Bank Sentral "Pompa" Uang

Kompas.com - 02/12/2011, 03:09 WIB

FRANKFURT, Kamis - Bank-bank sentral dari beberapa negara kaya berupaya mencegah penyebaran krisis Eropa agar tidak berubah menjadi kepanikan global. Bank-bank sentral sepakat ”memompa” dana ke perbankan agar dapat mendapatkan mata uang dollar AS.

Dalam beberapa bulan terakhir terjadi kekurangan likuiditas, terutama di Eropa. Di antara sesama perbankan Eropa ada keengganan meminjamkan dana jangka pendek karena tidak saling percaya. Bank Eropa juga kesulitan mengakses dollar AS karena perbankan AS enggan meminjamkan dana.

Akibat kekurangan likuiditas tersebut, perbankan tidak dapat menyalurkan kredit. Padahal, penyaluran kredit dapat membuat perekonomian bergerak kembali karena perusahaan dapat memanfaatkan kredit tersebut.

Kesepakatan di antara sejumlah bank sentral itu tercapai, Rabu (30/11), dengan tujuan agar dana-dana terkucur ke pasar lewat perbankan.

Langkah bank sentral ini juga akan membuat bank komersial relatif lebih murah meminjam dalam bentuk dollar AS yang merupakan mata uang dominan dalam transaksi perdagangan. Langkah ini paling terkoordinasi dari beberapa langkah bank sentral di masa lalu. Pada krisis 2008 lalu, bank-bank sentral serentak menurunkan tingkat suku bunga untuk memberi stimulus pada perekonomian.

Namun, apakah langkah ini dapat menjadi jalan keluar timbunan utang pemerintah di Eropa, masih menjadi pertanyaan. Para pelaku pasar menantikan penyelesaian yang permanen. Para pemimpin Eropa akan berkumpul pekan depan untuk menyelesaikan krisis utang.

Bank Sentral Eropa yang sebelumnya telah menolak mengintervensi untuk menghentikan krisis di kawasannya sendiri kali ini turut serta dalam keputusan bersama Bank Sentral AS, Bank Sentral Inggris, serta Bank Sentral Kanada, Jepang, dan Swiss.

Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi mengisyaratkan, ECB siap melakukan peran lebih luas dalam memberikan solusi terhadap krisis Eropa.

China, yang merupakan negara dengan kekuatan perekonomian terbesar di dunia setelah AS, juga turut mendorong pemasokan dana ke pasar.

Upaya koordinasi global ini dimaksudkan untuk memperbaiki kepercayaan terhadap sistem finansial global serta memperlihatkan bahwa bank sentral berusaha mencegah terulangnya krisis 2008.

Perbankan Eropa mengurangi kucuran kredit sebesar 16 persen pada kuartal ketiga. Tidak ada seorang pun yang tahu seberapa besar perbankan Eropa akan merugi akibat memiliki obligasi terbitan negara yang sedang terbelit utang. Sampai hal itu jelas, perbankan masih enggan memberikan kredit.

”Perbankan Eropa memiliki masalah peminjaman secara umum, termasuk pinjaman dalam dollar AS,” ujar Joseph Gagnon, mantan pejabat Bank Sentral AS.

Eropa juga korup

Transparency International (TI), Kamis, di Berlin, Jerman, mencoba menjelaskan mengapa krisis Eropa muncul dari sulit diatasi. Dikatakan, korupsi menghambat upaya mengatasi krisis utang karena tingkat korupsi di Yunani dan Italia sangat tinggi.

”Drama ekonomi di zona euro antara lain juga dipicu ketidakmampuan otoritas untuk mengatasi penyuapan dan penghindaran pajak,” demikian pernyataan TI.

Robin Hodess, Direktur Riset TI, mengatakan, krisis di zona euro mencerminkan lemahnya manajemen fiskal, kurangnya transparansi, serta banyaknya salah kelola pada dana publik. ”Ada hubungan kuat dengan lemahnya kinerja dalam arti persepsi korupsi dan isu yang lebih luas lagi, yaitu mengenai tata kelola ekonomi,” ujar Hodess.

”Ketika penyuapan merebak, orang akan merasakan penyuapan di berbagai tingkat,” tambahnya lagi. Ia mengatakan, penyelewengan sekecil apa pun tetap harus diawasi agar tak memunculkan krisis di kemudian hari. (AFP/joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau