Jayapura, Kompas -
Peristiwa yang juga mencederai seorang anggota Brimob Den-C Sorong itu menambah panjang daftar kasus penembakan oleh orang yang tidak teridentifikasi di wilayah Papua yang menewaskan aparat keamanan sejak awal tahun 2011.
Wakil Kepala Kepolisian Daerah Papua Brigadir Jenderal (Pol) Paulus Waterpauw mengatakan, penghadangan kemarin terjadi saat anggota Brimob itu kembali dari Tingginambut, Puncak Jaya. Sekitar pukul 13.00 WIT, sebanyak 15 personel Brimob berangkat ke Tingginambut menggunakan kendaraan patroli. Mereka hendak mengevakuasi dua anggota Brimob yang sakit, yakni Ipda Febriyan dan Bripda AR Syukur.
Perjalanan dari Mulia ke Tingginambut awalnya lancar. Namun, sekitar dua jam kemudian, ketika kembali dari Tingginambut, di sekitar Kali Semen, Kampung Wandegobak, pinggiran kota Mulia, rombongan itu dihadang kelompok bersenjata disertai rentetan tembakan.
Dalam penghadangan tersebut, Bripda Feriyanto Kaluku, anggota Satuan Gegana Mabes Polri, tewas setelah peluru mengenai leher dan tembus ke belakang. Sebuah tembakan juga mengenai pelipis kanan Bripda Eko Afriansyah, menyebabkan anggota satuan kesehatan Brimob Mabes Polri itu juga tewas.
AR Syukur tak luput dari tembakan. Sebutir peluru menembus paha kirinya.
Menurut Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Papua Komisaris Besar Wachyono, korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Umum Mulia. Anggota Brimob yang lain kemudian menyisir dan mengejar pelaku penghadangan.
Peristiwa penembakan terhadap aparat keamanan dengan pelaku yang tidak dikenal berulang kali terjadi di Papua sejak lima bulan terakhir. Sebelumnya, pada 24 Oktober, Kepala Kepolisian Sektor Kota Mulia Ajun Komisaris Dominggus Otto Awes tewas ditembak orang tak dikenal di Bandar Udara Mulia.
Sehari berikutnya, posko Brimob di kawasan Puncak Jaya dihujani tembakan. Meskipun tidak ada korban jiwa, penyerangan tersebut membuat warga cemas. Polisi memutuskan mengirimkan pasukan tambahan ke Puncak Jaya.
Penembakan di kawasan Puncak Jaya juga telah melukai beberapa anggota TNI dan polisi. Pada akhir Mei, anggota Kopassus, Sersan Satu Kamaru Jaman, cedera ditembak orang tak dikenal di Pasar Ilu.
Pada akhir Juni, anggota Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan Udara, Briptu M Yazin, ditembak dan senjatanya direbut saat berjaga di Bandara Mulia.
Pada Juli lalu, Prajurit Satu Lukas Kafiar, anggota TNI Angkatan Darat, tewas dalam kontak senjata di Kampung Yambi, Distrik Mulia.
Bahkan, pada Agustus lalu, kelompok bersenjata juga berani menembaki helikopter MI-17 milik TNI Angkatan Darat saat melintas di kawasan Puncak Senyum. Saat itu helikopter baru saja lepas landas dari Bandara Mulia untuk mengevakuasi anggota TNI yang luka akibat kontak senjata sehari sebelumnya.
Menurut keterangan yang dihimpun dari masyarakat, situasi kota Mulia semalam mencekam. Beberapa
Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution di Jakarta, Sabtu kemarin, menjelaskan, situasi di Puncak Jaya sebenarnya sudah relatif aman. Hanya saja, para penyerang menggunakan cara-cara penghadangan, memanfaatkan situasi ketika ada anggota polisi yang melintas di sekitar hutan.
Saud mengatakan, belum diketahui dari kelompok mana penyerang tersebut berasal. Polisi masih terus mengejar kelompok bersenjata itu.
”Kelompok bersenjata tersebut lari dan bersembunyi di hutan. Mereka tampaknya menguasai medan,” katanya.
Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto menyesalkan penghadangan oleh kelompok bersenjata terhadap aparat Polri yang sedang mengevakuasi anggota yang sakit malaria di Distrik Mulia.
”Penghentian tindakan kekerasan seharusnya juga dilakukan semua pihak,” kata Menko Polhukam dalam keterangan pers yang disampaikan di Jakarta, Sabtu petang, seperti dikutip Antara.