Terdata ada 275 bangunan tak berizin di puncak

Karena Helm Kusam, Nyawa Yoga Melayang

Kompas.com - 08/12/2011, 05:01 WIB

Betapa murahnya harga nyawa manusia. Mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia, Ahmad Yoga Fudholi (19), tewas di tangan seniornya karena persoalan helm kusam warna hitam. Berdasar keterangan yang belum tentu benar dari juru parkir, EZ (24), mahasiswa UAI angkatan 2008 itu menuduh Yoga mencuri helmnya pada Selasa (6/12) siang di area kampus UAI.

EZ tersulut amarah, meneriaki Yoga ”Lo maling ya !” Yoga membantahnya, ”Bukan Bang.” Namun, bantahan itu tidak digubris EZ. Dibantu rekannya, DR (22), pukul 17.30, EZ menganiaya Yoga di lapangan sepak bola yang berjarak 200 meter dari Kampus Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) di Jalan Sisingamaraja, Jakarta Selatan.

EZ menggampar Yoga dua kali dengan helm pada leher sisi kanan. DR membantu memukuli Yoga hingga Yoga tidak berdaya. Kemudian Yoga jatuh telentang. Yoga adalah mahasiswa semester III Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi, UAI.

Sejumlah mahasiswa UAI yang ada di sekitar lokasi berusaha menolong Yoga. Mereka membawanya ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta. Tidak dapat dipastikan kapan maut menjemput Yoga. Yang jelas, sesampainya di RSPP, Yoga sudah tidak bernyawa.

Hukuman

Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Budi Irawan mengatakan, pelaku penganiayaan dapat ditangkap polisi sesaat setelah peristiwa tersebut. Keduanya terancam hukuman maksimal 12 tahun penjara sesuai Pasal 170 Ayat 2 ke-3 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

”Mereka saat ini kami tahan di ruang tahanan Mapolres Metro Jakarta Selatan,” kata Budi.

Dari RSPP, jenazah Yoga dibawa polisi ke Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta untuk divisum. Hasil visum membuktikan adanya pukulan benda keras ke leher, kepala, perut, dan bagian tubuh lain, yang membuat Yoga kehilangan nyawanya.

Untuk melengkapi alat bukti, polisi meminta keterangan saksi AS, NA, ND, CP, ST, dan FA. Mereka adalah petugas keamanan, juru parkir, mahasiswa UAI, dan warga yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Kematian Yoga sungguh mengejutkan, terutama bagi kalangan internal UAI. Ari, alumnus Fakultas Hukum UAI, sengaja datang ke area kampus untuk memastikan kabar itu. Dia yang saat ini bekerja sebagai konsultan pajak tidak percaya ada mahasiswa UAI yang tewas karena berkelahi sesama mahasiswa. ”Setahu saya ada beberapa kali perkelahian di dalam kampus, tetapi tidak sampai membuat orang mati,” tutur Ari.

Sivitas akademika UAI pun kehilangan Yoga. Dalam website UAI ditayangkan berita yang berjudul ”UAI Kehilangan Salah Satu Putra Terbaiknya.” Sementara di halaman dalam kampus terbentang spanduk bertuliskan ucapan belasungkawa.

Yoga merupakan anak dari salah satu pengajar UAI, Zirmansyah. Adapun terkait dengan peristiwa kekerasan tersebut, pihak kampus sedang melakukan investigasi.

Kepala Biro Kemahasiswaan UAI Faisal Hendra mengatakan, jika ada yang terbukti melakukan kekerasan, mahasiswa itu terancam dikeluarkan. Namun, hal ini baru diputuskan setelah ada pembicaraan di tingkat pimpinan universitas. ”Kami menyesalkan peristiwa ini terjadi. Kami tidak tahu persis pada saat kejadian berlangsung. Kami baru tahu ada tindak kekerasan setelah ada mahasiswa kami meninggal dunia,” kata Faisal.

(Andy Riza Hidayat/Windoro Adi)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau