Rakyat Ingin KPK Tangkap Koruptor Kelas Kakap

Kompas.com - 26/11/2011, 20:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus mempunyai nyali besar untuk menyelesaikan secara tuntas seluruh kasus korupsi. Jangan hanya kasus korupsi kecil, rakyat Indonesia saat ini ingin lihat KPK tangkap koruptor kelas kakap. Demikian diungkapkan anggota Komisi III DPR asal Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo dalam sebuah diskusi di Auditorium Al Azhar, Jakarta, Sabtu (26/11/2011).

Bambang mengatakan, saat ini sering kali terjadi anomali ketika KPK ingin mengusut sebuah kasus korupsi besar. "Katakanlah soal kasus mafia pajak. DPR berusaha mengungkap kasus itu, yang kemudian melibatkan perusahaan-perusahaan asing seperti Freeport dan sebagainya. Tetapi yang terjadi justru pemerintah lah yang membatalkan," ujar Bambang.

Bambang mengatakan, berbagai kasus seperti kasus Century, dugaan suap pembangunan Wisma Atlet, proyek Hambalang, dan surat palsu Mahkamah Konstitusi sudah jelas siapa pelaku utamanya. "Kenapa sampai sekarang itu tidak bisa dituntaskan oleh KPK. Dalam kasus wisma atlet misalnya, KPK hanya menangkap Rosa, Wafid, El Idris, itu semua hanya pelaksana. Namun mereka itu bukan aktor utama," kata Bambang.

Oleh karena itu, Bambang menilai, untuk mengharapkan kasus besar tersebut diungkap oleh KPK, rasanya cukup sulit dilakukan. Bambang mengatakan, jangan sampai berbagai kasus tersebut justru akan menjadi pekerjaan berat bagi pemerintahan selanjutnya. "Jadi ini adalah pelajaran penting bagi KPK. Harus ada koreksi yang dilakukan oleh institusi penegak hukum secara besar. Jika tidak, nanti akan menjadi senjata makan tuan, ketika mereka para petinggi itu tidak menjadi pejabat lagi," kata Bambang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau