Dalam beberapa bulan terakhir terjadi kekurangan likuiditas, terutama di Eropa. Di antara sesama perbankan Eropa ada keengganan meminjamkan dana jangka pendek karena tidak saling percaya. Bank Eropa juga kesulitan mengakses dollar AS karena perbankan AS enggan meminjamkan dana.
Akibat kekurangan likuiditas tersebut, perbankan tidak dapat menyalurkan kredit. Padahal, penyaluran kredit dapat membuat perekonomian bergerak kembali karena perusahaan dapat memanfaatkan kredit tersebut.
Kesepakatan di antara sejumlah bank sentral itu tercapai, Rabu (30/11), dengan tujuan agar dana-dana terkucur ke pasar lewat perbankan.
Langkah bank sentral ini juga akan membuat bank komersial relatif lebih murah meminjam dalam bentuk dollar AS yang merupakan mata uang dominan dalam transaksi perdagangan. Langkah ini paling terkoordinasi dari beberapa langkah bank sentral di masa lalu. Pada krisis 2008 lalu, bank-bank sentral serentak menurunkan tingkat suku bunga untuk memberi stimulus pada perekonomian.
Namun, apakah langkah ini dapat menjadi jalan keluar timbunan utang pemerintah di Eropa, masih menjadi pertanyaan. Para pelaku pasar menantikan penyelesaian yang permanen. Para pemimpin Eropa akan berkumpul pekan depan untuk menyelesaikan krisis utang.
Bank Sentral Eropa yang sebelumnya telah menolak mengintervensi untuk menghentikan krisis di kawasannya sendiri kali ini turut serta dalam keputusan bersama Bank Sentral AS, Bank Sentral Inggris, serta Bank Sentral Kanada, Jepang, dan Swiss.
Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi mengisyaratkan, ECB siap melakukan peran lebih luas dalam memberikan solusi terhadap krisis Eropa.
China, yang merupakan negara dengan kekuatan perekonomian terbesar di dunia setelah AS, juga turut mendorong pemasokan dana ke pasar.
Upaya koordinasi global ini dimaksudkan untuk memperbaiki kepercayaan terhadap sistem finansial global serta memperlihatkan bahwa bank sentral berusaha mencegah terulangnya krisis 2008.
Perbankan Eropa mengurangi kucuran kredit sebesar 16 persen pada kuartal ketiga. Tidak ada seorang pun yang tahu seberapa besar perbankan Eropa akan merugi akibat memiliki obligasi terbitan negara yang sedang terbelit utang. Sampai hal itu jelas, perbankan masih enggan memberikan kredit.
”Perbankan Eropa memiliki masalah peminjaman secara umum, termasuk pinjaman dalam dollar AS,” ujar Joseph Gagnon, mantan pejabat Bank Sentral AS.
Transparency International (TI), Kamis, di Berlin, Jerman, mencoba menjelaskan mengapa krisis Eropa muncul dari sulit diatasi. Dikatakan, korupsi menghambat upaya mengatasi krisis utang karena tingkat korupsi di Yunani dan Italia sangat tinggi.
”Drama ekonomi di zona euro antara lain juga dipicu ketidakmampuan otoritas untuk mengatasi penyuapan dan penghindaran pajak,” demikian pernyataan TI.
Robin Hodess, Direktur Riset TI, mengatakan, krisis di zona euro mencerminkan lemahnya manajemen fiskal, kurangnya transparansi, serta banyaknya salah kelola pada dana publik. ”Ada hubungan kuat dengan lemahnya kinerja dalam arti persepsi korupsi dan isu yang lebih luas lagi, yaitu mengenai tata kelola ekonomi,” ujar Hodess.
”Ketika penyuapan merebak, orang akan merasakan penyuapan di berbagai tingkat,” tambahnya lagi. Ia mengatakan, penyelewengan sekecil apa pun tetap harus diawasi agar tak memunculkan krisis di kemudian hari.