LONDON, KOMPAS.com — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin menghadiri Forum Internasional Katolik-Muslim (Catholic-Muslim Forum) di Rumah Konferensi Baptism Site of Jesus, di Jordania, dan merupakan satu-satunya wakil dari Indonesia.
Seminar bertema "Reason, Faith and the Human Person" (Akal Budi, Iman dan Pribadi Manusia) ini dihadiri 24 tokoh Katolik dan 24 tokoh Islam di seluruh dunia, ujar anggota Dewan Kepausan untuk Dialog antarumat Beragama Vatikan, P Markus Solo Kewuta SVD, kepada Antara London, Rabu (30/11/2011).
Dikatakannya, wakil setiap agama dipilih masing-masing pihak secara bebas atas berbagai pertimbangan. Pihak Muslim menghadirkan Prof Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammidiyah, sebagai satu-satunya wakil dari Indonesia.
Para peserta seminar diterima Raja Jordania Abdullah II bin al-Hussein di Istana Basman di kota Amman.
Raja mengutarakan beberapa perihal penting guna memajukan perdamaian dan keharmonisan global serta mendorong peserta untuk tetap berkarya demi perdamaian antarpenganut kedua agama besar ini di seluruh dunia.
Royal Aal al-Bayt Institute, dikepalai Pangeran Ghazi Muhammad bin Talal, merupakan pusat kajian teologis-ilmiah tentang pemikiran Islam dan kajian lintas agama untuk memajukan dialog antarumat beragama, terutama antara Kristiani dan Muslim.
Menurut P Markus Solo Kewuta SVD, Forum Internasional Katolik-Muslim dibentuk 2008 sebagai tanggapan bersama antara Katolik dan Muslim terhadap surat pernyataan sikap ke-137 tokoh Muslim seluruh dunia terhadap kuliah Paus Benediktus XVI di Regensburg, Jerman.
Dikatakannya, seminar pertama digelar November 2008 di Vatikan bertema "Kasih akan Allah dan Kasih akan Sesama": sebuah refleksi teologis mencari aplikasi nyata dalam relasi keseharian antara Kristiani dan Muslim.
P Markus Solo Kewuta SVD juga salah seorang dari 24 peserta Katolik, mewakili Dewan Kepausan untuk Dialog antarumat Beragama (Pontifical Council for Interreligious Dialogue), Desk Christian-Muslim Dialogue in Asia yang berkantor di Vatikan, sekaligus penyelenggara bersama kegiatan tersebut.
Dikatakannya, pada akhir seminar para tokoh kedua agama merumuskan lima butir kesepakatan sebagai Deklarasi Bersama.
Pertama, "Allah telah menganugerahkan akal budi kepada manusia, melaluinya (akal budi) manusia mengenal kebenaran. Pengenalan kebenaran menyinari tanggung jawab kita di hadapan Allah dan di hadapan satu sama lain".
Deklarasi kedua, "Iman adalah anugerah Allah, melaluinya (iman) manusia sadar (discover) bahwa ia diciptakan oleh Allah dan bertumbuh di dalam pengetahuan akan Dia".
Selain itu disebutkan, "Hati yang putih-bersih adalah pusat dari seorang yang setia, di mana iman, akal budi dan belarasa berpadu di dalam penyembahan kepada Allah dan kasih akan sesama manusia".
Derajat manusia yang dianugerahkan Allah harus dihormati oleh semua orang dan harus pula dilindungi di dalam/melalui hukum.
Di dalam dialog, kaum beriman harus mengucapkan rasa syukur kepada Allah atas segala rahmat-Nya di atas di dalam suasana saling menghormati dan dalam belarasa, dan di dalam sebuah bentuk hidup yang harmonis dengan ciptaan Tuhan.
Tokoh-tokoh Katolik Roma dan Muslim seluruh dunia tetap berkeinginan melanjutkan dialog sebagai jalan untuk memajukan saling pemahaman dan kebaikan bersama seluruh umat manusia, terutama mewujudkan hasratnya terhadap perdamaian, keadilan, dan solidaritas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang