Suatu Sore di Moskwa

Kompas.com - 07/12/2011, 06:57 WIB
OLEH: TRIAS KUNCAHYONO


SUATU sore, di Moskwa, Rusia. Kami berdua, Duta Besar Indonesia untuk Rusia Hamid Awaluddin dan saya, duduk di Restoran Le Pain, sebuah restoran Belgia yang khusus menyediakan minuman dan makanan dari cokelat.

”Bung, kapan pertama kali mengunjungi Rusia?” tanya Pak Duta Besar (Dubes) mengawali pembicaraan.

”Tahun 1993, dua tahun setelah Uni Soviet ambruk,” jawab saya. ”Dan, ini kunjungan saya yang keempat.”

”Wah, hebat dong, bisa membandingkan situasi sekarang dan tahun-tahun awal setelah Uni Soviet bubar,” kata Pak Dubes.

Dari sinilah kami mengobrol soal Rusia. Sekarang ini, jangan lagi membayangkan Moskwa seperti awal tahun 1990-an, setahun dua tahun setelah pembubaran Uni Soviet, yang serba muram. Belum banyak tempat yang bisa bebas dikunjungi. Belum banyak rumah makan.

Moskwa sekarang adalah Moskwa yang ceria. Jalan-jalan di ibu kota Rusia itu sama dengan di Jakarta, macet. Berbagai mobil buatan negara-negara Eropa Barat, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang sangat mudah ditemukan. Mobil buatan Rusia, seperti Lada, tergusur ke pinggiran. Kalaupun ada, di pusat kota juga tidak banyak.

Akar-akar kapitalisme modern makin kokoh mencengkeram bumi Rusia. Lambang-lambang produk negara kapitalis begitu mudah ditemukan di Moskwa. Di butik-butik bergantungan produk-produk pakaian asal Perancis, Italia, dan Inggris. Sebut saja Celine, Christian Dior, Givenchy, Guy La Roche, Yves St Laurent, Pacco Rabane (Perancis). Atau Gianni Versace, Laura Biagiotti, Armani, Dolce & Gabana, Moschino, dan Gucci (Italia).

Moskwa memang telah berubah. Rusia berubah. Hasil pemilu parlemen hari Minggu lalu juga menjadi bukti perubahan itu. Rakyat sudah berani bersikap. Mereka tidak membabi buta mendukung partai yang berkuasa, Rusia Bersatu (United Russia), partainya Perdana Menteri Vladimir Putin.

Dalam Pemilu 2007, Rusia Bersatu merebut 315 dari 450 kursi Duma Negara. Namun, menurut hitungan awal komisi pemilu, dari 95 persen suara yang sudah dihitung, Rusia Bersatu kehilangan 77 kursi menjadi 238 kursi. Berarti, tak lagi menguasai dua pertiga kursi di Duma Negara.

Padahal, menurut para pengamat internasional, banyak kecurangan dilakukan partai berkuasa. Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) menyatakan, pada umumnya pemilu ”dilaksanakan secara baik”, tetapi ada persoalan dalam penghitungan suara. Itulah yang mendorong ribuan orang turun ke jalan menuntut pemilu yang bersih, jujur, dan adil.

Yang menarik justru perolehan kursi Partai Komunis bertambah. Semula partai ini hanya memiliki 57 kursi, sekarang, menurut komisi pemilu, mereka merebut 92 kursi. Bukan hanya Partai Komunis yang memperoleh lebih banyak kursi, melainkan juga Partai Just Russia yang meraih 64 kursi, dari sebelumnya 38 kursi, dan Partai Demokratik Liberal Rusia yang memperoleh 56 kursi dari sebelumnya 40 kursi.

Hasil sementara ini di satu sisi memberikan gambaran tentang keterbukaan Rusia, di sisi lain mencerminkan protes rakyat terhadap partai yang berkuasa. Mereka tidak puas dengan kondisi ekonomi yang stagnan dan tidak terpenuhinya janji-janji pemerintah. Apalagi Putin terang-terangan menginginkan kursi presiden lagi. Ia pernah menjadi presiden selama dua periode, 2000-2008.

Keputusan Putin itu, yang diprotes rakyat, menggambarkan bahwa Putin yang muncul sebagai penguasa 12 tahun silam ingin membangun sistem kekuasaan mirip sistem kekuasaan tradisional Rusia: pemerintahan autokratik satu orang. Kekuasaan terpusat pada satu orang: Putin!

Rusia dari zaman dulu hingga zaman komunis dikendalikan oleh satu orang: tsar dan sekretaris jenderal partai komunis. Meskipun Putin berpindah pos, dari presiden ke perdana menteri (dan sekarang ingin jabatan presiden lagi), oleh para pendukungnya dia disebut ”pemimpin nasional”.

Sejarawan Rusia, Medvedev, mengatakan, seorang pemimpin nasional mungkin menduduki suatu pos jabatan di pemerintahan, atau tidak sama sekali, tetapi yang pasti otoritasnya absolut. Ini seperti Joseph Stalin yang selama berkuasa, 1928-1953, tidak pernah menduduki satu jabatan pun di pemerintahan, tetapi kekuasaannya absolut.

”Suatu ketika Stalin ditanya ibunya untuk menjelaskan apa pekerjaannya,” kata Medvedev. ”Dan, Stalin menjawab, .... Yah, saya seperti tsar.... Sistem Putin sekarang ini seperti percampuran antara monarki absolut dan Stalin.” (The Christian Science Monitor, 29 November 2011).

Itulah yang ditentang rakyat Rusia. Dan, nanti, kalau mengobrol lagi di Restoran Le Pain, akan saya katakan, ”Pak Dubes, Rusia ternyata tidak berubah.”

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau