Krisis papua

Dua Anggota Brimob Tewas Tertembak

Kompas.com - 04/12/2011, 02:23 WIB

Jayapura, Kompas - Konflik di Puncak Jaya, Papua, kembali menelan korban. Hari Sabtu (3/12), dua anggota Brigade Mobil dari Markas Besar Polri tewas dalam penghadangan oleh kelompok bersenjata di Kampung Wandegobak, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya.

Peristiwa yang juga mencederai seorang anggota Brimob Den-C Sorong itu menambah panjang daftar kasus penembakan oleh orang yang tidak teridentifikasi di wilayah Papua yang menewaskan aparat keamanan sejak awal tahun 2011.

Wakil Kepala Kepolisian Daerah Papua Brigadir Jenderal (Pol) Paulus Waterpauw mengatakan, penghadangan kemarin terjadi saat anggota Brimob itu kembali dari Tingginambut, Puncak Jaya. Sekitar pukul 13.00 WIT, sebanyak 15 personel Brimob berangkat ke Tingginambut menggunakan kendaraan patroli. Mereka hendak mengevakuasi dua anggota Brimob yang sakit, yakni Ipda Febriyan dan Bripda AR Syukur.

Perjalanan dari Mulia ke Tingginambut awalnya lancar. Namun, sekitar dua jam kemudian, ketika kembali dari Tingginambut, di sekitar Kali Semen, Kampung Wandegobak, pinggiran kota Mulia, rombongan itu dihadang kelompok bersenjata disertai rentetan tembakan.

Dalam penghadangan tersebut, Bripda Feriyanto Kaluku, anggota Satuan Gegana Mabes Polri, tewas setelah peluru mengenai leher dan tembus ke belakang. Sebuah tembakan juga mengenai pelipis kanan Bripda Eko Afriansyah, menyebabkan anggota satuan kesehatan Brimob Mabes Polri itu juga tewas.

AR Syukur tak luput dari tembakan. Sebutir peluru menembus paha kirinya.

Menurut Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Papua Komisaris Besar Wachyono, korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Umum Mulia. Anggota Brimob yang lain kemudian menyisir dan mengejar pelaku penghadangan.

Sudah berulang kali

Peristiwa penembakan terhadap aparat keamanan dengan pelaku yang tidak dikenal berulang kali terjadi di Papua sejak lima bulan terakhir. Sebelumnya, pada 24 Oktober, Kepala Kepolisian Sektor Kota Mulia Ajun Komisaris Dominggus Otto Awes tewas ditembak orang tak dikenal di Bandar Udara Mulia.

Sehari berikutnya, posko Brimob di kawasan Puncak Jaya dihujani tembakan. Meskipun tidak ada korban jiwa, penyerangan tersebut membuat warga cemas. Polisi memutuskan mengirimkan pasukan tambahan ke Puncak Jaya.

Penembakan di kawasan Puncak Jaya juga telah melukai beberapa anggota TNI dan polisi. Pada akhir Mei, anggota Kopassus, Sersan Satu Kamaru Jaman, cedera ditembak orang tak dikenal di Pasar Ilu.

Pada akhir Juni, anggota Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan Udara, Briptu M Yazin, ditembak dan senjatanya direbut saat berjaga di Bandara Mulia.

Pada Juli lalu, Prajurit Satu Lukas Kafiar, anggota TNI Angkatan Darat, tewas dalam kontak senjata di Kampung Yambi, Distrik Mulia.

Bahkan, pada Agustus lalu, kelompok bersenjata juga berani menembaki helikopter MI-17 milik TNI Angkatan Darat saat melintas di kawasan Puncak Senyum. Saat itu helikopter baru saja lepas landas dari Bandara Mulia untuk mengevakuasi anggota TNI yang luka akibat kontak senjata sehari sebelumnya.

Tidak kondusif

Menurut keterangan yang dihimpun dari masyarakat, situasi kota Mulia semalam mencekam. Beberapa honai (rumah tradisional di dataran tinggi Papua) di Kampung Wandegobak dibakar. Sejak pukul 18.00 WIT, masyarakat tidak berani keluar rumah. Anggota Brimob dengan menggunakan mobil patroli hilir mudik di jalan raya.

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution di Jakarta, Sabtu kemarin, menjelaskan, situasi di Puncak Jaya sebenarnya sudah relatif aman. Hanya saja, para penyerang menggunakan cara-cara penghadangan, memanfaatkan situasi ketika ada anggota polisi yang melintas di sekitar hutan.

Saud mengatakan, belum diketahui dari kelompok mana penyerang tersebut berasal. Polisi masih terus mengejar kelompok bersenjata itu.

”Kelompok bersenjata tersebut lari dan bersembunyi di hutan. Mereka tampaknya menguasai medan,” katanya.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto menyesalkan penghadangan oleh kelompok bersenjata terhadap aparat Polri yang sedang mengevakuasi anggota yang sakit malaria di Distrik Mulia.

”Penghentian tindakan kekerasan seharusnya juga dilakukan semua pihak,” kata Menko Polhukam dalam keterangan pers yang disampaikan di Jakarta, Sabtu petang, seperti dikutip Antara. (JOS/FAJ)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau