Menjaga nusantara

Menanam Benteng Puting Beliung

Kompas.com - 09/12/2011, 04:11 WIB

Oleh Mukhamad Kurniawan

Angin yang meniup kawasan Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Senin (28/11) sore, bagi Ucu (48), bukan angin biasa. Hanya belasan menit menerpa, tetapi sanggup mengoyak atap rumah serta menumbangkan pohon dan tiang listrik. Sebuah bangunan kayu di depan rumah Ucu pun ambruk.

Rupanya, angin sempat ”mampir” di beberapa kampung di sekitar rumah Ucu di Dusun Parakan Terus, Desa Kutapohaci, Kecamatan Ciampel. Dinas Sosial Kabupaten Karawang mencatat, 214 rumah di Desa Kutapohaci, Kutanegara, dan Mulyasari, Kecamatan Ciampel, rusak akibat tiupan angin kencang.

Angin kencang yang berputar, sering disebut puting beliung, juga dilaporkan melanda Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Karawang Barat, serta Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya. Beberapa hari kemudian di Rengasdengklok dan Jayakerta dalam skala lebih kecil. Tidak ada korban jiwa dalam sejumlah peristiwa itu.

Menurut catatan Kompas, bencana angin serupa berulang menimpa kawasan utara Jawa Barat beberapa tahun terakhir. Sedikitnya 40 rumah di Patokbeusi, Kabupaten Subang, rusak akibat terjangan angin, 9 Januari 2008 lalu. Pada 25 Desember 2009, angin merusak 304 rumah yang tersebar di sejumlah desa di Kecamatan Tirtamulya, Lemahabang, dan Telagasari, Kabupaten Karawang. Dua warga mengalami luka ringan tertimpa genteng.

Puting beliung juga merusak 230 rumah di enam desa di Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang, pada 7 Januari 2010. Kemudian, 103 rumah di Kelurahan Tanjungmekar dan Tanjungpura, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang, dan memaksa 23 warga mengungsi pada 1 Maret 2010.

Selain Karawang dan Subang, beberapa kabupaten di Jawa Barat tergolong sebagai langganan bencana angin, antara lain Bandung, Bogor, dan Cianjur. Dalam indeks rawan bencana angin topan, beberapa kabupaten itu termasuk dalam jajaran 20 besar nasional bersama Banyumas, Cilacap, Boyolali, Pati (Jawa Tengah), Kota Yogyakarta (Yogyakarta), Kupang, Timur Tengah Utara (Nusa Tenggara Timur), Lebak (Banten), serta Kediri, Sidoarjo, Jember, Tulungagung, dan Situbondo (Jawa Timur). Indeks menunjukkan tingkat kerawanan bencana yang disusun berdasarkan jumlah korban meninggal, luka-luka, kerusakan rumah serta fasilitas umum dan infrastruktur, serta kepadatan penduduk.

Meningkat

Bencana hidrometeorologi, yakni bencana yang dipengaruhi cuaca seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, dan puting beliung, semakin meningkat belakangan ini. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, jumlah bencana hidrometeorologi meningkat dari 134 kejadian tahun 2002, 714 kejadian 2006, 1.055 kejadian tahun 2008, dan meningkat jadi 1.921 kejadian pada 2010.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, perubahan iklim global sangat nyata berpengaruh terhadap bencana di Indonesia. Kecenderungan naiknya jumlah kejadian bencana yang dipengaruhi cuaca seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, dan puting beliung, menunjukkan pengaruh tersebut.

Secara akumulatif, hingga akhir November 2011, bencana hidrometeorologi di Indonesia mencapai 608 kejadian. Namun, angka itu diyakini bertambah karena belum semua laporan dari instansi terkait selesai direkapitulasi. Data sementara dikumpulkan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) ke BNPB.

Sutopo menambahkan, sejalan dengan bencana hidrometeorologi lain, jumlah kejadian, sebaran, dampak, dan intensitas puting beliung di Indonesia juga bertambah. Jika pada tahun 2002 puting beliung tercatat 14 kali dengan 2.076 rumah rusak, tahun 2010 tercatat 339 kejadian dengan 13.226 rumah rusak. Hingga akhir November 2011, puting beliung terjadi 185 kejadian.

Puting beliung adalah angin yang berputar dengan kecepatan 60-90 kilometer per jam atau lebih yang timbul akibat perbedaan tekanan sangat besar dalam area skala sangat lokal yang terjadi di bawah atau di sekitar awan kumulonimbus. Dulu angin yang merusak ini hanya dikenal di beberapa tempat, seperti angin gending di Jawa Timur, bahorok di Sumatera Utara, kumbang di Jawa Barat, dan brubu di Sulawesi Selatan.

Puting beliung biasa terjadi pada transisi dari musim kemarau ke penghujan dan sebaliknya. Peningkatan kejadian disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain peningkatan temperatur di bumi yang menyebabkan tinggi lapisan troposfer di daerah tropis semakin tinggi.

Tanam pohon

Sistem peringatan dini puting beliung belum banyak dikembangkan. Sifatnya yang lokal menyebabkan persebarannya acak dan terjadi dalam tempo yang cepat. Angin ini biasanya terjadi kurang dari satu jam dan lebih sering terjadi siang hari di dataran rendah.

Beberapa gejala awal puting beliung yang perlu dikenali, antara lain udara terasa panas dan gerah, tampak pertumbuhan awan kumulus (awan putih bergerombol yang berlapis-lapis) di langit, dan di antara awan itu ada satu jenis awan mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol. Awan kemudian berubah warna dari putih menjadi hitam pekat (kumulonimbus). Angin bertiup semakin kencang dengan ditandai daun dan ranting pohon yang bergoyang.

Penghijauan, penataan ruang, dan penguatan konstruksi rumah diyakini dapat mengurangi ancaman puting beliung.

Sejumlah warga Kabupaten Karawang, sebagian korban puting beliung, yakin bahwa pohon mampu meredam kecepatan dan daya rusak angin. Seperti karang dan beton pemecah gelombang laut, pohon-pohon keras yang tumbuh menjulang di sekitar permukiman mampu mengurangi dan memecah kekuatan angin. Dampak kerusakan yang ditimbulkan pun lebih ringan.

Wandi (58), warga Desa Kutapohaci, Ciampel, mengatakan, kerusakan parah dialami rumah atau bangunan yang bersebelahan dengan hamparan sawah. Angin kencang datang dari area terbuka dan mengarah ke permukiman. ”Pohon-pohon jadi pelindung kampung,” ujarnya.

Ketua Masyarakat Pesisir Pencinta Lingkungan Hidup di Desa Muara Baru, Kecamatan Cilamaya Wetan, Ratim Suterjo (42), senada dengan itu dan mempelopori penanaman pohon di ekosistem mangrove desanya. Buktinya, selain meredam gelombang laut, deretan pohon bakau, api-api, kapidada, dan lainnya, mampu melindungi permukiman warga dari angin kencang yang datang dari arah laut.

Sejumlah instansi pemerintah menggalakkan penanaman pohon beberapa tahun ini. Terakhir, tujuh organisasi perempuan, antara lain Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu, menanam ribuan bibit pohon di Situ Cipule di Desa Mulyasari, Kecamatan Ciampel, Jumat (2/12). Selain mendukung Gerakan Penanaman dan Pemeliharaan Pohon 1 Miliar, program penanaman itu diharapkan menghijaukan kawasan Cipule 54,1 hektar, meningkatkan kunjungan wisata, serta fungsi ekologi kawasan untuk mengurangi dampak bencana alam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau