapai 50.000 orang.
Namun, yang patut dicermati, janganlah peristiwa besar dan bersejarah ini hanya berhenti pada euforia sesaat. Sebab, mau tidak mau, suka tidak suka, Labuan Bajo harus berbenah menjadi kota bertaraf dunia, layaknya Bali.
Artinya, kota ini mesti siap menjadi ”tuan rumah” yang baik, yang mampu memberikan pelayanan prima dan memuaskan tamu-tamunya yang datang dari berbagai penjuru.
Dalam konteks itu, pertanyaannya, apakah kondisi di lapangan benar-benar siap?
Makin tingginya kunjungan wisatawan ke Manggarai Barat sepatutnya juga membangkitkan harapan besar akan tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru, khususnya di kawasan Labuan Bajo dan sekitarnya, yakni di daratan Flores. Sayangnya, fakta menunjukkan hal berbeda.
Dalam catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat, sekitar 75 persen wisatawan yang datang hanya berkunjung ke TN Komodo.
Merekalah yang sangat penasaran ingin menyaksikan dari dekat reptilia purba komodo (Varanus komodoensis). Tempat yang dikunjungi tentu saja habitat asli satwa langka yang sangat dilindungi itu, di antaranya Pulau Komodo dan Pulau Rinca.
Umumnya wisatawan asing juga lebih suka menginap di pulau-pulau di sekitar Labuan Bajo. Hal itu dapat dimaklumi karena Manggarai Barat mempunyai 162 pulau sedang-kecil dengan potensi kecantikan bahari dan keindahan taman laut yang termasuk paling indah di dunia.
Di dalam kawasan TN Komodo saja terdapat 40 titik penyelaman yang potensial. Salah satu tempat favorit adalah Pantai Merah (Pink Beach). Itu belum termasuk titik penyelaman lain di luar kawasan TN Komodo.
”Komodo and So Much More”
Gaung slogan yang diusung Pemerintah Kabupaten Mangggari Barat, ”Komodo and So Much More”, pun terasa lemah. Promosi dimaksud, komodo dan biota bawah laut di dalam TN Komodo sebagai pusat wisata serta obyek wisata alam dan budaya di daratan Pulau Flores menjadi wisata pendukung, terkesan mandul.
Yang menjadi kendala adalah akses dari Labuan Bajo ke lokasi obyek wisata yang masih sangat sulit karena banyak jalan rusak, bahkan ada yang belum dibuka akses jalannya.
Padahal, jumlah obyek wisata alam dan budaya di Manggarai Barat relatif banyak, sekitar 55 obyek. Di antaranya adalah Istana Ular, Air Terjun Cunca Wulang dan Cunca Rami, serta Danau Sano Nggoang. Namun, dari puluhan obyek itu pun banyak yang belum dikelola dan banyak pula yang belum memiliki fasilitas dasar, seperti air bersih dan listrik.
Bupati Manggarai Barat Agustinus CD Dula menyatakan, sebenarnya kontribusi besar penerimaan langsung bagi masyarakat dan Pemkab Manggarai Barat justru dari Labuan Bajo, bukan dari kawasan atau pengelolaan TN Komodo. Ini karena semua penerimaan dari tiket masuk wisatawan di TN Komodo disetor ke kas pemerintah pusat sebagai penerimaan negara bukan pajak.
Agustinus mengakui, pembangunan sektor pariwisata di Labuan Bajo menghadapi kendala serius, terutama di bidang infrastruktur jalan, bandar udara, air bersih, dan kesehatan.
Hingga saat ini, Manggarai Barat belum memiliki rumah sakit umum daerah, jaringan air bersih tak memadai, dan bandara skala kecil. Landasan pacu baru sepanjang 1.650 meter sehingga belum dapat disinggahi pesawat berbadan lebar sejenis Boeing.
Akibatnya, harga tiket pesawat Denpasar-Labuan Bajo menjadi mahal karena tingginya permintaan, termasuk dari kalangan wisatawan asing, tetapi kapasitas pesawat kecil, dan frekuensi penerbangan rendah.
”Selama ini, perhatian pemerintah pusat untuk pembangunan di Labuan Bajo kurang sekali. Masuknya TN Komodo dalam Tujuh Keajaiban Alam Dunia biarlah menjadi momentum penting. Sudah selayaknya pemerintah pusat memberikan perhatian lebih besar ke daerah ini, yang masih banyak kekurangan sarana dan prasarana,” ujar Agustinus.
”Sebab, kalau pengembangan Labuan Bajo hanya mengandalkan APBD tingkat kabupaten, itu sangat sulit. PAD (pendapatan asli daerah) Kabupaten Manggarai Barat cuma Rp 23 miliar. Sebagai contoh, pembangunan jalan masih diprioritaskan untuk jalan pedesaan guna membuka isolasi. Itu pun dalam setahun cuma 1,5 atau 2 kilometer,” kata Agustinus menambahkan.
”Di Labuan Bajo susah mendapatkan air bersih. Dan, yang disayangkan pula, harga tiket pesawat mahal. Padahal, untuk Bali-Jakarta saya bisa mendapatkan tiket Rp 300.000, tapi untuk Labuan Bajo-Denpasar, dengan waktu tempuh hampir sama, bisa mencapai Rp 1,3 juta,” kata Hans Florkemeier, konsultan bisnis warga negara Jerman yang berkunjung ke Labuan Bajo.
Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Bersatu (Nuansa) Kabupaten Manggarai Barat Feri Adu berpendapat, pemerintah jangan hanya meningkatkan perhatian pada pengelolaan TN Komodo, tetapi juga mesti memperhatikan secara menyeluruh TN Komodo sebagai suatu ekosistem, yang di dalamnya bukan hanya komodo dan habitatnya, melainkan juga masyarakat dan lingkungan laut.
”Jangan sampai dengan kemenangan TN Komodo, peraturan pemerintah makin ketat di dalam kawasan TN Komodo karena yang menjadi korban adalah masyarakat nelayan di pulau. Yang dikhawatirkan, akan lebih banyak larangan bagi mereka dan area tangkapan mereka menjadi makin jauh,” kata Yusuf Ondeng, tokoh masyarakat Desa Gorontalo, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat.
Rofino Kant, pemerhati komodo yang tinggal di Flores, yang juga Ketua Forum Demokrasi Lingkungan Hidup dan Kebudayaan, mengemukakan, dengan nama komodo yang mendunia dan makin banyaknya kunjungan wisatawan ke TN Komodo, yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah menyangkut konservasi dan kelestarian taman nasional ini sebagai aset bangsa.
”Pengelolaan TN Komodo bertaraf internasional kalau hanya mengandalkan dana APBN yang jumlahnya terbatas tentu sulit dicapai. Untuk itu, perlu ada keterbukaan pengelola TN Komodo dengan masyarakat dan pemerintah lokal serta lembaga internasional,” kata Rofino.
Dari ketimpangan pengembangan TN Komodo dengan Labuan Bajo, pemerintah pusat tak cukup hanya melakukan promosi komodo secara gencar dan besar-besaran ke luar negeri, sementara banyak sarana dan prasarana di Labuan Bajo yang belum siap.
Kendala ini tak bisa dipandang remeh karena sebagai salah satu destinasi pariwisata dunia, wajah Labuan Bajo ini juga menjadi cerminan pariwisata Indonesia.