”Bruuk”. Ellen Bawuna mengempaskan tubuhnya ke atas sofa ruang tamu rumahnya di Desa Sioban, Kecamatan Sipora Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
Perempuan paruh baya yang mengelola penginapan di Desa Sioban itu baru saja sampai dari Tuapejat, ibu kota Kabupaten Kepulauan Mentawai. Pakaiannya kotor terciprat lumpur jalanan.
Desa Sioban yang berada di Pulau Sipora merupakan pusat keramaian Kecamatan Sipora Selatan. Dengan menumpang kapal antarpulau yang bergerak lamban, dibutuhkan sekitar tujuh jam untuk mencapai daerah itu dari Kecamatan Sikakap di Pulau Pagai Utara.
Dari Tuapejat yang juga berada di Pulau Sipora, desa itu bisa dicapai sekitar tiga jam perjalanan. Namun, kapal antarpulau itu tidak mampir setiap hari ke Sioban, hanya dua kali sepekan.
Pasar, kantor polisi, masjid, gereja, dan sekolah bisa ditemukan di Sioban. Namun, jangan harapkan sinyal telepon seluler dalam kualitas prima. Hanya ada satu terminal VSAT yang diletakkan salah satu operator seluler di pekarangan warga bernama Rahmat Saputra. ”Itu hanya bisa mentransmisikan data atau suara delapan nomor telepon,” kata Rahmat.
Pemancar satelit mini bertenaga surya yang baru masuk pascabencana tsunami pada 25 Oktober 2010 itu juga kerap rewel. Pada siang hari nyaris tak ada sinyal yang didapatkan. Pada malam hari, sekalipun ada sinyal, tetap saja mesti berebut. Perangkat itu juga tak lepas dari gangguan sejumlah tangan jahil yang membuatnya kerap mengalami gangguan koneksi.
”Pernah ada warga memarahi saya ketika dia tidak bisa menelepon. Ketika saya jelaskan bahwa perangkat itu tidak pernah dimatikan dan saya tidak mendapatkan keuntungan apa-apa, baru dia paham,” kata Rahmat.
Untuk mengatasi masalah itu, sebagian warga pergi hingga ke perbatasan Desa Sioban dan Desa Saureinuk yang jaraknya lebih dari 8 kilometer sekadar untuk menangkap sinyal base transceiver station (BTS) dari Tuapejat.
Sambungan PSTN atau telepon kabel yang masuk sekitar 2004 juga setali tiga uang. ”Sinyalnya sering hilang,” kata Nani Samsudin, warga setempat.
Menurut Nani, banyak warga memutus sambungan telepon di rumah mereka karena kecewa. Selain sering putus, tidak tepatnya penghitungan tagihan pemakaian dan bocornya suara percakapan juga tak jarang terjadi.
Karena itulah, bagi kebutuhan yang sangat mendesak, perjalanan darat tetap harus dilakukan, seperti yang malam itu dilakukan Ellen.
”Tiga jam, tiga jam perjalanan. Sudah seperti pekerja proyek saja rupa saya ini,” kata Ellen sembari menunjuk penampilannya yang kusut saat ditemui belum lama ini.
Ojek
Perjalanan darat ditempuh Ellen dengan menumpang ojek sepeda motor. Biayanya Rp 150.000 sekali jalan. Padahal, hanya sekitar 50 kilometer jarak yang mesti ditempuh. Rusaknya badan jalan di sejumlah titik, atau bahkan badan jalan yang hilang, menjadi sebab utama memanjangnya waktu tempuh.P
Paginya, Kompas memutuskan mencoba rute yang ditempuh Ellen, tetapi dengan biaya yang lebih mahal Rp 50.000. Pasalnya, sepeda motor yang digunakan jenis trail. Ini untuk berjaga-jaga karena malam sebelumnya hujan turun cukup lebat. ”Ke Tuapejat Rp 200.000, ya, karena medannya off-road,” demikian penegasan Wandi, pemilik usaha ojek sepeda motor di Sioban.
Dikendarai Rahmat Saputra, sepeda motor Kawasaki KLX-150 warna hijau itu meluncur pelan menjauhi Desa Sioban. Hanya sekitar 8 kilometer jalan dengan permukaan beton yang berlubang-lubang bisa dilalui sebelum tantangan sesungguhnya dimulai.
Memasuki batas penghabisan perbatasan antara Desa Sioban dan Desa Saureinuk, jalan berlumpur yang merendam hingga setengah lingkar ban sepeda motor sudah memaksa penumpang turun. Ban pacul dengan tapak bergigi segi empat tak mampu mengatasi ganasnya medan. Itu ditambah dengan jalan setapak yang lebarnya nyaris sama dengan lebar tapak ban sepeda motor. Kanan-kiri jalan dibatasi hutan dan rimbunnya semak belukar.
Lepas sekitar 3 kilometer tantangan itu, perkampungan di Desa Matobek jadi pemandangan selanjutnya. Lalu, perjalanan mesti dilanjutkan dengan menyusuri pinggir pantai antara kawasan Matobek dan Rokot karena badan jalan yang hilang.
Itu mesti dilakukan dengan perhitungan tepat saat surutnya air laut, harus dilakukan sebelum pukul 11.00. Pemandangan laut lepas pada ruas ini lumayan menyegarkan sebelum memasuki lagi tantangan jalan hancur setelah Bandara Rokot.
Bandara Rokot sementara ini berhenti beroperasi. Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kepulauan Mentawai Eliza Murti mengatakan, bandara tersebut untuk sementara tidak lagi aktif menyusul diberlakukannya pembekuan izin operasional sementara maskapai Nusantara Buana Air.
Hal itu menyusul musibah jatuhnya pesawat yang dioperasikan maskapai tersebut di pegunungan kawasan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, akhir September lalu. Sebelumnya, maskapai itu terbang dua kali dalam sepekan dari Bandara Internasional Minangkabau di Kabupaten Padangpariaman ke Bandara Rokot.
Eliza menambahkan, Bandara Rokot pun tengah diusulkan untuk diperkuat dengan sejumlah bandara baru. Hal itu terkait dengan kondisi landasan pacu Bandara Rokot, yaitu dari sekitar 850 meter, saat ini tinggal sekitar 600 meter yang masih bisa dikategorikan baik. Abrasi juga mengancam bandara di pinggir pantai tersebut.
Jalan hancur yang kembali ditemui setelah kawasan Rokot banyak membuat sepeda motor tumbang. Sepeda motor jenis trail yang kami tumpangi pun terjebak beberapa kali dalam pekatnya lumpur. Tak kurang lima kubangan lumpur yang disebut hole harus kami lewati di ruas itu.
”Tolonglah bilang kepada bupati soal jalan ini, Bang,” kata sekelompok remaja yang frustrasi mengatasi motor mereka saat terjebak lumpur di ruas itu.
Badan jalan baru bisa dilewati sekitar 20 kilometer menjelang Tuapejat. Proyek pengerasan badan jalan sedang dilakukan pada sebagian ruas di antaranya oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Eliza mengatakan, proyek perbaikan dan pembukaan jalan akses itu tengah dilakukan. Sekalipun badan jalan sudah ada sewaktu perusahaan hak pengusahaan hutan masih beroperasi di wilayah pulau itu, saat ini pemerintah seperti membangun dari nol karena kondisi jalan yang nyaris tiada.
Akibatnya, warga yang memaksa melewatinya harus rela berakhir seperti Ellen, terutama jika hujan turun.
”Memang kalau mau lewat jalan darat dari Sioban ke Tuapejat sebaiknya menunggu saat musim panas atau ketika hujan sekalian. Jadi, lumpurnya tidak terlalu pekat,” tutur Reminiscere Sakeru (26) yang tinggal di Tuapejat.
Selain lewat jalur darat atau menunggu jadwal kapal antarpulau, warga memang bisa menggunakan perahu bermesin untuk menyeberang. Akan tetapi, biaya yang dibutuhkan relatif tinggi, terutama jika bahan bakar minyak langka.
”Untuk sekali berlayar itu dibutuhkan biaya sekitar Rp 850.000. Nah, bandingkan jika naik ojek sepeda motor, misalnya,” kata Rahmat berteori.
Akses jalan darat di Mentawai agaknya memang tak bisa ditawar lagi.