Film Iran Jadi Pembuka Festival Film Asia

Kompas.com - 14/12/2011, 15:02 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com--Film animasi Iran tentang gerakan sosial dan politik untuk mewujudkan demokrasi menjadi film pembuka dalam Festival Jogja-Netpac Asian Film Festival, Selasa.

Direktur Festival Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) Budi Irawanto mengatakan film animasi Iran berjudul The Green Wave karya Ali Samadi Ahadi berkisah tentang kemarahan, kesedihan, ketakutan selama waktu-waktu penting dalam sejarah Iran, dan menginformasikan dialog berkelanjutan tentang hak asasi manusia.

"Film Green Wave dari Iran menggambarkan gerakan sosial dan politik pada masa pemerintahan Presiden Ahmadinejad," kata dia saat membuka JAFF di Taman Budaya Yogyakarta, Selasa.

Dia mengatakan sutradara Film Green Wave Ali Samadi menggambarkan sekilas oposisi terhadap pemerintah sebagai revolusi hijau yang memenuhi jalan-jalan Teheran semasa pemilu Iran 2009.

Film itu menurutnya menjelaskan tentang harapan masyarakat yang menginginkan demokrasi dan kebebasan kandas pascakemenangan Ahmadinejad dalam pemilu.

Ia mengatakan film yang mengambil latar 2009 menggambarkan tindakan sewenang-wenang rezim Ahmadinejad terhadap para demonstran dan menyensor berbagai liputan jurnalis.

"The Green Wave mengulas kekacauan pascapemilu dan memberi gagasan tentang apa yang terjadi ketika kamera berhenti merekam," katanya.

Ia mengatakan film mengungkap peristiwa, konflik dan kondisi tak terkendali melalui saksi mata dan media jejaring sosial seperti, blog, tweeter, rekaman ponsel," katanya.

Menurutnya, film tersebut juga dilengkapi dengan hasil wawancara dengan tokoh Iran terkemuka, seperti, aktivis Hak Asasi Manusia dan nominasi pemenang nobel perdamaian Shirin ebadi, Ulama Syiah Mohsen Kadivar.

Ia mengatakan Sutradara Film The Green Wave Ali Samad Ahadi telah mengikuti berbagai festival film dan memenangkan penghargaan.

Menurut dia, film dokumenter berjudul Culture Clan dan Lost Children telah masuk dalam berbagai festival dan memenangkan penghargaan. "The Green Wave telah diputar di Sundance dan Berlin Film Festival," katanya.

Sementara, itu salah satu juri JAFF Nicholas Saputra mengatakan film tersebut menggambarkan peranan media sosial dalam gerakan perubahan sosial.

"Media sosial yang menampilkan berbagai informasi sangat berpengaruh terhadap perubahan sosial," katanya.

Nicholas mengatakan melihat film tersebut terasa melihat kejadian reformasi 1998. "Peristiwa politik dan gerakan sosial di Iran sudah lama terjadi dan berhubungan dengan peristiwa 1998," katanya.

Salah satu penonton film The Green Wave Anang mengatakan film tersebut tidak menampilkan informasi yang berimbang kepada penonton.

"Film seolah-olah hanya menampilkan gerakan sosial dan pendukungnya. Dalam film tidak ditampilkan pihak yang mewakili Ahmadinejad sebagai pihak yang dianggap jauh dari nilai-nilai demokrasi," katanya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau