Jembatan runtuh

Mendesak, Standar Perawatan

Kompas.com - 03/12/2011, 03:33 WIB

Yuni Ikawati dan M Zaid Wahyudi

Jembatan Kartanegara bukanlah jembatan gantung pertama yang runtuh. Dalam 180 tahun terakhir, setidaknya ada delapan jembatan gantung runtuh. Pada awal pengembangan, ketidaktahuan soal dinamika jembatan menjadi penyebab. Kini, keruntuhan banyak dipicu kelalaian manusia. 

Kasus pertama di era modern yang tercatat adalah ambruknya jembatan gantung Broughton di Manchester, Inggris, 12 April 1831. Jembatan sepanjang 44 meter ini ambruk akibat resonansi suara yang dipicu derap langkah tentara yang melintas di atasnya.

Resonansi itu akibat frekuensi langkah tentara yang berkesinambungan sama dengan frekuensi alami yang dimiliki jembatan. Frekuensi jembatan merupakan sifat khas yang dimiliki setiap jembatan. Resonansi membuat jembatan bergetar hingga akhirnya roboh.

Kasus paling terkenal adalah runtuhnya jembatan gantung Tacoma Narrows di Washington, Amerika Serikat, 7 November 1940. Jembatan dengan bentang tengah 853,4 meter ini ambruk hanya empat bulan sejak pertama kali digunakan.

Guru Besar Material dan Struktur Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung Iswandi Imran mengatakan, ambruknya jembatan Tacoma Narrows dipicu flutter, yaitu gaya puntir jembatan yang berpadu dengan getaran vertikal alami jembatan.

Gaya puntir terjadi akibat embusan angin dengan kecepatan sekitar 60 kilometer per jam. Gaya puntir ini membuat gelagar jembatan yang terbuat dari baja bergerak bak ayunan. Struktur jembatan tak mampu mengimbangi gerakan jembatan yang ekstrem itu.

Kini, persoalan ini dapat diatasi dengan struktur jembatan yang lebih aerodinamis. ”Makin panjang jembatan, potensi terjadinya flutter lebih besar,” ujar Iswandi.

Jembatan gantung Chhinchu di Nepal adalah contoh lain. Jembatan sepanjang 187 meter ini runtuh pada 2007 akibat kelebihan beban setelah ratusan orang melintasi jembatan itu secara bersamaan.

Laporan Institut untuk Pengembangan dan Pertumbuhan Baja (Institute for Steel Development and Growth) di India menunjukkan, robohnya jembatan banyak dipicu oleh buruknya komunikasi di antara berbagai pihak ketika membangun, proses pembangunan yang asal-asalan, dan ditoleransinya berbagai ketentuan teknik dengan berbagai alasan.

Terkait runtuhnya Jembatan Kartanegara di Kalimantan Timur, Sabtu (26/11), data yang diperoleh menunjukkan, hal itu dipicu oleh kegagalan struktur. Ambruknya jembatan tidak terjadi tiba-tiba, tetapi dipicu kerusakan-kerusakan kecil yang mengubah sifat jembatan dan terjadi secara perlahan-lahan selama bertahun-tahun.

Perlu perawatan cermat

Secanggih apa pun produk teknologi, termasuk jembatan, masih memiliki potensi mengalami gagal fungsi hingga menimbulkan bencana saat digunakan. Untuk membuat masa pakai suatu teknologi lebih lama, proses pengelolaan dan perawatan yang cermat menjadi faktor penting.

Ahli konstruksi asal New York, AS, C Gagnon dan J Svensson, dalam konferensi kedua tentang Advance in Bridge Engineering di Dhaka, Banglades, 10 Agustus 2010, mengatakan, pemeriksaan dan pemeliharaan jembatan gantung kabel memerlukan keahlian khusus. Setelah 30 tahun pertama, kabel utama jembatan harus dibongkar dan bagian dalam kabel atau untaiannya diperiksa secara saksama.

Untuk itu, Dewan Riset Transportasi AS melalui Program Riset Nasional Jalan Raya (National Cooperative Highway Research Program/NCHRP) telah menetapkan panduan untuk inspeksi dan evaluasi kabel gantung.

Perawatan jembatan gantung memang lebih sulit dibandingkan jembatan cable stayed. Pemeriksaan kabel utama, kabel gantung, hingga klemnya perlu dilakukan secara saksama. Pemeriksaan ini membutuhkan teknologi tersendiri karena untaian kabel-kabel di jembatan gantung yang tinggi dan terpisah-pisah. Sedangkan pemeriksaan jembatan cable stayed lebih mudah karena posisi kabel melekat pada tiang jembatan (pylon).

Perawatan jembatan secara intensif dan berkala telah membuat sejumlah jembatan gantung di AS, seperti Golden Gate di San Francisco, mampu bertahan lebih dari 70 tahun. Sedangkan Jembatan Tacoma Narrows yang baru sudah bertahan lebih dari 60 tahun.

Standar operasional

Menurut Pariatmono, pakar konstruksi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Indonesia perlu segara memiliki standar operasional ataupun perawatan jembatan yang disahkan oleh Menteri Pekerjaan Umum. Nantinya, dari standar operasional ini dibuat sertifikasi khusus bagi petugas operasional dan pengawas jembatan.

Jembatan gantung sangat rentan terhadap perubahan cuaca. Karena itu, jembatan perlu dikelola otoritas khusus yang memiliki wewenang mengoperasikan ataupun menghentikan sementara operasi jembatan dengan acuan utama keselamatan masyarakat penggunanya.

Otoritas khusus ini harus memiliki hubungan yang dekat dengan pengambil kebijakan setempat sehingga dapat diambil langkah cepat untuk menutup jembatan dalam kondisi darurat serta penyediaan anggaran untuk pemeliharaan dan perbaikan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau