"Anda Benar-benar Raja Krakatau..."

Kompas.com - 13/12/2011, 23:20 WIB

KOMPAS.com — Tukirin Partomihardjo biasanya tinggal di kepulauan gunung api tanpa penduduk itu selama satu atau dua minggu, tetapi pernah juga hingga 45 hari. Pengalaman hidup sempadan maut di Krakatau tak membuatnya kapok. Saat itu, Tukirin dan tiga kru Zebra Film hendak membuat film dokumenter baru saja mendarat di pantai Anak Krakatau ketika tiba-tiba gunung api itu meletus hebat. Bom batuan pijar dan abu mengepung.

Mereka terjebak di pulau itu, sementara perahu nelayan yang mengantarkan mereka memilih menjauh karena ketakutan. "Kami tidak tahu bagaimana akhirnya bisa selamat. Semuanya lari Setelah agak reda, baru kami dijemput. Sampai sekarang saya masih menganggapnya keajaiban," kata dia.

Tukirin mendapat julukan "King of Krakatau", "Raja Krakatau". Julukan "Sang Raja Krakatau" ini awalnya dipopulerkan para peneliti dari Jepang.

Bagaimana Anda mendapat julukan ini?

Awalnya, profesor pembimbing saya di Universitas Kagoshima, yang kemudian pindah ke Universitas Kyushu, menceritakan tentang saya kepada mahasiswanya sebagai "orang kuat dari Krakatau". Mungkin maksudnya bercanda, tetapi waktu saya diundang ke Kyushu tiba-tiba saya diajak panco oleh salah satu mahasiswa di sana.

Dia masih muda dan badannya besar. Saya waktu itu sudah berumur 55 tahun, sedangkan dia berumur 29 tahun. Jadi, bisa dibayangkan, kalau panco, sekali dipegang pasti saya kalah. Tapi, dia rupanya sangat serius dan memaksa untuk membuktikan ucapan profesor pembimbing saya itu.

Lalu saya bilang, saya baru mau meladeni kalau kamu ke Krakatau karena saya terkenal sebagai orang kuat dari Krakatau. Singkat cerita, dia melakukan penelitian ke Krakatau dan begitu tiba di sana kembali dia menantang saya panco. Karena saya merasa kok anak muda kurang ajar, serius nantang orang tua panco, akhirnya saya kerjai dia. Saya mau panco di puncak Gunung Rakata.

Lalu kami berdua naik ke gunung, pagi-pagi berangkat dan berencana sampai jam 12 siang. Saya sudah pengalaman dan tahu medan, tetapi dia tidak tahu medan. Apalagi badannya besar, tidak cocok untuk mendaki gunung. Baru setengah perjalanan dia sudah menyerah. Saya paksa dia untuk naik, saya dorong dan tarik dia agar bisa naik sampai ke atas. Sampai tertatih-tatih. Akhirnya dengan tenaga yang tersisa dia sampai ke puncak.

Begitu sampai di atas, saya tawari untuk main panco. Tetapi, karena tangannya sudah rusak kena batu-batu dan duri akibat terperosok berkali-kali, akhirnya dia menyerah tanpa saya harus menyentuh tangannya. Dia pun mengaku kalah. Akhirnya kami turun dan saya anggap sudah tidak ada berita soal panco.

Tetapi saya salut dengan orang Jepang, dia begitu konsekuen. Begitu tiba di bawah, di depan banyak orang, tanpa malu-malu dia mencium kaki saya dan mengatakan,"Tukirin you are a real King of Krakatau."

Dari mana mendapat kekuatan fisik itu?

Saya rajin main "golf" sejak kecil. Golf bukan dengan tongkat, melainkan dengan sabit alias membabat rumput. Sebagai anak kedua dari 10 bersaudara, saya harus rajin membantu orangtua, petani penggarap. Mencari kayu bakar di hutan, mencangkul sawah, atau memanjat kelapa adalah kegiatan masa kecil saya. Lebih dari sekadar kekuatan ragawi, yang lebih penting adalah kekuatan mental. Sayangnya kekuatan mental ini sekarang banyak tak dimiliki anak-anak muda kita.

Apakah itu juga yang menyebabkan sulit mencari penerus?

Ya. Sampai sekarang saya belum menemukan penerus peneliti muda yang tertarik kepada Krakatau. Selain karena minimnya dukungan dana pemerintah, kalau saya perhatikan, daya juang yang muda-muda menghadapi tantangan alam itu agak kurang. Padahal, saya sebenarnya tidak bisa berenang, tetapi saya tidak kapok ke Krakatau walaupun ke mana-mana harus pakai pelampung. Saya hanya bisa berharap anak-anak muda kita agar bangkit, mau melihat sejarah bangsa, dan harus berani menghadapi tantangan. (AIK/INE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau