Betapa murahnya harga nyawa manusia. Mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia, Ahmad Yoga Fudholi (19), tewas di tangan seniornya karena persoalan helm kusam warna hitam. Berdasar keterangan yang belum tentu benar dari juru parkir, EZ (24), mahasiswa UAI angkatan 2008 itu menuduh Yoga mencuri helmnya pada Selasa (6/12) siang di area kampus UAI.
EZ tersulut amarah, meneriaki Yoga ”Lo maling ya !” Yoga membantahnya, ”Bukan Bang.” Namun, bantahan itu tidak digubris EZ. Dibantu rekannya, DR (22), pukul 17.30, EZ menganiaya Yoga di lapangan sepak bola yang berjarak 200 meter dari Kampus Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) di Jalan Sisingamaraja, Jakarta Selatan.
EZ menggampar Yoga dua kali dengan helm pada leher sisi kanan. DR membantu memukuli Yoga hingga Yoga tidak berdaya. Kemudian Yoga jatuh telentang. Yoga adalah mahasiswa semester III Program Studi
Sejumlah mahasiswa UAI yang ada di sekitar lokasi berusaha menolong Yoga. Mereka membawanya ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta. Tidak dapat dipastikan kapan maut menjemput Yoga. Yang jelas, sesampainya di RSPP, Yoga sudah tidak bernyawa.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Budi Irawan mengatakan, pelaku penganiayaan dapat ditangkap polisi sesaat setelah peristiwa tersebut. Keduanya terancam hukuman maksimal 12 tahun penjara sesuai Pasal 170 Ayat 2 ke-3 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
”Mereka saat ini kami tahan di ruang tahanan Mapolres Metro Jakarta Selatan,” kata Budi.
Dari RSPP, jenazah Yoga dibawa polisi ke Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta untuk divisum. Hasil visum membuktikan adanya pukulan benda keras ke leher, kepala, perut, dan bagian tubuh lain, yang membuat Yoga kehilangan nyawanya.
Untuk melengkapi alat bukti, polisi meminta keterangan saksi AS, NA, ND, CP, ST, dan FA. Mereka adalah petugas keamanan, juru parkir, mahasiswa UAI, dan warga yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Kematian Yoga sungguh mengejutkan, terutama bagi kalangan internal UAI. Ari, alumnus Fakultas Hukum UAI, sengaja datang ke area kampus untuk memastikan kabar itu. Dia yang saat ini bekerja sebagai konsultan pajak tidak percaya ada mahasiswa UAI yang tewas karena berkelahi sesama mahasiswa. ”Setahu saya ada beberapa kali perkelahian di dalam kampus, tetapi tidak sampai membuat orang mati,” tutur Ari.
Sivitas akademika UAI pun kehilangan Yoga. Dalam website UAI ditayangkan berita yang berjudul ”UAI Kehilangan Salah Satu Putra Terbaiknya.” Sementara di halaman dalam kampus terbentang spanduk bertuliskan ucapan belasungkawa.
Yoga merupakan anak dari salah satu pengajar UAI, Zirmansyah. Adapun terkait dengan peristiwa kekerasan tersebut, pihak kampus sedang melakukan investigasi.
Kepala Biro Kemahasiswaan UAI Faisal Hendra mengatakan, jika ada yang terbukti melakukan kekerasan, mahasiswa itu terancam dikeluarkan. Namun, hal ini baru diputuskan setelah ada pembicaraan di tingkat pimpinan universitas. ”Kami menyesalkan peristiwa ini terjadi. Kami tidak tahu persis pada saat kejadian berlangsung. Kami baru tahu ada tindak kekerasan setelah ada mahasiswa kami meninggal dunia,” kata Faisal.